TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
KeSEMaT UNDIP - My Blog
KeSEMaT UNDIP - My Blog
« previous 5


Bukan senggolan dahsyat Trio Macan tapi goyangan maut Trio W!

Apabila di jagad hiburan tanah air, kita sudah sering mendengar nama-nama grup vokal trio, seperti Trio Libels, Trio Macan, Trio AB Three, Trio Kwek Kwek, Trio Moluccas dan Trio-trio lainnya, di dunia mangrove-pun istilah trio juga ada. Adalah Trio W, yang saat ini sedang membuat gundah sebagian besar masyarakat Surodadi Demak, Jawa Tengah. Siapakah Trio W? Apakah dia sama dengan Trio Macan yang memiliki senggolan dahsyat? Mengapa keberadaannya justru membuat resah masyarakat sana?

Trio W ternyata bukanlah penyanyi. Trio W juga bukanlah sekelompok orang, melainkan kumpulan Tiga Hama Pengganggu (THP) yang seringkali menyebabkan kerusakan mangrove di desa kecil, yang terletak kurang lebih tujuh kilometer dari Kota Demak, itu. Trio W adalah Wedhus (Kambing), Wideng (Kepiting) dan Wong (Orang).

Trio W memang ganas. Terbukti, pola manajemen yang telah apik diperlihatkan oleh masyarakat Surodadi, belum mampu untuk meredam “gempuran” THP ini. Desa Surodadi termasuk desa pesisir berprestasi. Di masa pemerintahan Gus Dur, desa ini meraih prestasi tingkat Nasional sebagai peraih penghargaan pemerintah untuk Intensifikasi Tambak (INTAM).

Kategori ini diberikan atas pencapaian masyarakatnya yang berhasil mengatur manajemen penggabungan antara tambak udang dan bandeng mereka dan mangrove dengan sangat baik. Lihatlah foto di atas, para KeSEMaTERS yang pada tanggal 26-27 Januari 2008 mengunjungi desa tersebut saat acara KeSEMaTOUR 2008: Pelantikan Anggota KeSEMaT Angkatan VIII Periode 2007/2008, nampak sedang beristirahat di bawah rimbunnya dedaunan mangrove yang tumbuh lebat di sekeliling tambak.

Seperti di Rembang, di sini, mangrove juga ditanam secara swadaya, dan sudah dioptimalkan fungsinya untuk pencegah abrasi pantai dan pembibitan mangrove untuk dijual ke masyarakat luas. Bedanya, tambak-tambak ikan di Desa Sudodadi, telah dikelilingi oleh mangrove dengan baik. Hal seperti ini, belum ditemukan di Rembang. Namun sayang, karena adanya Trio W, mangrove jenis Avicennia dan Rhizophora yang banyak mendominasi, kini terancam keberadaannya.

Menurut Ketua Kelompok Tani Mangrove yaitu Bapak Mastur, tantangan terbesar, justru datang dari W terakhir, yaitu Wong. Orang, manusia, atau oknum masyarakat setempat, masih saja ada yang belum sadar akan arti penting mangrove. Walaupun sebagian dari mereka sudah terbagi menjadi kelompok-kelompok nelayan, mangrove dan kelompok sosial lainnya, namun karena perbedaan kepentingan, mereka menebang mangrove demi kepentingan ekonomi.

Pola tebang mangrove ganti mangrove, memang juga sudah digalakkan, namun hasilnya tidak maksimal. Dari wawancara yang dilakukan oleh KeSEMaT, sanksi yang belum jelas dan pemakluman atas perbuatan penebangan mangrove karena faktor kasihan akan kondisi ekonomi, menjadi dua penyebab kekurangefektifan peraturan ini.

Akhirnya, perjalanan masyarakat Surodadi Demak dalam mengelola mangrovenya masih sangat panjang. Sebuah penghargaan INTAM tingkat Nasional, tak menjadi jaminan akan hilangnya permasalahan mangrove di desa tersebut. Kami hanya berharap, agar masyarakat pesisir Surodadi tetap memiliki semangat juang untuk bersama-sama memberantas Trio W sampai ke akar-akarnya.

Jangan sampai, mangrove yang telah terkelola dengan baik ini, menjadi rusak bahkan hilang, hanya gara-gara “goyangan maut” Trio W. Mari bersama, selamatkan mangrove kita. SEKARANG!

January 29, 2008 | 8:01 AM Comments  0 comments



Bukan senggolan dahsyat Trio Macan, tapi goyangan maut Trio W!

Apabila di jagad hiburan tanah air, kita sudah sering mendengar nama-nama grup vokal trio, seperti Trio Libels, Trio Macan, Trio AB Three, Trio Kwek Kwek, Trio Moluccas dan Trio-trio lainnya, di dunia mangrove-pun istilah trio juga ada. Adalah Trio W, yang saat ini sedang membuat gundah sebagian besar masyarakat Surodadi Demak, Jawa Tengah. Siapakah Trio W? Apakah dia sama dengan Trio Macan yang memiliki senggolan dahsyat? Mengapa keberadaannya justru membuat resah masyarakat sana?

Trio W ternyata bukanlah penyanyi. Trio W juga bukanlah sekelompok orang, melainkan kumpulan Tiga Hama Pengganggu (THP) yang seringkali menyebabkan kerusakan mangrove di desa kecil, yang terletak kurang lebih tujuh kilometer dari Kota Demak, itu. Trio W adalah Wedhus (Kambing), Wideng (Kepiting) dan Wong (Orang).

Trio W memang ganas. Terbukti, pola manajemen yang telah apik diperlihatkan oleh masyarakat Surodadi, belum mampu untuk meredam “gempuran” THP ini. Desa Surodadi termasuk desa pesisir berprestasi. Di masa pemerintahan Gus Dur, desa ini meraih prestasi tingkat Nasional sebagai peraih penghargaan pemerintah untuk Intensifikasi Tambak (INTAM).

Kategori ini diberikan atas pencapaian masyarakatnya yang berhasil mengatur manajemen penggabungan antara tambak udang dan bandeng mereka dan mangrove dengan sangat baik. Lihatlah foto di atas, para KeSEMaTERS yang pada tanggal 26-27 Januari 2008 mengunjungi desa tersebut saat acara KeSEMaTOUR 2008: Pelantikan Anggota KeSEMaT Angkatan VIII Periode 2007/2008, nampak sedang beristirahat di bawah rimbunnya dedaunan mangrove yang tumbuh lebat di sekeliling tambak.

Seperti di Rembang, di sini, mangrove juga ditanam secara swadaya, dan sudah dioptimalkan fungsinya untuk pencegah abrasi pantai dan pembibitan mangrove untuk dijual ke masyarakat luas. Bedanya, tambak-tambak ikan di Desa Sudodadi, telah dikelilingi oleh mangrove dengan baik. Hal seperti ini, belum ditemukan di Rembang. Namun sayang, karena adanya Trio W, mangrove jenis Avicennia dan Rhizophora yang banyak mendominasi, kini terancam keberadaannya.

Menurut Ketua Kelompok Tani Mangrove yaitu Bapak Mastur, tantangan terbesar, justru datang dari W terakhir, yaitu Wong. Orang, manusia, atau oknum masyarakat setempat, masih saja ada yang belum sadar akan arti penting mangrove. Walaupun sebagian dari mereka sudah terbagi menjadi kelompok-kelompok nelayan, mangrove dan kelompok sosial lainnya, namun karena perbedaan kepentingan, mereka menebang mangrove demi kepentingan ekonomi.

Pola tebang mangrove ganti mangrove, memang juga sudah digalakkan, namun hasilnya tidak maksimal. Dari wawancara yang dilakukan oleh KeSEMaT, sanksi yang belum jelas dan pemakluman atas perbuatan penebangan mangrove karena faktor kasihan akan kondisi ekonomi, menjadi dua penyebab kekurangefektifan peraturan ini.

Akhirnya, perjalanan masyarakat Surodadi Demak dalam mengelola mangrovenya masih sangat panjang. Sebuah penghargaan INTAM tingkat Nasional, tak menjadi jaminan akan hilangnya permasalahan mangrove di desa tersebut. Kami hanya berharap, agar masyarakat pesisir Surodadi tetap memiliki semangat juang untuk bersama-sama memberantas Trio W sampai ke akar-akarnya.

Jangan sampai, mangrove yang telah terkelola dengan baik ini, menjadi rusak bahkan hilang, hanya gara-gara “goyangan maut” Trio W. Mari bersama, selamatkan mangrove kita. SEKARANG!

January 29, 2008 | 8:01 AM Comments  0 comments



Kami bangga, tapi kami juga sedih

Minggu-minggu ini, pesan singkat yang masuk via KeSEMaTSHOUTMIX di KeSEMaTBLOG dipenuhi dengan pertanyaan proses rekruitmen KeSEMaT dan ada tidaknya cabang KeSEMaT di daerah-daerah di Indonesia. Beberapa pesan singkat tersebut antara lain adalah tersebut di bawah ini:

Ambar
“wahh.... hebat juga yach bisa ada komunitas ky gini. saya mw tanya dunk, boleh yeah... apa komunitas ini ada di jakarta?yg di muara angke.”

Yanti
“kenapa kesemat cuma ada di jateng?! kenapa kesematers harus punya latar belakang 'perikanan dan kelautan?!!”

Chah
“Salam Kenal, ada gak Kesemat cabang Sumatera, terutama untuk wilayah Sumatera Utara? Adakah Kesemat meneliti tentang mangrove di wilayah kami?”

Tak cuma tiga, pesan-pesan serupa juga sering kami terima melalui email, yang intinya sangat ingin bekerjasama dan bergabung menjadi Anggota KeSEMaT sehingga mereka bisa ikut serta menyelamatkan mangrove, layaknya KeSEMaTERS (lihatlah foto di atas, pada saat KeSEMaTERS bertemu dan bercengkerama dengan Kelompok Tani Mangrove Sidodadi Maju, Rembang). Namun demikian, karena keterbatasan manajemen kami, (mohon maaf sekali) untuk permintaan masyarakat yang menginginkan agar KeSEMaT bisa mengakomodir mereka sebagai KeSEMaTERS, belum bisa kami penuhi.

Mengapa demikian? Karena KeSEMaT masih dalam koridor Unit kegiatan mahasiswa (UKM) milik Universitas Diponegoro (UNDIP) sehingga belum bisa merekrut anggota, di luar mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Perikanan (JIK FPIK) UNDIP. Tak berdayanya kami dalam memenuhi aspirasi masyarakat menjadi seorang KeSEMaTERS inilah, yang membuat kami sedih. Kami merasa, kami telah menghalangi keinginan masyarakat yang berniat berpartispasi dalam menyelamatkan pesisirnya.

Kemudian, kami juga belum bisa membuka cabang di daerah-daerah lain di luar Semarang dan Jepara. Kami berpikir, masih banyak permasalahan yang wajib kami selesaikan di dua area kerja kami ini. Sebelum bisa menyelesaikan permasalahan mangrove di rumah kami sendiri, kami belum berniat untuk keluar dari Semarang dan Jepara. Namun demikian, apabila masyarakat berkeinginan agar KeSEMaT bisa membantu “membangun” ekosistem mangrove di daerahnya, dengan senang hati para KeSEMaTERS akan membantu. Apabila Anda cermati KeSEMaTBLOG, pengiriman KeSEMaTERS ke Kalimantan, Aceh, Nusa Tenggara, Sidoarjo, Sulawesi dan berbagai daerah di Indonesia adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh KeSEMaT demi membantu masyarakat “memelihara” mangrove di pesisir mereka.

Selanjutnya, apabila membaca dan mencermati tiga buah contoh pesan singkat tersebut di atas, terus terang kami bangga. Kami merasa, betapa ternyata begitu banyak orang yang perhatian dan “sayang” kepada KeSEMaT. Kami juga senang, karena di luar sana, tak sedikit pula masyarakat yang masih peduli dengan mangrove dan ekosistem pesisirnya sehingga ingin sekali bergabung dan atau bekerjasama dengan KeSEMaT.

Namun demikian, tak hanya senang dan bangga saja, tapi kami juga (kembali) sedih. Apa pasal? Karena dibalik semakin banyaknya apresiasi dan dukungan masyarakat Indonesia kepada kami, ternyata di “rumah” kami sendiri, di JIK FPIK UNDIP, kami tak mendapatkan dukungan “yang layak” dari para mahasiswanya.

Semakin hari, semakin sedikit mahasiswa yang tertarik untuk menyelamatkan pesisir di Jepara, Semarang, Demak, Rembang dan sekitarnya. Padahal, KeSEMaT tak pernah putus melakukan upaya pendekatan, publikasi dan kampanye mangrove kepada mereka. Seperti yang telah kami jelaskan di atas, dukungan justru lebih banyak bermunculan dari mahasiswa dan masyarakat Indonesia di luar UNDIP, di luar Semarang. Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan besar, ada apakah dengan jiwa konservasi mangrove mahasiswa (Angkatan 2006) di JIK FPIK UNDIP?

Fakta menunjukkan, sejak awal berdirinya KeSEMaT tahun 2001, jiwa dan semangat konservasi mangrove mahasiswa JIK FPIK UNDIP tak pernah surut hingga seakan terhenti di tahun 2006. Setiap tahun, para insan muda peduli mangrove yang bergabung dengan KeSEMaT sangat banyak berkisar 50-an orang lebih. Namun, hal ini tidak terjadi di tahun 2006. Tak lebih dari 10 orang mahasiswa saja, yang bergabung dengan kami. Alasan utama mereka kurang berminat dalam menyelamatkan mangrovenya adalah semakin ketatnya jadwal perkuliahan (?).

Namun, syukurlah. Keadaan ini, kiranya tak bertahan lama. Di awal tahun 2008 ini, masyarakat muda JIK FPIK UNDIP mulai banyak lagi yang mendukung kami. Kurang lebih 30-an insan muda JIK FPIK UNDIP telah merapatkan barisannya, demi sebuah upaya penyelamatan mangrove di pesisir Utara Jawa yang semakin hari kondisinya semakin kritis dan memprihatinkan.

Kami hanya berharap, di masa mendatang, semakin banyak lagi insan muda baik dari JIK FPIK UNDIP maupun masyarakat umum yang peduli, sayang dan cinta dengan mangrove dan KeSEMaT. Alasan padatnya jadwal perkuliahan dan berbagai alasan lainnya, kami kira tak bisa dikemukakan sebagai sebuah alasan apalagi penghalang dalam setiap usaha penyelamatan mangrove, karena jiwa konservasi terhadap alam tak ada hubungannya sama sekali dengan hal-hal teknis seperti itu.

Ucapan terima kasih, tak lupa kami haturkan kepada masyarakat Indonesia, yang terus bersedia mendukung kami sampai dengan sekarang ini, sembari memohon maaf karena belum bisa mengakomodir permintaan bergabung sebagai KeSEMaTERS. Semoga saja di masa mendatang, kami bisa memenuhi permintaan masyarakat Indonesia. Akhir kata, marilah kita terus berusaha untuk menyelamatkan ekosistem mangrove kita, bukan hanya demi kita saja, tapi juga untuk generasi kita di masa yang akan datang. Salam MANGROVER!

January 23, 2008 | 9:01 AM Comments  0 comments



Pengumuman para CAMaT yang lolos seleksi tes wawancara KeSEMaTHUNT 2008

Setelah menjalani tahap seleksi KeSEMaTHUNT 2008 yang meliputi (1) tes psikologi, (2) tes pengetahuan mangrove, (3) tes loyalitas dan motivasi, (4) tes organisasi dan kepemimpinan, dan (5) tes sikap dan kreatifitas, akhirnya terjaring sebelas orang mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK UNDIP) Semarang yang dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti tahapan KeSEMaTHUNT 2008 berikutnya. Berikut ini adalah nama sebelas orang Calon Anggota (CAMaT) KeSEMaT Angkatan VIII:

1.Abdul Rohman Zaky
2.Ana Aizzaturroifah
3.Ayu Permana Sari
4.Dhimas Firmansyah A.
5.Farhan Pramudito
6.Febriana Mirasti
7.Havis Rachman Nursalim
8.Indriatmoko
9.Mohammad Saiful Amri
10.Widitya Imandriya
11.Yanuar Sandy Perdana

Bagi para CAMaT yang diterima, KeSEMaT mengucapkan selamat. Bagi yang belum diterima, KeSEMaT mengucapkan terima kasih atas partisipasi Anda dan berharap Anda tidak berkecil hati untuk melanjutkan langkah Anda ke depan. Apabila Anda masih berminat, kami mempersilahkan Anda untuk mengikuti KeSEMaTHUNT 2009.

Selanjutnya, para CAMaT yang diterima, Anda diwajibkan untuk mengikuti keseluruhan rangkaian acara Pembekalan dan KeSEMaTOUR 2008. Berikut ini adalah jadwal Pembekalan dan KeSEMaTOUR 2008.

1.Para CAMaT wajib melakukan daftar ulang di Kantor KeSEMaT, pada Hari Rabu, 23 Januari 2008, pukul 15.30 WIB (on time) dan membayar biaya Pembekalan KeSEMaTHUNT 2008 Rp. 10.000,-

2.Para CAMaT wajib mengikuti Pembekalan CAMaT Angkatan VIII pada Hari Kamis - Jumat, 24 – 25 Januari 2008 pukul 15.30 WIB – 06.00 WIB di Kantor KeSEMaT Semarang.

3.Para CAMaT wajib mengikuti KeSEMaTOUR (Pelantikan Anggota KeSEMaT Periode 2007/2008), pada Hari Sabtu s.d. Minggu, 26 – 27 Januari 2008 di Desa Surodadi Demak Jawa Tengah dan membayar biaya sebesar Rp. 70.000,-

4.Para CAMaT wajib membuat kerangka proposal kegiatan/proyek (diketik komputer, format standar, maksimal 3 lembar kuarto), dengan tema Konservasi Ekosistem Mangrove sesuai dengan kelompok yang telah disusun. Proposal dikumpulkan kepada MENPORSI KeSEMaT paling lambat pada Hari Kamis, 24 Januari 2008, pukul 15.30 WIB, pada waktu Pembekalan CAMaT Angkatan VIII.

5.Berikut ini adalah susunan kelompok CAMaT dalam Pembekalan KeSEMaTHUNT 2008:

a.Rhizophora mucronata (Abdul Rohman Zaky, Ana Aizzaturroifah, Ayu Permana Sari, Yanuar Sandy Perdana).
b.Avicennia marina (Dhimas Firmansyah A., Farhan Pramudito, Febriana Mirasti, Mohammad Saiful Amri).
c.Bruguiera cylindrica (Havis Rachman Nursalim, Indriatmoko, Widitya Imandriya).

6.Bagi Para CAMaT yang tidak mengikuti Pembekalan KeSEMaTHUNT 2008 dan KeSEMaTOUR 2008 dinyatakan gugur sebagai Anggota KeSEMaT VIII.

Demikian pengumuman ini dibuat untuk dijadikan perhatian.

January 22, 2008 | 1:01 AM Comments  0 comments



Semua ini, tak cuma demi estuaria saja, tapi demi kelangsungan hidup kita juga

Setelah memposting “Mari kita hengkang dari estuaria,” KeSEMaT menerima puluhan email dari masyarakat Indonesia, yang intinya sangat setuju dan kontra sekali terhadap pendapat kami mengenai ajakan untuk segera menghentikan segala pekerjaan yang merusak estuaria. Salah satu email dari sekian belas email yang menyatakan kontranya, kiranya sangat menarik untuk kita cermati bersama. Email itu datang dari Seorang Bapak (SB) yang berasal dari sebuah kota metropolitan di Nusantara. Intinya, dia sangat tidak setuju dan khawatir sekali dengan sepak terjang para aktivis organisasi lingkungan, yang secara terus menerus melakukan kampanye anti reklamasi di kawasan pesisir.

SB beranggapan, dengan menolak setiap usaha reklamasi pantai, dalam jangka panjang, kita ini sama saja dengan membunuh populasi kita sendiri. Menurutnya, setiap usaha reklamasi yang dilakukan oleh pemerintah, tak lain dan tak bukan hanyalah untuk menjamin ketersediaan pemukiman yang layak bagi penduduk Indonesia. Dengan demikian, di masa mendatang, manusia Indonesia akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi, seperti yang telah dirasakan oleh penduduk dunia lainnya.

Selanjutnya, dia mencontohkan proses reklamasi pantai yang marak terjadi di Ibukota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Pembangunan kawasan industri, pendirian puluhan pabrik baru, pelebaran jalan tol dan pemukiman penduduk, semuanya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi ledakan penduduk yang semakin hari semakin tak terbendung lagi.

Kalau saja reklamasi tak boleh dilakukan, maka dimana lagi manusia akan hidup. Dimana lagi manusia akan membangun rumah-rumah untuk hidupnya? Padahal, bukankah Tuhan telah menciptakan bumi ini semata-mata hanya untuk kelangsungan hidup manusia? Kalau saja manusia tak memanfaatkan estuaria, tidak memanfaatkan sumber daya yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya, berarti kita ini sama saja dengan tidak menghormati kehendakNya.

Tambahnya lagi, sebagai manusia yang bijak, kita tak boleh menghakimi kerusakan alam akibat ulah manusia. Kalau saja daerah estuaria telah rusak karena dimanfaatkan oleh manusia untuk pemukiman, pertambakan dan pariwisata misalnya, maka itu adalah sah-sah saja. Kita tidak boleh menyalahkan manusia, karena manusia sudah dalam koridor yang benar, yaitu “memanfaatkan alam.”

Sebagai kesimpulan, dia menambahkan bahwa dari tahun ke tahun, kebutuhan manusia akan sandang, pangan dan papan, pastilah akan selalu meningkat. Kita butuh estuaria sebagai sebuah tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup kita tersebut. Untuk itu, para aktivis lingkungan dimintanya untuk tidak terlalu menyalahkan pemerintah apabila melakukan program reklamasi pantai. Toh, ke depannya, semua yang diusahakan pemerintah ini adalah demi kehidupan dan kelangsungan hidup mereka juga.

Begitulah poin-poin yang disampaikan oleh SB, via email, ke kami.

Dalam keadaan tertentu, pada dasarnya, kami juga setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh “beliau” ini. Kami pikir, siapa juga yang tak mau kualitas hidupnya meningkat dan terjamin sepanjang masa. Pasti semua manusia juga mau.

Namun demikian, beberapa pandangan yang dikemukakan oleh SB, kami kira agak kurang benar. Dengan tidak melakukan tindakan destruktif di estuaria-lah, maka kelangsungan hidup kita akan semakin terjamin dan everlasting alias “tahan lama.” Marilah kita semua untuk berpikir jernih, jujur, sesuai dengan hati nurani kita masing-masing, betapa kerusakan yang telah kita timbulkan di estuaria, justru akan lebih mempercepat kerusakan hidup kita di bumi ini, dan bukan sebaliknya!

Selanjutnya, permasalahan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia. Bukankah Tuhan juga telah meminta manusia untuk tidak hanya berhubungan dengan Dia dan antar sesama manusia saja, melainkan juga harus mampu bermasyarakat dengan alam dan lingkungannya. Jadi, apabila SB berkeyakinan manusia sah-sah saja apabila mengeruk hak alam, maka kami kira itu adalah bukan sebuah perbuatan yang bijak.

Sebaliknya, manusia yang diciptakan lebih tinggi derajatnya daripada makhluk lainnya, seharusnya harus lebih bisa berpikir dengan baik, tentang bagaimana caranya agar hubungan antara dia dengan Penciptanya, dengan sesama manusia dan dengan lingkungannya bisa berjalan baik secara seimbang. Selanjutnya, kita seharusnya bisa menemukan jalan keluar, bagaimana caranya agar mampu menjaga keseimbangan alam dengan baik tanpa melakukan tindakan merusak yang justru membuat hubungan kita dengan alam kita, menjadi kurang harmonis.

Ledakan manusia setiap tahun, memang tak bisa dihindari, akibatnya lahan akan semakin terjepit untuk menampungnya. Tapi, bukankah manusia juga diberikan akal dan pikiran untuk bisa mengendalikan populasi mereka sendiri? Jadi, kalau alam yang melulu kita jadikan obyek keserakahan kita, kami kira, kita ini sebagai manusia sangat tak menghormati hak hidup lingkungan estuaria kita.

Meminjam istilahnya SB, apakah kita mau, dicap oleh Sang Pencipta kita, sebagai makhlukNya yang tidak menghormati kehendakNya. Tentu tidak, bukan?

January 21, 2008 | 10:01 AM Comments  0 comments



« previous 5


KeSEMaT's Profile

KeSEMaT's Friends


Latest Posts
Mari Bersama...
MANGROVER, Ayo Terus...
Press Release,...
KeSEMaTER Gathering di...
KeSEMaT Hadiri Ulang...

Monthly Archive
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
November 2011
December 2011
January 2012
February 2012

Change Language


Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove

Filter By Type
Travel
Topics

Friends
Abdullah Ali Hbahbeh
Adam MacIsaac
Anita
Bhattarai Ganga
Bhuwan
Christopher Walter
Damian Profeta
Dave Matthews
Diogo Andre
GSimon
harya
Michael Furdyk
Mohamed Elkashash
saevul amri
Shakti

Links
KeSEMaTPORTAL


169575 views
Important Disclaimer