 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Lokasi Titik-titik Vegetasi Mangrove di Pulau Jawa
|
 Semarang - KeSEMaTBLOG. Bapak Nova Mujiono dari Museum Zoologicum Bogoriense Division of Zoology-Research Center for Biology Indonesian Institute of Sciences (LIPI), beberapa hari yang lalu, mengirimkan email kepada KeSEMaT dan menanyakan mengenai titik-titik lokasi keberadaan hutan mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa. Direncanakan, Tim Mangrove LIPI akan melakukan penelitian mangrove ke hutan-hutan mangrove, tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini, kami telah memberikan jawaban, sesuai dengan pengalaman kami dalam “mengarungi’ hutan mangrove di hampir seluruh bagian wilayah Jawa, seperti di bawah ini. Selamat membaca. Secara umum, apabila ingin melakukan survei mangrove ke hutan mangrove di pesisir utara Jawa dan Selatan, kami kira kita tidak akan menemukan sebuah hutan mangrove lagi, Pak. Pengertian hutan mangrove, apalagi hutan mangrove alami, sudah tidak bisa lagi disebutkan di kedua wilayah pesisir, di Jawa ini. Di Utara dan Selatan Jawa, hutan mangrove yang tersisa lebih tepat apabila kita sebut sebagai vegetasi mangrove, saja.
Hutan mangrove (apalagi yang alami) telah hilang oleh pertambakan, pemukiman dan peruntukan lainnya, berganti dengan vegetasi-vegetasi mangrove baru yang tumbuh kembangnya merupakan hasil dari budi daya manusia sendiri. Kesimpulannya, vegetasi mangrove di kedua wilayah adalah hasil dari penanaman kembali dari kelompok-kelompok tani, nelayan, organisasi mahasiswa, perusahaan, LSM, dan institusi pemerintahan. Selanjutnya, titik-titik vegetasi mangrove di Jawa, antara lain terdapat di:
Pantai Utara Jawa 1.Pantai Pangandaran – Jawa Barat 2.Indramayu – Jawa Barat 3.Muara Angke - Jakarta 4.Tegal – Jawa Tengah 5.Desa Pesantren, Pemalang – Jawa Tengah 6.Kendal – Jawa Tengah 7.Mangkang, Semarang – Jawa Tengah 8.Tugu, Semarang – Jawa Tengah 9.Genuk, Semarang – Jawa Tengah 10.Trimulyo, Semarang – Jawa Tengah 11.Menco, Demak – Jawa Tengah 12.Sayung, Demak – Jawa Tengah 13.Morosari, Demak – Jawa Tengah 14.Desa Bedono, Demak – Jawa Tengah 15.Morodadi, Demak – Jawa Tengah 16.Teluk Awur, Jepara – Jawa Tengah 17.Pulau Panjang, Jepara – Jawa Tengah 18.Pulau Karimunjawa, Jepara – Jawa Tengah 19.Ujung Piring, Jepara – Jawa Tengah 20.Desa Pasar Banggi, Rembang – Jawa Tengah
Pantai Selatan Jawa 1.Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Cilacap – Jawa Tengah 2.Daerah Istimewa Yogyakarta
Sebagai informasi, titik-titik penyebaran vegetasi mangrove yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari titik-titik penyebaran mangrove yang ada. Sebagai contoh, di Kecamatan Tugu Semarang, titik-titik keberadaan mangrove masih bisa didapatkan di dua tempat lagi, yaitu Kelurahan Tugurejo dan Kelurahan Karanganyar. Sementara itu, di Teluk Awur Jepara, titik-titik penyebaran mangrove bisa juga ditemukan di Desa Semat, Desa Bulak Baru dan Desa Tanggul Tlare, demikian seterusnya.
Demikian, Bapak. Semoga bisa membantu referensi Tim Mangrove LIPI. Apabila diperlukan, KeSEMaT dan LIPI bisa berkunjung bersama ke lokasi-lokasi tersebut di atas. Jika ada yang perlu didiskusikan lagi, jangan ragu untuk menghubungi kami kembali. Terima kasih.
Begitulah, tanya jawab antara Bapak Nova Mujiono dari LIPI dengan KeSEMaT. Semoga bisa berguna bagi masyarakat lainnya yang berniat pula, melakukan penelitian mangrove di wilayah pesisir Jawa. Salam MANGROVER!

|
|
| February 28, 2009 | 7:02 AM |
|
|
 |
Surat Dukungan MS dari DKP Banten
|
 Semarang - KeSEMaTBLOG. Bapak R. Soegiharto dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banten, telah memberikan dukungannya atas konsep Mangrove Safe (MS) yang telah diinisiasi oleh KeSEMaT. Beberapa hari yang lalu, beliau mengirimkan email kepada kami yang berisi dukungan dan tiga buah pertanyaan mengenai perkembangan konsep MS. Sejak pertama kali dilempar ke publik oleh KeSEMaT, pada tanggal 9 Januari 2009 lewat Jaringan KeSEMaTONLINE, memang konsep MS telah menimbulkan pro dan kontra. Tak sedikit yang menolak namun banyak pula dan mendukungnya. Berikut ini, kami hadirkan isi surat dari Bapak R. Soegiharto sekaligus jawaban dari KeSEMaT. Semoga saja, hal ini bisa berguna bagi masyarakat Indonesia yang juga seringkali mengirimkan pertanyaan serupa, tentang bagaimana perkembangan konsep MS, saat ini. Selamat membaca. Pertanyaan DKP BANTEN Sebagai salah seorang yang berkecimpung dalam Program Mitra Bahari (Sea Partnership Program) Regional Banten, saya berpendapat bahwa kampanye moral MS dan pembentukan institusi independen IIPS-MS perlu didukung secara luas oleh pemerintah dengan tindakan yang nyata. Berkaitan dengan konsep MS, beberapa hal yang ingin saya tanyakan adalah:
1.Sejauh mana pembentukan IIPS-MS telah berjalan? 2.Bagaimana konsep MS untuk areal pesisir yang mangrovenya telah rusak parah, dan tidak ada satupun perusahaan/ pertambakan udang yang tersisa di sekitar areal tersebut karena mengalami kebangkrutan. 3.Adakah contoh jalinan kerjasama MS antara Pemda dan Perusahaan-2 yang memiliki kewajiban/tanggungjawab sosial terhadap lingkungannya (Corporate Social Responsibility), yang telah berhasil, yang dapat kami adopsi.
Jawaban KeSEMaT Yth. Bapak Soegiharto,
Terima kasih telah memberikan dukungan kepada kami dalam mengkampanyekan konsep MS. Sebelum menjawab beberapa pertanyaan dari Bapak, dengan ini kami kirimkan artikel berjudul “Mangrove Safe dan Kemungkinan Aplikasinya di Indonesia,” yang beberapa waktu lalu sudah kami presentasikan pada Lokakarya Sosialisasi Kelompok Kerja Mangrove Nasional (KKMN) di Kantor Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Tengah, di Semarang.
Semoga artikel ini semakin melengkapi pengetahuan kita bersama mengenai konsep MS, yang sebenarnya masih dalam tahap wacana. Selengkapnya tentang video proses kampanye MS KeSEMaT di KKMN, silahkan berkunjung ke KeSEMaTYOUTUBE www.youtube.com/kesemat. Langsung saja, Pak.
Sejauh mana pembentukan IIPS-MS telah berjalan? Untuk pembentukan IIPS-MS (baca: I2PS-MS seperti yang tercantum pada artikel yang kami kirimkan), tentu saja belum bisa dibentuk, Bapak. Mengapa demikian (?), karena sebenarnya konsep MS masih diwacanakan terutama kepada komunitas Program Mitra Bahari, sendiri. Masih diperlukan banyak dukungan untuk bisa membangun sebuah institusi independen bernama I2PS-MS, tersebut.
Namun demikian, apabila bisa dibentuk, I2PS-MS bisa didirikan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Pusat dan atau departemen lainnya yang di Indonesia memiliki “kuasa” sebagai pengatur kebijakan tentang ekosistem mangrove.
I2PS-MS bisa juga didirikan oleh sebuah LSM/Yayasan independen yang telah dipercaya, ditunjuk dan disepakati bersama pendiriannya oleh para perusahaan pertambakan terutama udang dan turunannya seperti pabrik makanan kaleng, asosiasi-asosiasi eksportir dan importir, toko-toko dan rumah makan-rumah makan.
Kesimpulannya, KeSEMaT dan DKP BANTEN-pun sebenarnya bisa membentuk/mendirikannya, asalkan konsep MS bisa diterima dan disetujui oleh semua pihak di atas.
Bagaimana konsep MS untuk areal pesisir yang mangrovenya telah rusak parah, dan tidak ada satupun perusahaan/ pertambakan udang yang tersisa di sekitar areal tersebut karena mengalami kebangkrutan. Pertanyaan yang menarik, Bapak. Apabila memang terjadi hal yang demikian, maka untuk areal pesisir yang mangrovenya telah rusak parah, dan tidak ada satupun perusahaan/pertambakan udang yang tersisa di sekitar areal tersebut karena mengalami kebangkrutan, I2PS-MS tidak bisa menerapkan konsep MS kepada mereka.
Namun demikian, menurut hemat kami, tugas I2PS-MS adalah untuk melakukan investigasi mengenai kepemilikan terakhir perusahaan/pertambakan udang tersebut sehingga jumlah perusahaan/pertambakan udang yang ada di Indonesia, yang masih aktif maupun tidak aktif, bisa dilacak keberadaannya.
Hal ini tentu saja merupakan tugas yang “menarik,” karena walaupun I2PS-MS tidak bisa diterapkan kepada perusahaan/pertambakan tersebut sehubungan dengan sudah tidak adanya kepemilikan lahan oleh mereka, namun I2PS-MS masih bisa menawarkan konsep MS kepada mereka meskipun hanya secara perorangan. Harapannya, sewaktu-waktu perorangan tersebut mendirikan perusahaan/pertambakan udang kembali, maka perorangan tersebut sudah mengetahui/menerima konsep MS, lebih dini.
Dengan demikian, walaupun secara institusi, I2PS-MS tidak bisa menawarkan konsep MS-nya, tapi secara perorangan semoga saja bisa diterima.
Adakah contoh jalinan kerjasama MS antara Pemda dan Perusahaan-2 yang memiliki kewajiban/tanggungjawab sosial terhadap lingkungannya (Corporate Social Responsibility), yang telah berhasil, yang dapat kami adopsi. Untuk MS, jalinan kerjasama MS antara Pemda dan Perusahaan-2 yang memiliki kewajiban/tanggungjawab sosial terhadap lingkungannya (Corporate Social Responsibility), yang telah berhasil, tentu saja belum bisa terlaksana, Bapak.
Namun demikian, hal seperti ini sudah terkelola dengan baik di dalam konsep Dolphin Safe (DS), dimana di tahun 2009 ini, hampir semua negara di dunia telah menerima konsep DS, sehingga I2PS-MS-nya DS telah berhasil menjalin kerjasama dengan Pemda dan perusahaan-perusahaan tuna. Lebih lanjut mengenai DS, silahkan dicermati kembali artikel MS yang kami kirimkan, bersama dengan surat ini.
Apabila kita menginginkan konsep MS bisa berkembang layaknya DS, maka sebaiknya kita melakukan studi banding ke perusahaan-perusahaan tuna yang telah terlebih dahulu menjalankan konsep DS-nya dengan baik.
Selanjutnya, untuk MS sendiri, ke depan, hal seperti inilah yang tentunya kita inginkan bersama, Pak. MS bisa berkembang dengan baik seperti DS. Kami yakin, apabila I2PS-MS bisa didirikan, maka Pemda dan CSR perusahaan-perusahaan akan memiliki kewajiban/tanggungjawab sosial terhadap lingkungannya dan mendukung sepenuhnya konsep MS ini.
Demikian, Bapak. Semoga bisa diterima dengan baik. Apabila ada yang perlu didikusikan lagi, jangan ragu untuk menghubungi kami kembali. Terima kasih. Salam MANGROVER!
Begitulah, tanya jawab antara Bapak Soegiharto dengan KeSEMaT. Kami masih menunggu komentar, ide dan pemikiran untuk menyempurnakan konsep MS dari masyarakat Indonesia. Jangan ragu untuk mengirimkannya kepada KeSEMaT. Kami tunggu, ya. Salam MANGROVER!

|
|
| February 28, 2009 | 7:02 AM |
|
|
 |
Lowongan Menjadi Peserta Mangrove Cultivation 2009 di Pesisir Desa Teluk Awur, Jepara
|
 Semarang - KeSEMaTBLOG. Dengan ini, diumumkan kepada masyarakat umum bahwa KeSEMaT membuka lowongan bagi Anda, untuk bekerja menyelamatkan mangrove, sebagai peserta dalam program Mangrove Cultivation 2009: Seminar Nasional, Penyuluhan, Pembibitan dan Penyulaman Mangrove di Pesisir Desa Teluk Awur, Jepara. Bagi yang berminat, silahkan membaca keterangan selengkapnya, seperti di bawah ini: LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan ekosistem yang khas yang terdapat di daerah pantai tropik. Hutan mangrove mengandung sumberdaya alam yang sangat melimpah dalam hal nilai ekonomis serta fungsi ekologisnya. Fungsi hutan mangrove yang sangat penting adalah sebagai pencegah abrasi, pencegah intrusi air laut, tempat perkembangbiakkan flora dan fauna sehingga hutan mangrove senantiasa harus selalu dijaga kelestariannya.
Pengelolaan hutan mangrove sangat dibutuhkan untuk mempertahankan keutuhan hutan mangrove. Rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang telah rusak serta melakukan perbaikan kualitas suatu kawasan pesisir dapat dilakukan dengan jalan menanam bibit-bibit mangrove di kawasan tersebut.
Untuk itu, diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas yang memiliki kapasitas serta keterampilan yang siap pakai dalam melaksanakannya. Atas dasar pemikiran tersebut, maka KeSEMaT mengadakan suatu kegiatan tahunan yang disebut Mangrove Cultivation (MC) 2009 yang bertujuan untuk melatih Anggota KeSEMaT dan masyarakat umum agar dapat mengelola hutan mangrove khususnya dalam hal pembibitan mangrove.
TUJUAN UMUM Sarana untuk menumbuhkembangkan semangat konservasi terhadap ekosistem mangrove, umumnya kepada kalangan masyarakat dan khususnya kepada mahasiswa para mahasiswa se-Indonesia.
TUJUAN KHUSUS 1.Memberi pelatihan dan keterampilan kepada para peserta dalam hal pembibitan mangrove. 2.Menyiapkan bibit sebagai modal untuk penanaman mangrove pada program tahunan KeSEMaT berikutnya, yaitu Mangrove REpLaNT 2009.
WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN 1. Susur Pantai Hari/Tanggal: Jumat, 20 Maret 2009 Waktu: 19.30 – 21.30 WIB Tempat: Pantai Teluk Awur Jepara
2. Seminar, Pelatihan dan Penyuluhan Teknik Pembibitan Mangrove Hari/Tanggal: Sabtu, 21 Maret 2009 Waktu: 09.00 – 12.00 WIB Tempat: Ruang Teater Kampus Ilmu Kelautan Teluk Awur Jepara
3. Pembibitan Mangrove Hari/Tanggal: Sabtu, 22 Maret 2009 Waktu: 15.15 – 17.30 WIB Tempat: Desa Teluk Awur Jepara
DESKRIPSI KEGIATAN Pendaftaran Peserta Pada tahap ini, KeSEMaT menerima pendaftaran peserta MC 2009. Pendaftaran peserta, dimulai pada tanggal 23 Februari – 11 Maret 2009. Adapun sasaran utama peserta MC 2009 adalah masyarakat umum dan para mahasiswa se-Indonesia. Peserta yang dibutuhkan sebanyak 100 orang. Biaya pendaftaran Rp. 80.000. Para peserta akan mendapatkan fasilitas seperti sertifikat, T-Shirt, seminar kit, kokard, penginapan, transportasi, makan dan minum dan stiker. Masyarakat yang tertarik menjadi peserta MC 2009, dipersilahkan mengisi formulir peserta MC 2009 di Kantor KeSEMaT Semarang. CP. Indriatmoko Febriana Mirasti (Memed) (+6285643741382).
Technical Meeting MC 2009 Technical Meeting (TM) diadakan untuk menginformasikan kepada para peserta tentang konsep kegiatan MC 2009, jadwal kegiatan dan persiapan pra pemberangkatan. TM akan dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2009, mulai pukul 14.00 WIB - 16.00 WIB di Kantor KeSEMaT Semarang, Jl. Ngesrep Barat V/35 Semarang 50275 Jawa Tengah.
Deskripsi Acara Tahapan ini, merupakan puncak pelaksanaan MC 2009. Acara dimulai dengan registrasi peserta oleh panitia di Gedung Serba Guna UNDIP Tembalang, Semarang. Setelah itu, peserta melakukan perjalanan dari Semarang menuju ke tempat dilaksanakannya MC, yaitu Jepara. Sampai di Jepara, dilaksanakan pembagian kamar peserta. Selanjutnya, peserta dipersilahkan untuk beristirahat di asrama mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP, Jepara.
Malam harinya, acara susur pantai dimulai. Susur pantai dilaksanakan di sekitar Pantai Teluk Awur Jepara. Dalam acara ini, akan diadakan perkenalan dan ramah tamah antara peserta dengan panitia. Setelah acara susur pantai selesai, peserta dan panitia kembali ke asrama. Kemudian panitia akan memperkenalkan mengenai UKK KeSEMaT dan MC 2009 dalam acara Selayang Pandang dan briefing untuk acara besok.
Pelatihan I Pengenalan Spesies Mangrove di Arboretum Mangrove KeSEMaT Pagi harinya, diadakan acara pengenalan spesies mangrove di Arboretum KeSEMaT, kemudian dilanjutkan dengan acara Penyuluhan Mangrove di Kampus UNDIP Teluk Awur, Jepara. Acara akan diisi oleh Praktisi Mangrove KeSEMaT, yang akan membicarakan mengenai Mangrove Safe (MS).
Seminar Nasional Peranan Hutan Mangrove dalam Adaptasi Perubahan Iklim dan Konservasi Ekologi Setelah acara penyuluhan, akan diadakan Seminar Nasional (SEMNAS) dalam format diskusi panel yang akan mempertemukan empat orang Panelis, yaitu Departemen Kelautan dan Perikanan Pusat, Praktisi Mangrove Universitas Diponegoro (UNDIP), Departemen Kehutanan Jakarta dan Praktisi Mangrove KeSEMaT. Pada intinya diskusi panel akan membicarakan mengenai Peranan Hutan Mangrove dalam Adaptasi Perubahan Iklim dan Konservasi Ekologi.
Pelatihan II Teknik Pembibitan Mangrove Setelah SEMNAS, panitia akan memberikan pelatihan dan simulasi mengenai MC 2009, berupa teknik pembibitan mangrove. Puncak acara, yaitu MC 2009 akan dilaksanakan di Arboretum Mangrove KeSEMaT di Teluk Awur Jepara. Peserta akan diberikan pelatihan mengenai tata cara pembibitan mangrove yang benar. Bibit yang akan ditanam ada beberapa spesies, yaitu Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera cylindrica, Ceriops decandra dan C. tagal.
Setelah acara MC, peserta akan kembali ke asrama untuk bersih diri, istirahat dan makan malam. Acara selanjutnya adalah diskusi dan tanya jawab mengenai kegiatan yang telah dilaksanakan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan menonton film bertemakan mangrove.
Penyulaman Mangrove Hari ketiga, peserta akan memulai aktivitas dengan melakukan penyulaman mangrove di Arboretum Mangrove KeSEMaT untuk mengganti bibit-bibit mangrove yang telah mati dengan bibit-bibit mangrove yang baru. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan bersih diri dan makan pagi. MC 2009 ditutup dengan pesan dan kesan dari peserta dan panitia, disertai dengan pembagian sertifikat.
SUSUNAN ACARA Jumat, 20 Maret 2009 Waktu (WIB) Acara 14.00-14.30 Registrasi Peserta 16.30-17.00 Perjalanan Semarang – Jepara/Asrama 17.00-17.30 Sholat 17.30-19.30 Pembagian Grup dan Kamar 19.30-21.30 Bersih Diri, Sholat, Makan 21.30-22.30 Selayang Pandang MC 2009 22.30-23.00 Briefing Peserta 23.00-04.30 Istirahat/Tidur
Sabtu, 21 Maret 2009 Waktu (WIB) Acara 04.30-05.30 Bangun Pagi, Shalat Subuh 05.30-06.00 Olahraga 06.00-07.30 Pelatihan I Pengenalan Spesies Mangrove di Arboretum KeSEMaT 07.30-08.30 Bersih Diri, Makan Pagi 08.30-09.00 Perjalanan ke Kampus, Persiapan Seminar 09.00-12.00 Seminar Nasional Peranan Hutan Mangrove dalam Adaptasi Perubahan 12.00-13.00 Ishoma 13.00-14.00 Pelatihan II Teknik Pembibitan Mangrove MC 2009 14.00-14.45 Briefing Peserta 14.45-15.15 Shalat dan Persiapan Shalat dan Persiapan 15.15-17.30 MC 2009 17.30-19.30 Bersih Diri, Sholat, Makan Malam 19.30-22.30 Tanya Jawab, Sharing dan Ramah Tamah 22.30-04.30 Istirahat/Tidur
Minggu, 22 Maret 2009 Waktu (WIB) Acara 04.30-05.30 Bangun Pagi, Shalat Subuh 05.30-07.30 Penyulaman Mangrove 07.30-08.00 Makan Pagi 08.00-09.30 Bersih Diri 09.30-10.30 Pesan, Kesan dan Pembagian Sertifikat 10.30-12.30 Perjalanan Jepara – Semarang
PELAKSANA KEGIATAN KeSEMaT – ILMU KELAUTAN UNDIP Kantor KeSEMaT Semarang Jl. Ngesrep Barat V/35 Semarang, 50275 Jawa Tengah – Indonesia P. +622470527552 F. +62247474698 CP. Febriana Mirasti – Memed (+6285643741382) E. kesemat@undip.ac.id W. www.kesemat.undip.ac.id
PENUTUP Demikian TOR ini kami buat. Semoga kegiatan ini bisa memberikan andil dalam kemajuan bidang rehabilitasi mangrove di Indonesia serta mampu mencetak sumberdaya manusia yang handal dalam mengelola hutan mangrove. Atas kerjasama semua pihak yang mendukung kegiatan ini kami sampaikan terima kasih.

|
|
| February 23, 2009 | 10:02 AM |
|
|
 |
KeSEMaTERS Memimpin Penanaman Mangrove Mahasiswa KKN UNDIP
|
 Jepara - KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 19 Februari 2009, KeSEMaT yang diwakili oleh Windy Indra Ardiansyah – Indra (DP) telah memimpin pelaksanaan penanaman mangrove yang dilakukan oleh para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Kalinyamatan, Jepara. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari program tahunan KeSEMaT bertajuk Mangrove Restoration (MANGRES) 2009: Penyuluhan, Penanaman dan Penyulaman Mangrove, yang kemudian diadopsi oleh Tim KKN UNDIP menjadi sebuah kegiatan bernama Green Mangrove (GM). GM diikuti oleh 150 orang peserta KKN UNDIP, tak hanya dari Desa Kalinyamatan semata tetapi juga dari desa-desa lainnya di Jepara. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama KeSEMaT, UNDIP, PT MEDCO dan Tim KKN UNDIP Desa Kalinyamatan Jepara. Bibit yang ditanam dalam kegiatan ini merupakan sumbangan dari PT MEDCO, yang kemudian diserahkan kepada UNDIP dan KeSEMaT selaku koordinator penanaman mangrove di lapangan. Bibit sebanyak kurang lebih 5000 bibit telah ditanam sebanyak 2500 bibit pada saat MANGRES 2009 (12/02) dan 2500 bibit selebihnya, ditanam pada saat GM, ini.
GM secara resmi dibuka oleh perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Jepara, Kepala Desa Teluk Awur dan UNDIP, selaku tuan rumah. Selanjutnya, Indra memimpin 150 mahasiswa peserta KKN UNDIP dalam melakukan penanaman mangrove, di samping Asrama Ilmu Kelautan UNDIP Blok A. Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB – 12.00 WIB.

|
|
| February 23, 2009 | 9:02 AM |
|
|
 |
Jenis Hama Teritip di Karanganyar dan Tata Cara Penanggulangannya
|
 Semarang - KeSEMaTBLOG. Kali ini, kami akan membahas mengenai teritip, yaitu sejenis gastropoda yang menempel di batang-batang bibit mangrove, terutama jenis Rhizophora. Setelah memposting artikel berjudul “Sejenis Teritip dan Ganggang Laut Menyerang Ekosistem Mangrove di Karanganyar, Semarang,” di Jaringan KeSEMaTONLINE, beberapa pertanyaan mengenai jenis teritip yang memangsa batang-batang mangrove sehingga menyebabkan bibit mangrove mati (lihat foto di samping), berikut tata cara penanggulangannya, ramai disampaikan oleh masyarakat kepada KeSEMaT. Mengenai jenis teritipnya, kami sendiri belum mengetahui secara pasti. Yang jelas, serangan teritip ini begitu dahsyat, hingga mematikan 90% bibit-bibit mangrove yang ditanam di dalam pematang tambak. Bapak Romy, seorang Cirripedologist (3/02), telah mengirimkan komentarnya atas artikel di atas, di salah satu Jaringan KeSEMaTONLINE, yaitu KeSEMaTWORDPRESS. Beliau mengatakan, “Saya tertarik dengan jenis teritip apa yang jadi fouling buat mangrove tersebut. Apakah saya bisa mendapatkan foto macro dari teritip tersebut? Biasanya yang sangat umum dari jenis Microeuraphia withersi, Chthamalus malayensis, dan Amphibalanus reticulatus (Cirripedia: Balanomorpha).”
Seperti yang telah kami sampaikan di atas, sayang sekali, kami belum yakin betul apakah jenis teritipnya. Bahkan, untuk foto jarak dekatnya, kamipun belum sempat mengabadikannya berkenaan dengan sempitnya waktu dan kendala cuaca (baca: hujan), pada saat kami melakukan survei lokasi proyek mangrove, di sana.
Namun demikian, kami memiliki tips penanggulangan hama teritip ini. Mengenai tata cara penanggulangannya, selain diambil satu persatu per batang (silahkan baca kembali “Sejenis Teritip dan Ganggang Laut Menyerang Ekosistem Mangrove di Karanganyar, Semarang), masih ada cara lainnya yaitu dengan penggunaan zat kimia. Sebuah produk moluskisida ber-merk BENTAN 45 WP (lihat foto di atas – inset), telah dipasarkan ke masyarakat untuk menanggulangi teritip-teritip “nakal”, ini. BENTAN berbentuk tepung berwarna putih, untuk mengendalikan Ceritidae sp di tambak-tambak air payau.
Sebagai informasi, Bapak Suyadi di Rembang, bersama dengan kelompok taninya, terbiasa menggunakan produk ini untuk mengatasi populasi teritip, di tambak-tambak mereka. Caranya mudah sekali, cukup ditaburkan di tambak, maka dalam beberapa menit, teritip yang di Rembang disebut dengan Runti/Trisipan, akan segera mati. Tapi, yang harus diperhatikan dengan seksama adalah sewaktu menggunakan BENTAN, ikan yang berada di dalam tambak harus “dikuras” terlebih dahulu dan dipindahkan ke tempat lainnya, untuk mencegah kematiannya.
Demikian, sedikit tips dari KeSEMaT untuk menanggulangi hama teritip yang sering menyerang tambak-tambak di pesisir. Semoga bisa berguna. Satu pesan dari kami, mohon untuk bisa membaca petunjuk pemakaian yang tercantum dalam BENTAN dengan cermat, agar pemakaiannya tak berlebihan. Penggunaan yang melebihi batas, tentu saja akan sangat berbahaya bagi lingkungan kita. Salam MANGROVER!

|
|
| February 23, 2009 | 9:02 AM |
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
169550 views
|
 |