 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Pembagian zonasi mangrove berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangan air pasang
|
 Beberapa penikmat KeSEMaTBLOG, seringkali menanyakan kepada kami tentang pembagian ekosistem mangrove. Selain dilihat dari komponen vegetasinya (mangrove mayor, minor dan asosiasi), apakah mangrove juga bisa dibagi menurut karakteristiknya yang lain? Kami jawab, bisa. Memang, selain dilihat dari komponen penyusunnya, mangrove bisa juga dibagi berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangannya. Menurut Brown (2006), penelitian yang dilakukan oleh Watson (1982), menyebutkan bahwa berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangannya, mangrove dibagi menjadi lima kelas. Kelima kelas itu adalah (1) Kelas 1, adalah mangrove yang digenangi oleh seluruh level air dengan ketinggian 2,44 m dan frekuensi genangan 56-62 kali per bulan; (2) Kelas 2, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian sedang dengan ketinggian 3,35 m dan frekuensi genangan 45-59 kali per bulan; (3) Kelas 3, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian normal dengan ketinggian 3,96 m dan frekuensi genangan 20 - 45 kali per bulan; (4) Kelas 4, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian besar dengan ketinggian 4,57 m dan frekuensi genangan 2-20 kali per bulan; dan (5) Kelas 5, adalah mangrove yang digenangi oleh air saat terjadi pasang besar /abnormal (equinoctial tide) dengan ketinggian 15 m dan frekuensi genangan 2 kali per bulan. Berikut ini adalah contoh aplikasinya, pada hutan mangrove di Indonesia.
Kelas 1. Mangrove dalam kelas ini tergenang oleh semua ketinggian air. Spesies dominan yang tumbuh di sini adalah Rhizophora mucronata, R. stylosa dan R. apiculata. Untuk R. mucronata lebih banyak tumbuh pada areal yang lebih banyak pasokan air tawar. Di Indonesia Timur, Avicennia spp dan Sonneratia spp mendominasi zona ini.
Kelas 2. Mangrove pada kelas ini digenangi oleh tingkat air dengan ketinggian sedang. Spesies utama yang tumbuh adalah Avicennia alba, A. marina, Sonneratia alba, dan R. mucronata.
Kelas 3. Digenangi oleh ketinggian air normal. Kebanyakan spesies bisa tumbuh dalam ketinggian ini. Sebagian besar spesies mangrove tumbuh di sini sehingga tingkat keragaman hayati tinggi. Spesies yang paling umum adalah Rhizophora spp (seringkali dominan), Ceriops tagal, Xylocarpus granatum, Lumnitzera littorea, dan Excoecaria agallocha.
Kelas 4. Genangan hanya terjadi pada saat air tinggi. Spesies yang umumnya dapat tumbuh di sini adalah Bruguiera spp, Xylocarpus spp, Lumnitzera littorea, dan Excoecaria agallocha. Untuk Rhizophora spp, jarang ditemui di areal ini karena lahannya terlalu kering untuk tumbuh.
Kelas 5. Genangan hanya terjadi pada saat air pasang besar. Spesies utama adalah Bruguiera gymnorrhiza (dominan), Instia bijuga, Nypa fruticans, Herritera littoralis, Excoecaria agallocha dan Aegiceras spp.
Dari pembagian zonasi mangrove ini, bisa dilihat bahwa di habitat aslinya, mangrove tak bisa hidup secara sembarangan. Dengan kata lain, mangrove hidup di ketinggian dan genangan air pasang yang berbeda. Kesalahan survey dalam pekerjaan pra rehabilitasi mangrove dan cara penanaman yang tidak sesuai dengan pembagian kelas mangrove seperti di atas, bisa mengakibatkan kegagalan program rehabilitasi mangrove secara keseluruhan.
KeSEMaT menyarankan, sebelum melakukan pekerjaan konservasi mangrove, dilakukan terlebih dahulu survei ketinggian dan frekuensi genangan air pasang secara benar. Setelah didapatkan data yang akurat, barulah dilakukan penanaman mangrove yang titik-titik penanamannya disesuaikan dengan kelas-kelas mangrove (lihat foto di atas, pada saat para peserta Mangrove REpLaNT 2007 KeSEMaT melakukan penanaman mangrove di Teluk Awur Jepara).
Sebagai tambahan, masing-masing spesies mangrove tumbuh pada ketinggian substrat yang berbeda dan pada bagian tertentu tergantung pada besarnya paparan mangrove terhadap genangan air pasang. Untuk itu, kita perlu mempelajari tabel air pasang di daerah masing-masing dan mulai melakukan pengukuran di areal mangrove yang masih bagus dalam kaitan anatar ketinggian substrat dengan berbagai spesies mangrove yang tumbuh pada setiap kedalaman. Salah satu kunci penting yang harus dilakukan ketika melakukan rehabilitasi mangrove adalah mencontoh tingkat kemiringan dan topografi substrat dari mangrove terdekat yang ,masih bagus kondisinya. (Brown, 2006). Selamat mempraktekkan penanaman mangrove yang sesuai dengan ketinggian dan frekuensi genangan air pasang di mangrove. Mari selamatkan ekosistem mangrove kita. SEKARANG!

|
|
| April 30, 2008 | 10:04 AM |
|
|
 |
Penanaman mangrove dengan cara tabur benih
|
 Ada dua buah email yang masuk ke KeSEMaT yang menanyakan tentang teknik penanaman mangrove. Selain teknik penanaman langsung dan melaui persemaian, apakah masih ada lagi teknik penanaman lainnya yang umum digunakan dalam upaya rehabilitasi mangrove (?). Sebenarnya, masih ada satu teknik penanaman lagi, yang sangat praktis dan bersifat alami. Namun demikian, kiranya teknik ini hanya diperuntukkan bagi mangrove bertipe kriptovivipari yaitu tipe mangrove yang bijinya telah berkecambah ketika masih melekat pada pohon induknya, tetapi kecambahnya masih tertutup oleh kulit biji. Selanjutnya, teknik ini juga memerlukan bantuan air pasang karena teknik penanamannya adalah dengan cara menabur berbagai benih mangrove kriptovivipari (Avicennia, Xylocarpus, Sonneratia - lihat foto buah Sonneratia sp di atas ini-, dan lain-lain) tersebut ke permukaan air, pada saat pasang datang.
Brown (2006) menjelaskan bahwa pengumpulan dan penyebaran buah dan biji mangrove secara langsung ke permukaan air dapat merangsang pertumbuhan alami mangrove. Buah atau biji yang cocok, biasanya dapat ditemui di sepanjang garis pasang tertinggi pantai. Jika arealnya kekurangan sumber bibit alami, biji bisa dikumpulkan dari tempat lain yang memiliki banyak persediaan bibit. Teknik penanamannya sederhana, yaitu pada saat air pasang memenuhi areal lahan rehabilitasi, segera taburkan bibit mangrove tersebut. Biarkan biji atau bibit mangrove tersebut menemukan tempatnya sendiri yang cocok untuk pertumbuhan mereka. Dianjurkan untuk melakukan cara ini pada berbagai tingkat ketinggian air pasang.
Seperti dijelaskan di atas bahwa teknik penanaman tabur benih ini sangat sederhana dan tak memerlukan banyak tenaga apalagi biaya. Jadi, sangatlah praktis untuk menjaga daya regenerasi mangrove (secara alami). Namun demikian, karena proses pencarian tempat yang cocok bagi benih mangrove bersifat alami, maka kelulushidupan teknik penanaman ini, belum bisa diprediksi secara tepat. Teknik ini, digunakan sebagai teknik pelengkap bagi teknik-teknik penanaman secara langsung, dengan persemaian dan penggunaan bibit mangrove yang telah tumbuh di alam. Demikian, semoga informasi ini lebih melengkapi pengetahuan kita tentang teknik-teknik penanaman mangrove. Salam MANGROVER!

|
|
|
|
 |
Apa rahasia keberhasilan rehabilitasi mangrove di Rembang?
|
 Setelah membaca artikel di KeSEMaTBLOG berjudul “Pak Yadi, baik-baik saja,” seorang Bapak dari Surabaya, tertarik megetahui lebih jauh mengenai kondisi mangrove di Rembang. Beliau menanyakan kepada KeSEMaT, apa rahasia dibalik keberhasilan Bapak Suyadi (lihat foto Pak Yadi (bertopi) di samping ini, pada saat menjelaskan tentang teknik pembibitan mangrove kepada KeSEMaTERS, di kebun bibit mangrovenya) sehingga kawasan mangrove miliknya dijadikan rujukan bagi masyarakat Jawa Tengah yang ingin mengelola lahan mangrove gundul menjadi kawasan mangrove yang lebat. Untuk menjelaskan hal ini, kami menampilkan sebuah artikel tentang kondisi umum mangrove di Rembang plus tips and trick teknik penanaman dan pemeliharaan program rehabilitasi mangrove yang telah dilakukan oleh Pak Yadi sehingga berhasil menghijaukan kembali pesisir Rembang yang dulunya gundul. Berkat usahanya ini, Pak Yadi dan kelompok tani mangrovenya berhasil mendapatkan Piagam Penghargaan dari Menteri Negara Lingkungan Hidup sebagai calon penerima KALPATARU kategori Pengabdi Lingkungan di tahun 2006.
Informasi di bawah ini, ditulis langsung oleh Bapak Suyadi, selaku Ketua Kelompok Pelestari Sumberdaya Alam Desa Pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang. Tim KeSEMaTBLOG sedikit merevisi susunan kalimat tanpa merubah arti, agar lebih enak dibaca dan dinikmati. Selamat membaca, semoga bermanfaat.
Jenis mangrove Secara umum, jenis mangrove yang ada di Rembang terdiri dari (1) Pedada (Sonneratia); (2) Api-api (Avicennia); dan (3) Bakau (Rhizophora). Selanjutnya, Bakau terdiri dari (a) Bakau Biru (Bakau Besar); (b) Bakau Putih/Tumu; dan (c) Bakau Merah/ Tanjang.
Ciri-ciri Pedada adalah pohonnya bisa tumbuh besar, berbuah seperti manggis dan berdaun bulat tebal. Sementara itu, Api-api memiliki akar yang timbul dari bawah sehingga bisa menahan endapan tanah. Buahnya kecil-kecil dan bisa dimakan. Jenis ini, sangat cocok apabila ditanam di tanah berpasir dan sepanjang tanggul tambak. Kemudian, Bakau Biru/Besar berakar tunggang dan jarang. Buahnya berwarna hijau, panjang dan besar. Panjang buahnya bisa mencapai 40 - 50 cm. Bakau jenis ini berdaun lebar dan tebal. Bakau lainnya yaitu Bakau putih. Akarnya tunggang dan memilki banyak cabang pohon. Daunnya agak putih dan berbuah pendek antara 20 - 25 cm. Bakau terakhir yang ditemukan adalah Bakau Merah/Tanjang. Bakau ini memiliki akar tunggang yang banyak, tangkai daun dan daunnya berwarna merah dan berbuah kecil-pendek sekitar 10 - 15 cm. Sebagai catatan, tanaman bakau cocok sekali ditanam di daerah abrasi, karena akarnya banyak dan kuat untuk menahan gelombang.
Teknik penanaman 1. Benih tanaman Benih yang dapat dipakai sebagai calon bibit adalah yang sudah tua dan berkualitas baik. Buah/benih dikumpulkan dari pohon induk atau pohon yang sudah tua, berumur minimal 8 tahun. Pengumpulan benih dapat dilakukan dengan memetik buah yang sudah tua atau mengumpulkan buah yang jatuh di sekitar pohon. Kemudian, buah diseleksi untuk mendapatkan benih yang berkualitas baik. Benih yang telah dikumpulkan dan diseleksi harus cepat disemaikan atau direndam dalam air, supaya tidak cepat kering.
2. Sistem Pembibitan Cabutan 1. Bibit tanpa polibek Benih disemaikan dahulu di tepi pantai yang berlumpur tanpa menggunakan polibek. Setelah berumur 5 - 6 bulan, bibit dipindahkan ke lapangan. Untuk daerah genangan air, bibit minimal berumur 1 tahun.
2. Bibit dengan polibek Sistem bibit dalam polibek sangat efisien karena (a) Tidak perlu menyiram setiap hari. Pada saat air pasang, bisa tergenang sendiri. Diusahakan, bibit berada di bawah pohon mangrove. (b) Tidak perlu naungan buatan. (c) Lokasi pembibitan diusahakan yang bebas dari ombak.
Adapun benih yang belum bisa disemai di pembibitan sebaiknya diikat untuk selanjutnya direndam/dibenamkan di tepi pantai yang berlumpur. Penanaman diutamakan di tepi pantai yang belum tertanami. Untuk menambah kerapatan tanaman, sebaiknya bibit mangrove ditanam dengan jarak tanam 2 m 3 bibit, masing-masing berjarak 1 x 1 m atau ½ x ½ m. Hal ini dilakukan agar apabila ada bibit yang mati, jarak tanam tetap ideal.
Penanaman bibit mangrove menggunakan tiga cara 1. Memakai benih yang langsung ditanam/ditancapkan di pantai. Cara menanam benih adalah miring, menurut arus ombak supaya tidak roboh.
2. Memakai bibit cabutan. Diusahakan bibit yang masih muda, berdaun 3 - 4 pasang. Jarak antara pencabutan sampai dengan penanaman adalah 2 - 4 hari.
3. Memakai bibit dalam polibek. Penanaman pada saat surut di siang hari (September s/d Januari).
Berdasarkan pengalaman di Rembang, bibit mangrove yang berasal dari polibek tingkat keberhasilannya akan lebih besar. Sebagai tambahan, lokasi penanaman yang tergenang air lebih baik dibuatkan parit dengan arah membujur ke arah ombak di waktu surut, supaya air tidak menggenangi lokasi penanaman yang bisa mengakibatkan kematian bibit-bibit mangrove.
Program pemeliharaan Untuk program pemeliharaan mangrove di Rembang, meliputi penyulaman yang dilakukan di lokasi persemaian/pembibitan dan lapangan. Penyulaman dimaksudkan untuk mendapatkan jarak yang ideal. Selanjutnya, hama yang ditemukan di sepanjang kawasan mangrove di Rembang terdiri dari ganggang laut dan hewan pengganggu seperti runti/trisipan (teritip), wideng/kepiting/ketam, tikus, kambing, dan manusia. 1. Ganggang laut. Ganggang laut banyak ditemukan di Desa Pasar Banggi, Rembang. Program pemeliharaan dilakukan sebagai langkah pemberantasan ganggang laut/sampah plastik, yang sering menempel pada tanaman muda, yang mengakibatkan tanaman patah dan rusak.
2. Runti/Trisipan (Teritip) Teritip menyerang pangkal batang dan menempel/makan kulit bawah daun mangrove muda sehingga berlubang dan akhirnya mati.
3. Wideng Wideng biasanya menyerang tanaman muda berumur 1 tahun. Pada saat air pasang, Wideng naik ke atas dan memangsa daun-daun dan batang bakau yang masih muda.
4. Tikus Tikus pada saat air surut memangsa batang tanaman dan buah mangrove muda, yang mengakibatkan kematian.
5. Kambing Kambing memangsa bibit mangrove di sepanjang tepi tanggul dan pantai yang dilaluinya.
6. Manusia Kegiatan manusia seperti menjala ikan bisa menyebabkan tersangkut dan tercabutnya bibit mangrove. Selain itu, penjala ikan bisa menginjak biji/benih mangrove. Pengumpulan udang nener juga berpotensi untuk mencabut benih. Apalagi, apabila pencari ikan menarik jaringnya. Selain itu, perahu nelayan yang mendarat di sekitar tanaman mangrove, bisa merusak bibit mangrove karena menimbulkan ombak yang besar.
Demikian infomasi teknik rehabilitasi mangrove di Rembang yang telah berhasil dilakukan oleh Bapak Suyadi dan kelompok tani mangrovenya. Sebagai catatan, teknik rehabilitasi mangrove di Rembang ini agak sedikit berbeda dengan teknik rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh KeSEMaT di Jepara. Hal ini bisa terjadi karena teknik rehabilitasi mangrove memang berbeda-beda di setiap daerah, menyesuaikan dengan kondisi alam dan budaya masyarakat setempat.

|
|
|
|
 |
Bagaimana kondisi terbaru bayi mangrove Trimulyo?
|
 Kondisi bibit-bibit mangrove yang telah kami tanam, baik-baik saja. Lihatlah foto di samping ini. Inilah kondisi terakhir bayi-bayi mangrove yang telah kami tanam dalam program Mangrove Conservation 2007: Penyuluhan dan Penanaman Mangrove di Kelurahan Trimulyo Kecamatan Genuk - Semarang Jawa Tengah, pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2007, yang lalu. Setelah beberapa bulan berlalu, persentase kehidupan bibit mangrove kami mencapai 70%. Keberhasilan mencapai kelulushidupan yang tinggi ini, tak lepas dari metode survey dan teknik penanaman yang benar. Jadi, Jangan kuatir. Jangan kuatir. Itulah sebuah kalimat sekaligus jawaban yang akhir-akhir ini sering kami “dengungkan,” juga selalu kami sampaikan kepada rekan-rekan dan masyarakat yang mengirimkan emailnya kepada kami dan menanyakan kondisi terakhir Bayi-Bayi Mangrove Trimulyo (BBMT), kami.
Sebagai informasi, pada saat kami melakukan kunjungan terakhir ke sana (25/03/08), BBMT yang tak bisa beradaptasi, terletak di beberapa titik di sekitar muara. Hipotesa kami adalah, gelombang tinggi telah merobohkan BBMT. Namun jangan kuatir, untuk mengganti BBMT yang gagal beradaptasi, KeSEMaT akan menerapkan konsep pemeliharaan mangrove secara kontinyu dan terus menerus. Konsep ini telah berhasil diterapkan oleh KeSEMaT dalam membangun Arboretum Mangrove-nya di Teluk Awur Jepara (dengan tingkat kelulushidupan 100%). Diharapkan, konsep ini mampu memacu pertumbuhan BBMT hingga 100%, layaknya di Jepara. Jadi, sekali lagi, jangan kuatir. Kami akan terus menjaga dan memelihara BBMT kami.
Untuk mengawali program pemeliharaan mangrove ala KeSEMaT. Sebuah program bernama KeSEMaT Goes To School (KGTS) 2008: Penyuluhan dan Penanaman Mangrove ke Kalangan Pelajar dan Mahasiswa akan mulai digulirkan mulai Mei 2008 ini. Walaupun sasaran utamanya adalah siswa SD sampai dengan perguruan tinggi, namun KGTS tidak hanya akan ditujukan untuk pelajar dan mahasiswa saja, melainkan juga akan melibatkan semua unsur masyarakat di Trimulyo untuk melakukan penyulaman terhadap BBMT, di setiap bulannya. Program ini, akan dilakukan selama delapan bulan ke depan. Informasi lengkap mengenai KGTS 2008, akan dijelaskan dalam artikel mendatang.
Kembali berbicara tentang BBMT, ternyata cerita sukses kami dalam mengabdi kepada mangrove, telah menginisiasi banyak organisasi lingkungan. Satu contoh, sebuah organisasi mahasiswa Ilmu Kelautan UNDIP Semarang bernama HMIK, meminta kepada KeSEMaT untuk mendampingi mereka dalam melakukan kegiatan bersih pantai dan penanaman mangrove di Trimulyo, guna membantu KeSEMaT dalam menjaga tingkat hidup BBMT. Tentu saja, kami senang. Semoga saja, di waktu-waktu mendatang akan ada banyak lagi organisasi lainnya yang bergabung bersama kami dalam menyelamatkan mangrove di Trimulyo Semarang.
Sebelum mengakhiri artikel ini, kiranya kami merasa perlu untuk menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada masyarakat yang ternyata telah begitu peduli dengan pekerjaan mangrove kami. Puluhan email, telah menyatakan dukungannya atas kinerja kami. Selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh masyarakat terhadap kondisi BBMT kami, merupakan sebuah bukti bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya masih memilki semangat dan rasa peduli yang cukup tinggi dengan daerah pesisirnya. Mari bersama menyelamatkan mangrove kita. Sekarang!

|
|
|
|
 |
Kisah tenggelamnya tiga desa
|
 Rasanya, sudah banyak sekali, kami menulis dan menceritakan tentang beraneka kisah pilu di daerah-daerah pesisir. Kini, dengan sedihnya, kiranya kami akan menceritakan lagi, sebuah fakta menyedihkan yang dialami oleh tiga buah desa di tiga buah daerah yang berbeda, di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa. Ketiga desa tersebut bernama Bulak Lama - Jepara, Morodadi - Demak dan Trimulyo - Semarang (lihat foto di samping). Walaupun berbeda lokasi, namun ketiga desa di Jawa Tengah tersebut memilki satu kisah dan sebuah nasib yang sama. Di tahun 2008 ini, karena ulah manusia, ketiganya telah, sedang dan akan segera tenggelam, hilang ditelan lautan. Desa pertama bernama Bulak Lama. Sebuah desa yang (dulunya) terletak di pesisir pantai Jepara, kini sudah tak terlihat lagi. Desa ini, sudah hilang, disapu gelombang laut nan ganas. Abrasi pantai yang tinggi dan perubahan lahan mangrove menjadi tambak-tambak ikan adalah salah satu penyebab hilangnya desa ini dari permukaan bumi. Mangrove yang seharusnya mampu melindungi warga Bulak Baru dari abrasi pantai, dengan sadar telah ditebangi sendiri oleh mereka. Akhirnya, abrasi terus terjadi dan “menenggelamkan” desa itu ke dasar laut. Kini, desa itu tak ada lagi. Sebagai ganti, sebuah desa baru telah lahir bernama Bulak Baru. Tapi, tak tahu apakah desa ini mampu “berumur panjang.” Yang jelas, di sekelilingnya, konversi lahan mangrove sudah terlihat lagi. Sepertinya, manusia tak memilki kemauan untuk memetik pelajaran pahit dari para pendahulunya.
Desa kedua, bernama Morodadi yang merupakan sebuah desa di Kabupaten Demak. Walaupun belum tenggelam seperti Bulak Lama, namun dalam sebuah acara sarasehan antara warga desa setempat dengan pemerintah, bertajuk Pencanangan Mitigasi Bencana dan Antisipasi Perubahan Iklim Global dan Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL), 15 Desember 2007 yang lalu, Bapak Camat (BC) sudah mulia mendesak pemerintah pusat untuk segera memindahkan warganya ke sebuah desa (tempat) yang lebih tinggi. Apa pasal? Karena lautan sudah menggulung sebagian besar rumah warganya dan hanya menyisakan puluhan Kepala Keluarga (KK), saja. Tak hanya perumahan yang hilang, hampir tenggelamnya desa ini, juga menyebabkan banyak penyakit, terasa asinnya air tawar karena intrusi air laut, sulitnya mencari air bersih untuk MCK, rusaknya makam-makam warga dan lain sebagainya. Jika tidak segera dibedol, entah bagaimana lagi nasib KK yang tersisa, di Morodadi ini.
Selanjutnya, desa ketiga adalah desa kecil, yang terletak di Daerah Industri Terboyo Semarang. Desa ini bernama Trimulyo. Walaupun belum tenggelam dan tak ada BC yang menuntut bedol desa, namun apabila melihat fakta di lapangan, dimana sampai dengan akhir April 2008 ini masih saja terjadi konversi lahan besar-besaran di desa ini, maka bisa diprediksi, beberapa tahun ke depan, Trimulyo Semarang akan mengalami nasib yang sama dengan kedua desa sebelumnya. Cermatilah foto di atas, lihatlah betapa mangrove sudah tertebangi dengan sempurnanya. Kalau mau dihitung, hanya tinggal lima puluh batang mangrove saja yang tersisa, berjajar rapi di samping perumahan warga yang masih ada. Selebihnya, lihatlah lautan daratan telah menimbuni lautan air estuaria. Di atas lautan daratan itu, nantinya akan didirikan 3P yaitu Pabrik, Perumahan dan Pergudangan, untuk alasan kesejahteraan umat manusia.
Padahal, kalau warga sana mau belajar dari pengalaman pahit dua desa di Jepara dan Demak, justru dengan pembukaan dan konversi lahan mangrove menjadi peruntukan lainnya seperti ini, akan sangat membahayakan Trimulyo sendiri pun menyebabkan banyak masalah seperti rob, intrusi air laut ke daratan, abrasi pantai yang akan menyerang 3P. Pemerintah setempat yang notabene melakukan konversi ini, pasti juga melupakan fakta bahwa di Bulak Lama dan Morodadi, dulu warganya juga menebangi mangrove, mengurug lahannya dengan tanah, membuatnya menjadi tambak dan perumahan. Mereka melakukan hal yang sama, layaknya di Trimulyo sekarang. Lalu, apa yang terjadi kemudian? Saat mangrove terakhir ditebang, ketika tak ada lagi mangrove yang melindung tambak dan rumah mereka dari gelombang laut nan maha dahsyat, kedua desa tadi tenggelam!
Kita pasti sepakat. Kita juga seratus persen yakin. Walaupun sudah dipaparkan dan diperlihatkan kisah tenggelamnya tiga desa ini, tak akan pernah ada sedikitpun niatan dari kita untuk mau belajar apalagi peduli dengan pesisir kita. Dari semua kisah miris di pesisir yang terus terjadi dan berulang satiap tahun, sepertinya kita tak punya waktu untuk belajar. Jika memang demikian yang kita inginkan, tinggal tunggu waktu saja. Bisa jadi, di tahun 2020, giliran desa pesisir Anda yang tenggelam. Tapi tak apalah, pasti Anda berpikir Anda tak akan merasakannya karena keburu dipanggil Yang Maha Kuasa. Tapi, bagaimana dengan anak cucu Anda?

|
|
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
169519 views
|
 |