 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Kesibukan KeSEMaTERS Menjelang Mangrove REpLaNT 2009
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Lihatlah foto di samping, ini. Inilah foto kami pada saat tiga minggu menjelang Hari H pelaksanaan Mangrove REpLaNT 2009: Seminar Nasional, Pelatihan dan Penanaman Mangrove. Foto pertama (kiri atas) memperlihatkan para KeSEMaTERS sedang merapatkan berbagai hal detail, berkaitan dengan MR 2009, di Kantor KeSEMaT. Di Kantor kami yang kecil nan bersahaja, terletak jauh dari hingar bingar dan kebisingan jalanan Ngesrep – Semarang yang sibuk, yang berada di seputaran area kampus Universitas Diponegoro (UNDIP), para KeSEMaTERS bisa dengan nyaman bekerja siang-malam, mempersiapkan gelaran akbar MR 2009. Rapat-rapat MR 2009, menjelang penyelenggaraan MR 2009, lebih difokuskan untuk mematangkan konsep acara dan konfirmasi beberapa buah proposal kegiatan dan sponsoship MR 2009 yang telah disebar jauh-jauh hari, sebelumnya. Tak hanya itu, rapat juga mendiskusikan tentang konsep koordinasi Panitia MR 2009, agar bisa menjamu Pembicara dan Peserta MR 2009 secara maksimal.
Maka, untuk persiapan “penjamuan” tersebut, Panitia MR 2009 yang sebagian besar adalah para mahasiswa dan generasi muda pecinta mangrove ini, rela mengisi hari liburnya untuk bekerja, bekerja dan bekerja demi mangrove dan “mengabaikan” hari liburan semesterannya bersama keluarganya. Sungguh, sebuah pekerjaan yang sangat mulia.
Tak hanya rapat, survei lokasi dan program sosialisasi MR 2009 ke berbagai pihak terkait, juga telah kami lakukan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik (lihat foto di atas).
Sampai dengan artikel ini ditulis, formulir pendaftaran Peserta MR 2009 sudah mulai kami terima, baik yang mendaftar secara langsung ke Kantor KeSEMaT, maupun via email di Jaringan KeSEMaTONLINE. Para calon Peserta MR 2009 berasal dari hampir seluruh wilayah di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda seperti pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, LSM dan dinas pemerintah.
Selanjutnya, alasan mereka ingin mengikuti MR 2009 sangatlah beragam, namun rata-rata memiliki satu kesamaan, yaitu ingin mengetahui tentang metode pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove yang baik dan benar, untuk diimplementasikan di daerahnya masing-masing.
Sampai dengan tanggal 14 Juli 2009, Panitia MR 2009 masih memberikan kesempatan kepada para calon Peserta MR 2009 lainnya, yang berminat mengikuti program konservasi KeSEMaT yang bertujuan untuk memberikan pelatihan pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pembuatan makanan dan minuman mangrove, sekaligus juga untuk membantu masyarakat Desa Tanggul Tlare Jepara dalam menyelamatkan desa dan tambaknya dari gerusan abrasi. Ayo, daftar MR 2009, SEKARANG JUGA! Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
Sikap Apriori Terhadap Program dan Proyek Rehabilitasi Mangrove di Pesisir Indonesia
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Setelah membaca dan mencermati ratusan artikel yang ada di Jaringan KeSEMaTONLINE, muncul satu-dua pandangan sinis yang dilontarkan oleh para penikmat Jaringan KeSEMaTONLINE kepada sebagian pelaku Program dan Proyek Rehabilitasi Mangrove di Pesisir (P2RMP) negara ini, yang mereka “tuduh” tidak serius dalam menjalankan P2RMP, tersebut. Mereka menganggap bahwa yang dilakukan oleh pelaku P2RMP itu, hanyalah sebuah jalan untuk mengeruk keuntungan semata yang mengatasnamakan P2RMP, - yang katanya dijalankan demi kesejahteraan kehidupan mangrove dan masyarakat pesisir - namun tanpa mendapatkan hasil yang maksimal.
Pandangan seperti ini, menurut hemat kami muncul, karena memang di lapangan seringkali terjadi P2RMP yang gagal, dimana kelulushidupan bibit-bibit mangrove menjadi sangat minimal, pun kehidupan masyarakat pesisir yang diawal P2RMP, dijanjikan oleh pelaku P2RMP akan meningkat, namun tak juga kunjung menampakkan kesejahteraannya.
Melihat hal ini, menurut hemat kami, para pelaku P2RMP sebenarnya (semoga saja) memiliki niat dan itikad yang baik untuk membantu keselamatan mangrove di pesisir-pesisir kita. Kalaupun pada akhirnya, di tengah jalan, P2RMP tersebut terkesan hanya main-main saja, dengan tanpa mengindahkan metode pembibitan, penanaman dan pemeliharaan bibit mangrove yang benar misalnya, maka seharusnya hal seperti itu dijadikan sebuah evaluasi dan pembelajaran yang sangat berharga bagi para pelaku P2RMP tersebut, sebelum menyelenggarakan P2RMP- P2RMP, selanjutnya.
Namun demikian, sikap apriori dari para penikmat Jaringan KeSEMaTONLINE kepada para pelaku P2RMP, kami rasa juga tidak harus dilakukan secara berlebihan mengingat para pelaku P2RMP sudah sangat bekerja keras dalam melaksanakan P2RMP, apalagi untuk mengkoordinasikan P2RMP kepada berbagai pihak yang terlibat, juga tidaklah mudah. Justru, yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah solusi atas sinisme mereka, agar para pelaku P2RMP bisa bekerja lebih baik lagi, di masa mendatang.
Adanya sebuah sikap bijaksana dari penikmat KeSEMaTONLINE dalam menghadapi kinerja yang tidak sempurna dari para pelaku P2RMP, bisa diwujudkan dengan cara memberikan komentar dan informasi berupa solusi yang membangun kepada para pelaku P2RMP dan tak hanya kritik, saja. Sikap bijaksana lainnya yang bisa juga ditunjukkan misalnya adalah dengan tidak menghakimi terlebih dahulu terhadap cara pembibitan yang asal-asalan, metode penanaman yang kurang benar, perijinan lokasi yang diabaikan, program pemeliharaan yang tidak dijalankan dan lain-lain, sebelum P2RMP benar-benar selesai dilaksanakan. Perlu disadari bahwa untuk mencapai kesempurnaan P2RMP dibutuhkan waktu. Dan, waktu itu tidaklah sebentar melainkan lama, menunggu sinkronisasi dari semua pihak yang terlibat dalam P2RMP dan pertumbuhan bibit-bibit mangrovenya, sendiri.
Sebagai penutup, dibalik “tuduhan tendensius” dari para penikmat KeSEMaTONLINE kepada para pelaku P2RMP, semoga saja hal ini tidak lantas mengurangi niat kita semua untuk selalu mendukung para pelaku P2RMP dalam menyelenggarakan P2RMP di pesisir Nusantara tercinta. Kita harus selalu mendukung mereka, bagaimanapun bentuk P2RMP-nya. Satu P2RMP yang dilaksanakan walaupun kurang berhasil, tentu saja akan lebih baik daripada kita tidak melakukan P2RMP sama sekali, apalagi tak melakukan tindakan apapun, padahal kita tahu bahwa mangrove di pesisir kita sudah sangat “sekarat” dan membutuhkan pertolongan, kita. Semoga ke depan, kita bisa lebih bijak dalam bersikap. Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
Lagi, Dua KeSEMaTERS Meraih Penghargaan Internasional dari BAYER Jerman dan PEMSEA Philipina
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada bulan Juli 2009 ini, lagi-lagi KeSEMaT mencetak prestasi membanggakan berupa penghargaan tingkat internasional karena dua orang anggotanya, yaitu para KeSEMaTERS telah berhasil meraih prestasi internasionalnya. Kedua KeSEMaTERS tersebut adalah Arief Marsudi Harjo – Arief (KAK) dan Sapto Pamungkas – Sapto (Alumni) yang berturut-turut menjadi finalis dalam kompetisi “The Ocean, My Community, The Coast - The East Asian Seas Congress Regional Photo Contest” (EASCRPC) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Negara Philipina yang bekerjasama dengan PEMSEA dan “Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2009” yang diselenggarakan oleh BAYER Jerman bekerjasama dengan United Nations Environment Programme (UNEP). EASCRPC merupakan kompetisi fotografi internasional yang diadakan dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan semangat mencintai alam dan ekosistem pesisir di tiap-tiap negara kepulauan di seluruh dunia terutama di Asia Tenggara. Lomba ini diikuti tak kurang dari puluhan peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Jepang, Philipina, Malaysia, Singapura, Vietnam dan lain sebagainya yang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pemula, hobby dan profesional.
Dalam kompetisi EASCRPC ini, Arief berhasil menjadi finalis setelah menyisihkan pesaingnya dari puluhan negara, dengan karya fotografinya yang berjudul “The Mangrove and The Sunset” – TMTS - (lihat foto Arief: kanan bawah dan hasil fotografinya: kiri bawah) untuk kategori pemula, sehingga mendapatkan hadiah berupa pena dan tas eksklusif dari PEMSEA Philipina serta berhak untuk maju ke babak penjurian selanjutnya. Foto TMTS ini juga akan dicetak dalam Kalender PEMSEA 2009, Majalah Tropical Coast International, dan dipublikasikan dalam Website PEMSEA serta menjadi salah satu fotografi yang dimasukkan dalam setiap souvenir Seminar Internasional PEMSEA tentang Pesisir yang akan diselenggarakan oleh Pemerintah Philipina di bulan November 2009, mendatang.
Selanjutnya, BYEE merupakan program tahunan yang diadakan oleh BAYER Jerman bekerjasama dengan UNEP. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada kaum muda cemerlang di Indonesia, yang memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup serta memperlihatkan komitmen tinggi terhadap pelestarian lingkungan untuk mempelajari teknologi, fasilitas dan praktik-praktik yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan, yang saat ini tersedia di Jerman.
Setelah di tahun 2009, Muhamad Ikhsan Sri Hartadi (Alumni) berhasil menjadi Finalis BYEE 2008, kini Sapto (lihat foto Sapto: kanan atas dan sesaat setelah wawancara 12 besar di Kantor BAYER Jakarta: kiri atas) mencapai prestasi yang sama dalam BYEE 2009. Setelah berhasil menyisihkan pesaingnya dan terpilih menjadi 30 besar, Sapto kembali berhasil menyisihkan para mahasiswa dari berbagai Universitas dari seluruh Indonesia, seperti Prasetya Mulya Business School, Institut Teknologi Sepuluh November, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Tanjungpura, Universitas Jember, Institut Pertanian Bogor, Universitas Hasanuddin, Universitas Paramadina, Universitas Sanata Dharma, Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Katholik Soegijapranata dan Universitas Trunojoyo, untuk kemudian masuk menjadi finalis 12 besar.
Kedua belas finalis BYEE 2009 berasal dari UNDIP yang satu-satunya diwakili oleh Sapto Pamungkas, Institut Teknologi Bandung, Prasetya Mulya Business School, Universitas Indonesia, Universitas Tanjungpura, Universitas Jember, dan Institut Pertanian Bogor. Setelah terpilih menjadi finalis BYEE 2009, Sapto yang mengusung tema proposal-mangrove berjudul “Mangrove Camp: How to be a Farmer of Mangrove, a Producer of Mangrove Soap and a Chef of Mangrove Fruits” akan segera mengimplementasikan program Mangrove Camp di Mangrove REpLaNT (MR) 2009 yang akan diselenggarakan oleh KeSEMaT pada tanggal 24-26 Juli 2009 di Teluk Awur, Jepara. Setelah itu, Sapto juga akan mengikuti ECOCAMP sebagai salah satu rangkaian BYEE di Bogor pada bulan Oktober 2009, mendatang.
Atas prestasi kedua KeSEMaTERS ini, Keluarga Besar KeSEMaT dan Civitas Akademika UNDIP mengucapkan selamat, dukungan penuh dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Sapto dan Arief yang telah berhasil mengharumkan dan mengangkat nama KeSEMaT, UNDIP dan tema mangrove ke dunia internasional sehingga salah satu moto KeSEMaT, yaitu KAMPANYE, lagi-lagi tercapai dan mencapai keberhasilan tertingginya. Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
Dua Pendekatan Proyek Rehabilitasi Mangrove
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Apabila kita bekerja dalam dunia mangrove, maka setidaknya terdapat dua buah pendekatan dalam proyek rehabilitasi mangrove yang ada di negeri ini. Ada satu institusi yang seringkali menjalankan proyeknya dengan cara menyosialisasikan anggarannya terlebih dahulu, baru kemudian memberitahukan konsep proyek rehabilitasi mangrovenya ke masyarakat. Sementara itu, ada juga institusi lainnya yang lebih memilih untuk mengedepankan program sosialisasinya terlebih dahulu, baru kemudian menginformasikan tentang anggarannya. Tak berusaha untuk membandingkan mana yang lebih baik, memang kedua konsep ini, sejatinya sah-sah saja apabila diterapkan. Toh, tujuan akhirnya adalah sama, demi menyejahterakan kehidupan masyarakat pesisir kita.
Namun, kiranya perlu diingat bahwa apabila pilihan pertama yang dijalankan, maka sebuah kekhawatiran akan adanya ketidaktulusan dalam menjalankan proyek rehabilitasi mangrove, kecuali karena uang semata, kiranya patut dicatat dengan tinta merah. Anggaran dana yang dilontarkan duluan, agaknya akan menjadikan sebuah iming-iming besar yang bisa saja mengaburkan jiwa-jiwa swadaya masyarakat pesisir.
Hal seperti ini, dalam jangka panjang ditakutkan akan bisa merubah persepsi masyarakat akan pentingnya sikap berswadaya dan bergotong royong dalam mengelola kawasan pesisirnya. Padahal, setiap kali diadakan, tujuan utama proyek rehabilitasi mangrove adalah untuk memupuk jiwa gerakan moral masyarakat pesisir kita agar mau dan mampu berusaha mengelola kawasan pesisirnya dengan usahanya sendiri tanpa terlalu menggantungkan bantuan orang lain.
Selanjutnya, pilihan kedua, sepertinya lebih tepat untuk dilakukan karena sangat membuka kesempatan bagi hadirnya sebuah inisiatif dari warga pesisir sendiri untuk mau bekerja secara mandiri tanpa mengandalkan uang semata. Tanpa diiming-imingi dengan anggaran, sebuah data tentang kondisi ekosistem mangrove yang ada di daerah mereka yang disosialisasikan terlebih dahulu, diharapkan bisa memancing reaksi mereka untuk bersikap proaktif dalam memecahkan permasalahan sehingga timbul rasa tanggung jawab terhadap alam pesisirnya dengan usahanya sendiri.
Sebuah kasus yang bisa dipastikan terjadi apabila pilihan pertama kita ambil adalah setelah proyek rehabilitasi mangrove selesai dijalankan - misalnya tiga tahun - maka, masyarakat dikhawatirkan akan malas menjaga kelulushidupan bibit-bibit mangrovenya karena dana sudah habis untuk membiayai jasa mereka dalam memelihara bibit-bibit mangrove, tersebut.
Sebaliknya, apabila pilihan kedua yang dipilih, maka walaupun dana telah habis untuk membayar honor warga dalam menjaga mangrove-mangrovenya, maka hal ini tidaklah menjadi sebuah masalah, karena warga bisa meneruskan program pemeliharaan mangrovenya secara mandiri dengan usahanya sendiri.
Pertanyaannya sekarang, pendekatan proyek rehabilitasi mangrove manakah yang akan kita pilih (?). Kami rasa, Anda sendiri sudah mengetahui mana pilihan yang lebih bijak. Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
KeSEMaT Menyosialisasikan Mangrove REpLaNT 2009 ke Mahasiswa Ilmu Kelautan UNDIP
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 28 Juni 2009, KeSEMaT telah melakukan sosialisasi Mangrove REpLaNT (MR) 2009 kepada para mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan (JIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Sosialisasi dimulai pada pukul 09.30 WIB – 10.00 WIB. Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Oky Yuripa Pradana (Anggota), Tutus Wijanarko (Anggota), Abdul Muis (Anggota), Afirman Karyono (Anggota), Hilyati Fajrina (Anggota) dan Aurora Hanifa. Sosialisasi dilakukan di ruang kuliah mahasiswa JIK UNDIP lantai III. Sosialisasi diawali dengan kata sambutan dari KeSEMaTERS yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi berupa informasi MR 2009. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan tanya jawab seputar MR 2009, berikut tata cara pendaftarannya baik secara langsung maupun online di internet. Dalam kesempatan ini, para mahasiswa JIK UNDIP selaku tuan rumah, menyambut baik penyelenggaraan MR 2009 dan menyatakan kesanggupannya untuk berpartisipasi dalam MR 2009 yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 – 26 Juli 2009 di Teluk Awur, Jepara.

|
|
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
40141 views
|
 |