 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Perang Lumpur MC 2009: Tak Ada Lagi Lumpur Phobia!
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. “Perang Lumpur (RANGPUR)!” Dua buah kata yang begitu familier di telinga para Peserta MC 2009. Seperti tahun-tahun sebelumnya, prosesi RANGPUR begitu diminati dan dinanti. Tak hanya MC, di setiap program konservasi KeSEMaT lainnya, permainan mengasyikkan ini selalu diadakan KeSEMaT dengan banyak tujuan antara lain untuk mendekatkan peserta dengan alam mangrove yang indah, dengan cara “menjamah” lumpurnya secara langsung, sehingga tak ada lagi orang yang phobia dengan lumpur mangrove. Banyak pengaduan yang ditimpakan kepada KeSEMaT mengenai Lumpur Phobia (LP). Sebelum mendaftar menjadi KeSEMaT’s Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) di program-program konservasi mangrove KeSEMaT, beberapa individu sempat mencurahkan hatinya kepada kami, bahwa mereka agak takut dengan lumpur mangrove. Bukannya apa-apa, pola pikir sebagian dari mereka yang masih menganggap bahwa lumpur adalah sebuah benda kotor nan menjijikkan masih saja menggelayuti pikiran, mereka. Nah, dengan adanya RANGPUR ini, diharapkan mindset yang telah terbentuk seperti demikian, bisa segera dihilangkan. Sebenarnyalah, tak ada sesuatu hal yang harus ditakutkan di lingkungan mangrove. Justru, mangrove adalah ekosistem yang sangat indah, ramah, menawan, mempesona dan begitu menakjubkan!
RANGPUR ini diadakan sesaat setelah para agen-agen muda mangrove, selesai melakukan pembibitan bayi-bayi mangrove mereka. Tanpa komando, seolah mereka sudah mengetahui bahwa begitu benih terakhir Ceriops spp telah menancap secara sempurna di sedimen berpolybag, maka, sedetik kemudian lumpur-lumpur hitam mangrove langsung dilempar ke atas, ke samping, ke depan, ke belakang, ke kanan, ke kiri, ke utara, ke selatan, ke barat, ke timur dan ke mana-mana. Tak ada satu sudutpun yang tak terhindar dari lumpur.
Karuan saja, mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki para peserta MC 2009, otomatis langsung tertempeli dengan lumpur-lumpur mangrove. T-Shirt MC 2009 yang sebenarnya masih baru, dan baru saja dipakai oleh para peserta dalam hitungan jam, tak lepas dari “amukan” lumpur yang mengotorinya, hingga tak terlihat lagi seperti T-Shirt, kecuali hanyalah baju lumpur yang sangat kotor. Namun demikian, tak ada yang komplain, tak ada yang menolak, tak ada yang tidak mau untuk menerima lemparan lumpur. Semua peserta saling lempar dan saling menimpali. Bahkan, ada juga yang mandi lumpur sebagai perwujudan rasa cintanya kepada mangrove (lihat foto di atas).
Tak ada aturan khusus yang wajib dipatuhi oleh para pelaku RANGPUR, kecuali sebuah misi untuk mengotori seluruh bagian tubuh para Peserta MC 2009.
Maka, di saat sebuah pekerjaan gerakan moral untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Jepara telah selesai dilakukan, lahirnya prosesi RANGPUR dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta dan sayang kita kepada mangrove, memang layak untuk dilakukan. Bukankah ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang (?).” Apabila kita tak kenal dengan mangrove dan lumpurnya, maka bagaimana mungkin, kita bisa sayang dan cinta dengannya (?). Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
Hasil MC 2009: Teknik Pembibitan Mangrove
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Tak hanya Seminar Nasional (SEMNAS) saja, yang sukses diselenggarakan oleh KeSEMaT dalam program konservasi tahunannya bertajuk Mangrove Cultivation (MC) 2009. Lebih dari itu, penyuluhan, penyulaman, pelatihan dan pembibitan mangrove, juga berhasil dilakukan oleh KeSEMaT. Khusus untuk pembibitan, lihatlah foto di samping ini. Seratus lima belas peserta MC 2009 yang rata-rata berumur 20 tahunan, sangat antusias mengikuti jalannya pelatihan pembibitan mangrove yang diadakan oleh KeSEMaT di Arboretum Mangrove milik KeSEMaT sendiri, di Desa Teluk awur, Jepara. Pelatihan pembibitan ini, dilaksanakan di bawah bedeng-bedeng persemaian mangrove KeSEMaT, berjumlah dua buah. Selengkapnya mengenai teknik pembibitan mangrove yang telah dilakukan oleh KeSEMaT, bisa dibaca dalam artikel, di bawah ini. 1.PENDAHULUAN Penanaman mangrove dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara menanam langsung buah mangrove (propagul) ke areal penanaman dan melalui persemaian bibit. Penanaman secara langsung tingkat kelulushidupannya rendah (sekitar 20-30 %). Hal ini karena pengaruh arus laut pada saat pasang dan pengaruh predator. Sedangkan dengan cara persemaian dan pembibitan, tingkat kelulushidupannya relatif tinggi (sekitar 60-80%). Namun demikian, pengalaman di lapangan membuktikan bahwa tingkat kelulushidupan dengan menggunakan propagul dan bibit mangrove, bervariasi tergantung dengan kondisi daerah setempat.
2. Penyiapan buah (propagul) Propagul mangrove diusahakan berasal dari lokasi setempat atau lokasi terdekat. Buah dapat diperoleh dengan cara mengambil buah-buah yang telah jatuh atau memetik langsung dari pohonnya. Sebaiknya, pengumpulan buah dilakukan secara berulang dengan interval waktu tertentu. Pada saat memetik buah secara langsung dari pohon induknya, harus dilakukan secara hati-hati, jangan sampai bunga dan buah yang belum matang berjatuhan.
Untuk memperoleh buah yang baik, dapat dilakukan antara bulan September sampai dengan Maret. Seleksi buah tergantung pada karakteristik jenisnya. Namun biasanya, buah dipilih berasal dari buah yang matang, sehat, segar dan bebas dari hama.
Ciri kematangan buah dapat dilihat dari warna kotiledon, warna hipokotil, berat buah atau ciri lainnya. Sebelum digunakan untuk pembibitan, buah dapat disimpan sementara waktu. Buah dimasukkan dalam ember atau bak yang berisi air penuh, dengan posisi tegak, dan diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari. Lama penyimpanan maksimal adalah 10 hari.
3. Pembibitan Berikut ini diterangkan mengenai bagaimana tata cara pembibitan beberapa jenis mangrove.
a.Rhizophora spp Buah yang digunakan untuk pembibitan, sebaiknya dipilih dari pohon mangrove yang berusia diatas 10 tahun. Buah yang baik, dicirikan oleh hampir lepasnya hipokotil dari buahnya. Buah yang sudah matang dari Rhizophora spp, dicirikan dengan warna buah hijau tua atau kecoklatan, dengan kotiledon (cincin) berwarna kuning atau merah.
Media yang digunakan untuk pembibitan adalah sedimen dari tanggul bekas tambak atau sedimen yang sesuai dengan karakteristik pohon induknya. Media dibiarkan selama kurang lebih 24 jam agar tidak terlalu lembek. Media tanam yang sudah disediakan, dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam (polibag) berukuran lebar 12 cm dan tinggi 20 cm, yang telah diberi lubang keci-kecil kurang lebih 10 buah.
Buah disemaikan masing-masing 1 buah dalam setiap polibag. Buah ditancapkan kurang lebih sepertiga dari total panjangnya (± 7 cm). Setiap 6-10 benih, diikat menjadi satu agar tidak mudah rebah, ikatan dibuka setelah daun pertama keluar. Daun pertama akan keluar setelah 1 bulan, daun ketiga akan keluar setelah 3 bulan.
b.Bruguiera spp Buah dipilih dari pohon yang berumur antara 5-10 tahun. Buah dipilih yang sudah matang, dicirikan oleh hampir lepasnya batang buah dari bonggolnya dan warna hipokotil merah kecoklatan atau hijau kemerahan. Buah yang terkumpul tidak perlu dicuci dengan air tapi cukup dibersihkan dengan lap dan dipilih buah yang segar, sehat, bebas hama dan penyakit, belum berakar dan panjang hipokotilnya 10-20 cm. Kelopak buah jangan dicabut atau dilepaskan dengan paksa karena dapat merusak buah. Media yang digunakan untuk pembibitan sama dengan Rhizophora spp.
Semua pekerjaan selalu dilakukan di bawah naungan (tidak mendapat sinar matahari secara langsung), supaya buah tidak kering. Sebelum penyemaian, polibag dibiarkan tergenang oleh pasang. Penyemaian dilakukan pada awal pasang purnama, dimana penggenangnya dapat mencapai hipokotil benih. Penyemaian Bruguiera spp seperti pada Rhizophora spp, tetapi tidak usah diikat.
c.Ceriops spp Ciri kematangan buah adalah kotiledon berwarna kuning dengan panjang kotiledon 1 cm atau lebih dan hipokotil berwarna hijau kecoklatan. Buah yang terkumpul dicuci bersih dan buahnya dilepas. Kemudian, dipilih benih yang panjang hipokotilnya 20 cm atau lebih. Penyiapan media untuk Ceriops spp sama dengan penyiapan media semai Rhizophora spp. Penyemaian benih Ceriops spp sama dengan Bruguiera spp.
d.Excoecaria spp Warna buah dari Excoecaria spp yang telah matang adalah kuning kecoklatan. Buah berbentuk bulat kecil-kecil dan akan jatuh setelah matang. Biji dipilih yang padat dan mempunyai diameter 3 mm atau lebih. Media yang digunakan untuk pembibitan sama dengan Rhizophora spp.
Excoecaria spp pembibitannya tidak langsung dilakukan pada polibag. Biji dari Excoecaria spp ditebar di parit yang berisi media dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Parit dibuat di darat untuk menghindari biji terbawa arus. Setelah daun Excoecaria spp tumbuh 3-5 buah, bibit bisa dicabut dan dipindahkan ke polibag. Setiap satu polibag ditanami satu bibit.
e.Avicennia spp Ciri kematangan buah adalah warna kulit buah kekuningan, dan kadang kulit buah sedikit terbuka. Buah yang sudah matang mudah terlepas dari kelopaknya. Buah dilepas dari kelopaknya dan dipilih benih yang bebas hama dan beratnya 1,5 gram atau lebih. Setelah kelopak dilepas, buah direndam dalam air selama satu hari agar terkelupas kulitnya. Buah yang belum terkelupas kulitnya, dapat dikupas dengan tangan. Kemudian, buah dipindahkan ke dalam ember berisi air payau yang bersih.
Penyiapan media semai Avicennia spp tidak berbeda dengan Rhizophora spp. Polibag disiram hingga cukup basah, barulah dilakukan persemaian. Benih disemaikan masing-masing satu buah dalam satu polibag, dengan cara ditancapkan kurang lebih sepertiga panjang benih ke dalam tanah/media.
4. Persemain bibit mangrove 4.1. Pemilihan Tempat Tempat yang akan digunakan untuk persemaian buah dipilih lahan yang lapang dan datar. Jaraknya dengan lokasi tanam diusahakan sedekat mungkin supaya lebih efektif dalam pengangkutan bibitnya. Lahan yang digunakan untuk pembibitan harus terendam saat air pasang dengan frekuensi lebih kurang 20-40 kali/bulan, sehingga tidak memerlukan penyiraman.
4.2. Pembuatan Bedeng Persemaian Bedeng dibuat dari bambu yang kuat. Ukuran bedeng disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya berukuran 1×5 m atau 1×10 m dengan tinggi 1,5–2 m. Bedeng diberi naungan ringan dari daun nipah, kelapa, ijuk, rumbia, alang-alang atau sejenisnya.
Media (dasar) bedeng adalah tanah lumpur di daerah sekitarnya. Di atas media (dasar) dilapisi plastik yang tebal untuk mencegah agar akar tidak menembus ke dalam tanah. Bila dibuat lebih dari 1 bedeng, bedeng satu dengan bedeng lainnya diberi jarak setengah meter, yang digunakan sebagai jalan kerja.
Untuk mempermudah jalan, di sekitar bedeng dibuat jembatan. Bedeng berukuran 1×5 m dapat menampung bibit dalam polibag ukuran 10×50 cm atau dalam botol air minuman bekas (500 ml) sebanyak 1200 bibit, atau sebanyak 2250 unit untuk bedeng berukuran 1×10 m.
4.3. Teknik Penyemaian Propagul Cara penyemaian propagul mangrove adalah dengan cara melipat polibag ke arah luar dengan tujuan untuk mempermudah keluarnya air laut setelah penggenangan pasang terjadi. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah pengkristalan garam air laut di polibag yang bisa berakibat pada terganggunya pertumbuhan bibit mangrove yang disemaikan.
5.PENUTUP Demikian, petunjuk praktis tentang teknik pembibitan mangrove, semoga bisa dijadikan pedoman dalam melakukan rehabilitasi mangrove di daerah Anda masing-masing. Perlu diketahui, bahwa teknik pembibitan mangrove di setiap daerah bisa berbeda menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.
SUMBER ACUAN Priyono, A., Zaky A. R. 2009. Bahan Ajar Mangrove: Modul Diklat Mangrove (DIKROVE) KHKT 2009 untuk Calon Anggota KeSEMaT (CAMaT) IX 2009/2010 – Mari Belajar Mangrove. Departemen Perpustakaan KeSEMaT. Semarang. Taniguchi, K. Shinji T., Oliva S,. 1999. Manual Silvikultur Mangrove untuk Bali dan Lombok. Departemen Kehutanan dan perkebunan Republik Indonesia dan Japan International Cooperation Agency. Bali. KeSEMaTONLINE. www.kesemat.undip.ac.id.
 
|
|
|
|
 |
Hasil MC 2009: Teknik Penyulaman Mangrove
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada saat Mangrove Cultivation (MC) 2009, tak lupa sebuah program konservasi-penting-lainnya dari KeSEMaT, yaitu penyulaman mangrove, juga diadakan. Sesi penyulaman mangrove yang bertujuan untuk mengganti bibit-bibit mangrove yang mati dengan yang baru ini, diadakan setelah sesi pembibitan selesai dilaksanakan, sehari sebelumnya (21/03). Sesi ini diikuti oleh 115 peserta MC 2009, tepat pada pukul 06.00 WIB, yang antara lain bertugas untuk memelihara bibit-bibit mangrove yang telah ditanam dalam program konservasi mangrove KeSEMaT sebelumnya, yaitu Mangrove Restoration (MANGRES) 2009. Secara sederhana, teknik penyulaman mangrove sangatlah mudah. Sehubungan dengan adanya banyak ganggang-laut di lokasi penyulaman, yang terletak persis di samping Asrama Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP) Teluk Awur, Jepara, maka untuk pertama kali, para peserta MC 2009 diharuskan untuk membersihkan ganggang laut yang tumbuh subur di sekeliling bibit-bibit mangrove, yang kini (22/02) telah berumur sekitar 2 bulanan.
Sebenarnyalah, ganggang laut ini adalah hama. Kehadirannya di sekitar bayi-bayi mangrove, sangat mengganggu pertumbuhannya. Mengapa demikian? Karena selain menutupi cahaya matahari yang akan masuk perairan, juga bisa menutupi akar-akar mangrove sehingga mengganggu sirkulasi udara yang memang terjadi di akar.
Setelah ganggang disibak, langkah selanjutnya adalah menancapkan ajir (potongan bambu) dan menanam bibit-bibit mangrove-baru di sampingnya dan mengikatnya dengan tali rafia, untuk menggantikan bibit-bibit mangrove yang telah mati.
Setelah penyulaman dilaksanakan, juga dilakukan usaha pendirian dan pengikatan kembali terhadap bibit dan ajir yang telah roboh. Tak sampai di situ, plastik polybag dan sampah yang berserakan di sekitar lokasi penyulaman, juga diambil dan dibersihkan oleh para pesera MC 2009, dengan tujuan untuk membuat lokasi penyulaman menjadi steril, bebas hama dan terhindar limbah, demi menunjang kelulushidupan bayi-bayi mangrove sehingga mencapai tarafnya yang maksimal.
Demikian, tips praktis penyulaman mangrove dari KeSEMaT. Semoga bisa juga diaplikasikan di daerah Anda masing-masing. Selamat menyulam mangrove dan Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
Berita Seminar Nasional MC 2009: Peranan Mangrove dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim Global
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Tiga praktisi dari Jakarta yang memiliki spesialisasi dalam bidangnya masing-masing, yaitu Drs. Soetamto: Kepala Bagian Klimatologi dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dr.Ir. Eko Warsito MSc.: Departemen Kehutanan (DEPHUT) dan Ir. Eny Budi Sri Haryani, MSi: Kasubdit Rehabilitasi dan Pendayagunaan Pesisir dan Lautan Depertemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah didaulat oleh KeSEMaT untuk menjadi pembicara dalam Seminar Nasional (SEMNAS) Mangrove Cultivation (MC) 2009: Peranan Mangrove dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim Global. SEMNAS ini adalah salah satu rangkaian penyelenggaraan MC 2009 yang telah sukses diselenggarakan oleh KeSEMaT pada tanggal 20 – 22 Maret 2009. SEMNAS MC 2009 dimulai sesaat setelah Drh. Hermin S. (PEMDA Jepara) membuka secara resmi pelaksanaan MC 2009. Farhan Pramudito (MENPORSI), selaku moderator, mempersilahkan Drs. Soetamto (BMKG) untuk mempresentasikan makalahnya berjudul “Aplikasi Data BMKG dalam Penanggulangan Dampak Perubahan Iklim di Indonesia.” Selanjutnya, pemateri kedua, yaitu Dr.Ir. Eko Warsito MSc (DEPHUT) membawakan materi berjudul “Sosialisasi dan Aplikasi Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan dalam Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Selanjutnya, pemateri ketiga, yaitu Ir. Eny Budi Sri Haryani, MSi membawakan materi berjudul “UU No. 27/2007 Tentang PWP3K dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove pada Departemen Kelautan dan Perikanan.”
Sesi diskusi diisi dengan berbagai pertanyaan dari para peserta MC 2009 yang terbagi menjadi dua termin. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain adalah keberlanjutan program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan DEPHUT, manfaat data-data BMKG bagi masyarakat Indonesia dan syarat dan tata cara pengajuan dana hibah proyek mangrove dari DKP.
Setelah sesi diskusi selesai, SEMNAS MC 2009 resmi ditutup yang kemudian diikuti dengan prosesi penyerahan plakat dan kenang-kenangan dari KeSEMaT kepada para pembicara, yaitu Drs. Soetamto (BMKG) yang diwakili oleh Indriatmoko (Presiden), kepada Dr.Ir. Eko Warsito MSc (DEPHUT) yang diserahkan oleh Febriana Mirasti (Ketua MC 2009) dan kepada Ir. Eny Budi Sri Haryani, MSi (DKP) yang diberikan oleh Handung Nuryadi (DP). Selanjutnya, dilakukan foto bersama antara pembicara, panitia dan peserta SEMNAS MC 2009. Tak sampai di SEMNAS, saja. MC 2009 kemudian dilanjutkan dengan Pelatihan Mangrove yang dipandu langsung oleh Praktisi Mangrove dari KeSEMaT.
 
|
|
| March 26, 2009 | 11:03 AM |
|
|
 |
Praktisi Mangrove KeSEMaT Memberikan Pelatihan Pembibitan Mangrove Kepada 115 Peserta Mangrove Cultivation 2009
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Para Praktisi Mangrove KeSEMaT, yang diwakili oleh Farhan Pramudito (MENPORSI), Tutus Widjanarko (Anggota), Faradhian Fahmi (DP), Sapto Pamungkas (Alumni), Abdul Rohman Zaky (MENDIKTAN), Agus Susanto (Alumni), Windy Indra Ardiansyah (DP), Dr. Rudhi Pribadi (Pembimbing) dan Aris Priyono (DK), secara berturut-turut telah memberikan pelatihan mangrove kepada 115 peserta Mangrove Cultivation (MC) 2009: Seminar Nasional, Penyuluhan, Pelatihan, Pembibitan dan Penyulaman Mangrove yang sukses diselenggarakan oleh KeSEMaT pada tanggal 20 – 22 Maret 2009 di Desa Teluk Awur, Jepara. Berbagai pelatihan dan penyuluhan mangrove sengaja diberikan oleh KeSEMaT kepada para peserta MC 2009, dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada mereka mengenai pengetahuan mangrove seperti kebijakan, teknik pembibitan, penyulaman mangrove dan lain-lain.
Dalam kesempatan ini, Farhan Pramudito (MENPORSI) banyak memberikan informasi mengenai pengalaman KeSEMaT dalam mengelola kawasan mangrove di berbagai daerah di Indonesia. Selanjutnya, Tutus Widjanarko (Anggota) berkesempatan untuk memberikan informasi mengenai teknik penyulaman mangrove kepada para Peserta MC 2009. Tak hanya itu, Faradhian Fahmi (DP) juga memberikan pengetahuan mengenai berbagai kebijakan mangrove dan pengetahuan dasar pengelolaan mangrove yang harus diketahui oleh para Peserta MC 2009.
Sapto Pamungkas (Alumni) juga memberikan wacana tentang pengelolaan sampah dan berbagai informasi tentang teknik rehabilitasi mangrove KeSEMaT. Abdul Rohman Zaky (MENDIKTAN), Agus Susanto (Alumni), dan Windy Indra Ardiansyah (DP) melatih para peserta MC 2009 tentang teknik identifikasi mangrove sekaligus mengenalkan spesies mangrove yang ada di Teluk Awur, Jepara. Selanjutnya Dr. Rudhi Pribadi (Pembimbing) memberikan informasi mengenai mangrove secara biologis dan ekologis. Terakhir, Aris Priyono (DK) juga menambahkan mengenai wacana Mangrove Safe (MS) yang telah dilontarkan oleh KeSEMaT ke tingkat nasional.
Beragam informasi dan pengetahuan mangrove telah tersaji apik dalam MC 2009. Hal ini sengaja dilakukan oleh KeSEMaT dengan tujuan agar mangrove sebagai sebuah ilmu bisa lebih dimengerti dan populer lagi, di mata masyarakat Indonesia dan dunia. Amin. Salam MANGROVER!
 
|
|
| March 26, 2009 | 11:03 AM |
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
169529 views
|
 |