 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Berita KeMANGTEER di Rubrik Komunitas SUARA MERDEKA 14 Maret 2010
|


Semarang – KeSEMaTBLOG. Bangga, terharu, dan senang adalah salah tiga dari sekian banyak rasa yang bercampur aduk di dalam dada kami, begitu membaca Harian SUARA MERDEKA (SM), Minggu pagi, 14 Maret 2010. Betapa tidak, komunitas sukarelawan mangrove KeSEMaT, yang bernama KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang baru saja resmi dilaunching pada tanggal 6 November 2009 di Kampus Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro ini, kini telah berhasil tumbuh dan berkembang dengan pesatnya, sehingga menarik perhatian dari SM untuk menulis tentangnya sekaligus mengangkat profilnya di Rubrik Komunitas SM Minggu.
Perlu diketahui bersama bahwa SM yang merupakan Koran Lokal Terbesar di Jawa Tengah, memang mencoba mengangkat komunitas-komunitas yang adan di Semarang dan sekitarnya melalui rubrikasi, dengan tujuan untuk menginspirasi dan menginisiasi para pembacanya terhadap perkembangan komunitas di Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah.
Selanjutnya, seperti yang ditulis SM dalam artikel yang berjudul “Mereka Yang Peduli Pada Mangrove” ini, bahwa KeMANGTEER saat ini memang berjumlah ribuan dan tersebar di seluruh Indonesia. Pengertian KeMANGTEER sendiri diartikan oleh KeSEMaT sebagai seseorang yang telah pernah mengikuti salah satu program konservasi, penelitian, pendidikan, kampanye dan dokumentasi mangrove KeSEMaT. KeMANGTEER terdiri dari individu peduli mangrove dengan latar belakang usia dan jenjang pendidikan yang berbeda, mulai dari SMP sampai dengan S2.
Banyaknya jumlah KeMANGTEER ini membuktikan, bahwa sebenarnya semangat konservasi mangrove di golongan akar rumput, sangatlah menggebu. Dengan demikian, walaupun ekosistem mangrove di Indonesia semakin hari semakin terancam keberadaannya, namun dengan adanya KeMANGTEER di setiap wilayah di Indonesia ini, semoga saja, sedikit banyak bisa turut membantu dan memberikan sumbangsihnya dalam mencegah kerusakannya.
Merunut sejarahnya, pembentukan KeMANGTEER sendiri, sebenarnya diawali dari sebuah wacana dari Departemen Pengembangan Organisasi (DEPORSI) KeSEMaT, untuk menciptakan sebuah wadah bagi para peserta program penyuluhan penanaman, pembiitan, dan pelatihan mangrove KeSEMaT, agar memiliki sebuah komunitas resmi berdampingan dengan KeSEMaT, sehingga lebih bisa mendalam lagi dalam menampung jiwa-jiwa konservasi mereka. Dan, seperti yang telah diinformasikan di atas, maka pada tanggal 6 November 2009, akhirnya wacana itu bisa terwujudkan.
Dengan ini, maka Keluarga Besar KeSEMaT mengucapkan SELAMAT kepada KeMANGTEER, karena berhasil mendapat perhatian dan “pengakuan” dari SM. Semoga komunitas sukarelawan mangrove ini, ke depan bisa lebih berkembang, sukses dan aktif lagi bersama KeSEMaT dan IKAMaT dalam merehabilitasi pesisir di Indonesia. Semangat KeMANGTEER! Semangat MANGROVER! 
|
|
|
|
 |
Pak Salim, Sang Profesor Mangrove dari Kepulauan Seribu
|


Kepulauan Seribu – KeSEMaTBLOG. Beberapa waktu yang lalu, di awal Maret 2010, kami sempat berkunjung ke Kepulauan Seribu, Jakarta dalam rangka kunjungan dan studi banding ke kawasan konservasi mangrove, di sana. Di suatu pagi, sebelum siang terlalu menjelang, bertempat di sebuah pulau bernama Pulau Pramuka, kami bertemu dengan Pak Salim (begitu sapaan akrab beliau), seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat sehat dan penuh semangat dalam melestarikan ekosistem mangrove di kawasan pesisirnya.
Pak Salim (lihat foto di atas) yang merupakan “juru kunci” mangrove di Pulau Pramuka, menyambut kami dengan hangat. Beliau terlihat sangat senang ketika kami bertanya perihal aktivitasnya dalam mengkonservasi mangrove di pulau yang konon berjumlah ribuan, ini. Sang Bapak memang telah lama bergelut dengan mangrove-mangrovenya. Bila dihitung-hitung, pengabdiannya sudah selama tiga kali masa pemerintahan Presiden Indonesia, berganti.
Ketika melihat kondisi mangrove di Pulau Pramuka mulai terdegradasi, dimana ratusan batang mangrove mulai ditebangi setiap hari, maka dengan sigapnya, beliau mencoba membibitkan dan menanam mangrove di sepanjang pesisir Pulau Pramuka, dengan harapan terjadi pemulihan habitatnya, di masa mendatang. Dan, akhirnya setelah bersusah payah dalam berjuang mempertahankan keanekaragaman mangrove di Pulau Pramuka, maka KALPATARU yang merupakan supremasi tertinggi bidang pelestarian lingkungan hidup-pun, berhasil diraih oleh bapak dari tiga orang putra, ini.
Selanjutnya, atas pengabdian, jasa dan perjuangan yang telah ditunjukkan oleh Pak Salim, maka masyarakat sekitar dan luar pulau, menyematkan sebutan Profesor, kepada beliau. Sebutan ini, memang tidak berlebihan. Nyatanya, Sang Profesor telah membuktikan bahwa buah dari ketekunan dan kerja keras yang telah beliau rintis sedari puluhan tahun yang lalu adalah manis. Untuk itulah, semangat, idealisme dan loyalitas terhadap pekerjaan beliau yang sangat mengagumkan, kiranya patut dijadikan suri tauladan bagi kita semua. Semangat MANGROVER! 
|
|
|
|
 |
Kunjungan Pocari Sweat ke Kantor KeSEMaT
|


Semarang, KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 10 Maret 2010, dua orang perwakilan dari produk minuman pengganti ion tubuh, yaitu Pocari Sweat (PS), telah berkunjung ke Kantor KeSEMaT, dalam rangka mengadakan penjajakan kerjasama dalam program rehabilitasi mangrove KeSEMaT, bertajuk MANGROVE RESTORATION (MANGRES) 2010 : Kampanye Simpatik, Penyuluhan dan Penanaman Mangrove di Kelurahan Trimulyo Semarang. Dalam kesempatan ini, pihak PS diwakili oleh Sdri. Resti dan Sdri. Nilam. Sementara itu, para KeSEMaTER diwakili oleh para staf menteri KeSEMaT yang dipimpin oleh Sdri. Aurora Hanifa (MENKORMAT) dan Sdr. Indriatmoko (DP).
Diskusi yang dimulai pada pukul 19.00 WIB – 20.00 WIB ini, membicarakan mengenai produk PS dan konsep acara MANGRES 2010 yang puncaknya akan dilakukan pada tanggal 20 Maret 2010. Di akhir diskusi, telah disepakati bersama adanya kerjasama antara KeSEMaT dengan PS, dalam turut serta menyukseskan MANGRES 2010. Pihak PS juga mengharapkan adanya sebuah kerjasama lanjutan yang akan diimplementasikan pada program-program kerja mangrove KeSEMaT di masa mendatang.
|
|
| March 10, 2010 | 11:03 AM |
|
|
 |
KeSEMaT di Rapat Sempadan Pantai Kementrian Kelautan dan Perikanan di Balaikota Semarang
|


Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 8 Maret 2010, KeSEMaT yang diwakili oleh Bapak Arief Marsudi Harjo (IKAMaT) dan Bapak Aris Priyono (IKAMaT), telah menghadiri Rapat Bimbingan Teknis (BINTEK) tentang Tata Cara Penetapan Batas Sempadan Pantai, yang diinisiasi oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan Pusat Jakarta, di Balaikota Semarang. Rapat yang dimulai pada pukul 09.00 WIB – 14.00 WIB ini, dihadiri oleh kurang lebih 30 stakeholder mangrove yang ada di Semarang dan sekitarnya.
Selain KeSEMaT, Rapat BINTEK dihadiri juga oleh 1. Kepala Dinas : Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah (Jateng), BAPPEDA Jateng, Kanwil BPN Jateng, Pariwisata Jateng, BLH Jateng, Kehutanan Jateng, Kelautan dan Perikanan Semarang, Tata Kota dan Perumahan Semarang, Pariwisata Semarang, BLH Semarang, Dinas Perhubungan Semarang, BPN Semarang, Dinas PSDA Semarang, Dinas Binamarga Semarang dan Dinas Pertanian Semarang; 2. Camat : Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara, Genuk, Semarang Timur dan Gayamsari; 3. Kepala LEMLIT : Universitas Diponegoro dan Sultan Agung Semarang; 4. LSM : BINTARI; 4. Kelompok Nelayan dan 5. Kelompok Petambak.
Dalam kesempatan ini, KeSEMaT memberikan kritisi sekaligus informasi terhadap Draft Peraturan Presiden Tentang Batas Sempadan Pantai yang telah disusun oleh Tim Teknis dari Direktorat Jenderal KP3K Kementrian Kelautan dan Perikanan Pusat Jakarta, bahwa untuk implmentasi 100 meter lebar sempadan pantai dari pasang tertinggi, di Semarang sangatlah sulit untuk diimplementasikan, mengingat pesisir Semarang sudah tidak memiliki lahan sebagai area sempadan pantai. Untuk itu, KeSEMaT meminta Tim Teknis agar bisa mempertimbangkan konsep silvofishery yang selama ini sudah dipraktekkan warga pesisir Semarang dan sekitarnya, sebagai solusi alternatif bagi pembangunan sempadan pantai, di pesisir Semarang dan sekitarnya.
Rapat diakhiri dengan sebuah kesimpulan mengenai akan dipertimbangkannya usulan dan masukan dari para peserta Rapat BINTEK, untuk dibawa oleh Tim Teknis ke tingkat pusat, sebagai sebuah rekomendasi bagi Draft Peraturan Presiden Tentang Batas Sempadan Pantai, sebelum kemudian benar-benar disahkan sebagai Peraturan Presiden. 
|
|
|
|
 |
Kecuali Pondbelt, Tidak Ada Greenbelt Lagi di Semarang
|


Semarang - KeSEMaTBLOG. Memang begitulah adanya. Faktanya, memang sudah tidak ada lagi greenbelt (baca: sabuk hijau) mangrove yang representatif di Semarang, kecuali pondbelt (baca: sabuk tambak) yang makin menggurita dan merajalela di sepanjang pesisirnya. Kondisi pantai yang ideal, sebagaimana diamanahkan dalam banyak peraturan pemerintah mengenai sabuk hijau atau sempadan pantai yang “mewajibkan” ketebalannya minimal 100 meter, sudah terabaikan dengan sendirinya, semenjak pembuatan sabuk tambak dimulai di jaman Hindia Belanda.
Walaupun di masa jayanya, sabuk tambak-sabuk tambak ini mampu menghidupi puluhan ribu petambak pun mengkayakannya, namun kini, sabuk tambak di Semarang adalah tanah-tanah gersang tak produktif yang keberadaannya bak hidup segan mati tak mau. Lihatlah di atas ini, inilah gambar salah satu titik pondbelt yang ada di Kecamatan Tugu, Semarang. Bahkan tak hanya di Tugu saja, di sepanjang pesisir Semarang yang kurang lebih memiliki panjang 21,6 km itu, kurang lebih pemandangannya adalah sama dengan foto ini.
Pohon-pohon mangrove yang seharusnya tumbuh dan berkembang lebat di lahan-lahan tambak tersebut, tak mungkin lagi bisa ditemui. Sejauh mata kita memandang, pantai-pantai di pesisir Semarang, telah terlindungi dengan baik dengan sabuk tambak. Sungguh menyedihkan!
Usaha untuk menghilangkan sabuk tambak ini dan merubahnya kembali menjadi sempadan pantai atau sabuk hijau mangrove yang lebat, adalah sebuah upaya yang saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan. Tak peduli mahasiswa, masyarakat, dinas, LSM, kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok petambak dan lainnya, semuanya turut berpartisipasi dalam pembuatan sempadan pantai dengan konsep silvofishery sebagai upaya penyelamatan pesisir pantai Tugu dari cengkeraman sabuk tambak.
Semoga saja, dengan usaha mereka ini, dalam beberapa tahun ke depan, inisiasi ini bisa berhasil, sehingga bisa merubah sabuk tambak menjadi sabuk hijau mangrove kembali, seperti di masa Hindia Belanda, dulu. Semangat MANGROVER!  
|
|
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
63738 views
|
 |