TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
KeSEMaT UNDIP - My Blog
KeSEMaT UNDIP - My Blog
« previous 5


Cerita hilangnya BBM di Teluk Awur Jepara

Di akhir Mei ini, beberapa email dari masyarakat yang masuk ke KeSEMaTMAIL, menanyakan kepada kami tentang apakah KeSEMaT memiliki pengalaman kegagalan dalam melakukan upaya rehabilitasi mangrove di pesisir. Kalau ya, mereka ingin agar pengalaman ini dibagikan kepada mereka berikut tata cara pencegahannya dan sedikit pengetahuan mengapa hal itu bisa terjadi.

Kalau saja Anda jeli, sebenarnya KeSEMaTBLOG telah menampilkan beberapa cerita tentang ketidaksuksesan ini. Contohnya, artikel tentang matinya sekitar 100 buah Bayi-Bayi Mangrove (BBM) kami, pada saat kami mencoba teknik penanaman mangrove dengan metode kubangan (penanaman mangrove jenis Rhizophora di substrat berpasir dengan cara melubangi substrat pasir tersebut, yang kemudian diisi dengan substrat lumpur. Rhizophora kemudian ditanam di substrat lumpur, di dalam kubangan pasir) yang berakibat pada matinya semua BBM karena tertutup pasir.

Selanjutnya, artikel tentang program KeSEMaT Goes Arboretum - KGTA (lihat foto di atas, nampak KeSEMaTERS berfoto di tengah-tengah ajir namun tak ada satupun BBM yang nampak hidup) yang bercerita tentang kematian hampir 60% BBM, di lokasi penanaman Mangrove REpLaNT (MR) 2005.

Kesimpulannya, memang tak hanya cerita sukses saja yang selalu menyertai pekerjaan kami di pesisir. Beberapa kali kegagalan dalam melakukan upaya restorasi mangrove di Teluk Awur Jepara, juga pernah kami alami. Dua buah lokasi di Arboretum Mangrove KeSEMaT (ARMaT) yang gagal kami rehabilitasi, adalah bukti ketidakberdayaan, kami.

Namun demikian, bukti kegagalan ini ternyata membawa efek positif. Apa pasal? Kami jadi bisa memberikan pola edukasi yang berimbang kepada masyarakat, organisasi dan institusi lainnya pada saat mereka berkunjung ke ARMaT sembari belajar mengenai tahap-tahap rehabilitasi mangrove di pesisir. Tak hanya cerita keberhasilan saja yang melulu kami informasikan. Berita duka kegagalan, juga kami bagikan kepada mereka.

Selanjutnya, kami juga bisa dengan lengkapnya menjelaskan kepada mereka tentang pengetahuan mengenai ekosistem mangrove, contoh restorasi mangrove yang berhasil dan yang tidak, berikut alasan mengapa hal itu bisa terjadi. ARMaT memang terbagi menjadi dua buah lokasi mangrove yang memiliki tingkat persentase hidup bibit mangrove yang berbeda, yaitu 100% (untuk yang berhasil) dan 40% (untuk yang gagal).

Penyebab gagalnya rehabilitasi mangrove di salah satu titik di ARMaT, sampai dengan sekarang masih menjadi kajian studi kami. Beberapa hipotesa yang bisa disampaikan antara lain adalah (1) ketidakcocokan substrat dengan bibit mangrove yang ditanam (2) tertutupnya saluran air sehingga menghalangi pola sirkulasi pasang surut (3) kesalahan tata cara penanaman dimana bibit mangrove tidak terikat ke ajir dengan sempurna (4) kondisi lokasi penanaman yang memang adalah ekosistem laguna dan tak seharusnya ditanami dengan BBM (5) musim kering yang berkepanjangan yang mengeringkan air di lokasi penanaman sehingga menyebabkan kematian BBM (6) mangrove berhabitat pada lokasi yang memiliki ketinggian dari permukaan laut yang berbeda, ketidaksesuaian bibit mangrove yang ditanam dengan ketinggian lokasi penanaman, diduga juga menjadi penyebabnya.

Untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kegagalan penanaman, pada program MR 2008 yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 - 20 Juli 2008 nanti, KeSEMaT pada tanggal 24 - 25 Mei 2008 telah melakukan beberapa tindakan pencegahan di lokasi penanaman, seperti (1) pembuatan saluran air untuk memperlancar sirkulasi air (2) perubahan spesies dari Rhizophora menjadi Ceriops dan Avicennia, mengingat susbtrat di lokasi didominasi oleh pasir berkarang (3) sosialisasi lebih awal tentang penerapan metode penanaman mangrove yang benar kepada peserta MR 2008, dan beberapa tindakan persiapan lainnya.

Sebagai informasi, ada beberapa kasus pengingkaran terhadap kegagalan restorasi mangrove di pesisir. Umumnya, setiap pihak yang mengerjakan program/proyek rehabilitasi mangrove, akan mengklaim bahwa dirinya berhasil mencapai persentase kelulushidupan BBM yang tinggi, padahal tidaklah demikian. Sebuah kenyataan bahwa BBM yang ditanam banyak yang mati, seolah tak diakuinya. Mengapa banyak oknum yang bertindak seperti ini? Tak lain dan tak bukan karena mereka ingin mendapatkan pekerjaan restorasinya kembali, sembari “menjaga” kredibilitas institusinya agar selalu dipandang sebagai sebuah institusi yang selalu berhasil dalam melakukan pekerjaan rehabilitasi mangrove di pesisir. Tentunya, ini semua dilakukan demi uang semata.

“Penipuan” pekerjaan konservasi di wilayah pesisir seperti ini, pada akhirnya hanya akan berakibat buruk bagi lingkungan dan kehidupan kita. Proyek-proyek mangrove yang “seharusnya” gagal tapi diklaim berhasil tak akan bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi upaya pencegahan kegagalan proyek mangrove di masa depan.

Sebuah kasus terjadi di Sulawesi Utara, dimana ada banyak program rehabilitasi yang mengalami kegagalan sehingga hanya menghabiskan waktu dan uang. Upaya penanaman yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah setempat, terhadap satu areal bekas tambak udang, dilakukan sampai lima kali dalam kurun waktu delapan tahun. Anakan (bibit) mangrove ditanam tanpa memperhatikan kondisi ekologi (ketinggian substrat, aliran air, dan jenis yang cocok) sehingga hanya dalam waktu satu tahun, tingkat kematian anakan mangrove tersebut mendekati 100%. Namun demikian, dana rehabilitasi terus dikucurkan tanpa mencari penyebab kegagalan (Brown, 2006).

Kiranya, akan menjadi lebih baik apabila kita ini sebagai pelaksana program/proyek mangrove, mengakui saja tentang rendahnya persentase hidup anakan bakau kita. Mengapa demikian? Tentu saja dengan begitu, kita bisa menjadikan pengalaman kegagalan ini sebagai sebuah pedoman dan pembelajaran bersama demi usaha rehabilitasi mangrove, yang lebih baik lagi di masa mendatang. Sayangnya, ini tidak kita lakukan. Seringkali, kita ini berbohong kepada manusia -demi mendapatkan seonggok uang- dengan mengatakan bahwa BBM kita banyak yang hidup, walaupun tidak. Tega nian kita kepada bakau.

Pikiran kita, mungkin telah terpola sedemikian rupa sehingga beranggapan bahwa setiap keberhasilan adalah baik dan sebuah kegagalan adalah buruk. Kita lupa dengan pepatah bijak “Experience is the best teacher”. Tanpa memandang pengalaman itu baik ataupun buruk, dia tetap guru yang terbaik untuk membenahi langkah kita berikutnya. Semoga saja kita cepat tersadar, dan tak lagi malu lagi untuk mengakui kegagalan restorasi mangrove kita ke masyarakat banyak. Amin. Let’s save our mangrove. NOW!

May 29, 2008 | 9:05 AM Comments  0 comments



Mengapa substrat di ekosistem mangrove selalu berlumpur dan apakah mangrove adalah spesies yang dominan di estuaria?

Minggu-minggu ini, ada dua buah pertanyaan dari Bapak Sarno yang menanyakan tentang (1) Mengapa substrat di ekosistem mangrove selalu lumpur/berlumpur dan (2) Apakah daerah estuaria itu (deskripsinya). Untuk pertanyaan mengapa mangrove hidup di lumpur, sepertinya telah terjawab dengan sendirinya karena habitat mangrove adalah di daerah estuaria yang notabene selalu terkena pasang surut sehingga daerahnya selalu tergenang secara berkala atau terus-menerus oleh air pasang. Proses penggenangan inilah yang menyebabkan substrat mangrove “selalu berlumpur”.

Tetapi, tak selamanya mangrove berhabitat di daerah berlumpur. Hanya spesies-spesies tertentu saja yang hidup di daerah ini, misalnya Rhizophora spp. Beberapa jenis mangrove seperti Pandanus spp, Bruguiera spp, Avicennia spp dan Sonneratia spp, ternyata lebih menyukai substrat berpasir sebagai tempat hidup mereka. Lihatlah foto di atas, pada saat KeSEMaTERS berkunjung ke site Pandanus di Arboretum KeSEMaT Ujung Piring Jepara, terlihat bahwa substratnya (juga) berpasir. Sebagai tambahan informasi, di Teluk Awur dan Ujung Piring Jepara, beberapa jenis Rhizhopora sp dan Sonneratia sp, ditemukan di pantai dengan substrat karang berlumpur.

Selanjutnya, Rhizophora stylosa dan Sonneratia alba juga mampu tumbuh di pantai berbatu. Tak hanya itu, mangrove juga hidup di daerah pantai bergambut seperti di utara Teluk Bone dan sepanjang Larian - Lumu, Sulawesi Selatan (Noor, dkk, 1999).

Pertanyaan kedua adalah tentang estuaria. Untuk pertanyaan tentang “front” (sebutan Bapak Sarno untuk estuaria), kami rasa Bapak Sarno telah bisa menjawabnya dengan baik, yaitu sebuah ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan. Estuaria secara langsung berhubungan erat dengan obyek studi yang kita pelajari, yaitu mangrove. Bagaimana mekanisme pembentukan estuaria (?), tentunya hal ini berkaitan sekali dengan proses fisika kimia yang terjadi di estuaria seperti transpor sedimen, gelombang, arus, proses geologi dan lain sebagainya.

Untuk biota yang hidup di estuaria, di KeSEMaTBLOG sebenarnya sudah banyak dibahas. Beberapa artikel tentang flora dan fauna mangrove juga banyak dijumpai. Selanjutnya, dari beberapa literatur yang ada, seperti di Hogarth, Tomlinson, Bengen, dan lain sebagainya, secara umum bisa disimpulkan bahwa biota di estuaria bisa dibagi menjadi tiga bagian yaitu di bagian bawah substrat, di substrat dan di atas substrat. Untuk jenis-jenisnya sangat bervariasi mulai dari beberapa jenis mangrove mayor (Rhizophora, Avicennia, Sonneratia), mangrove minor dan asosiasi, gastropoda (keong), kepiting (crab), ikan gelodok (mudskipper), kupu-kupu, lebah, hingga buaya, musang, biawak, bermacam-macam jenis burung dan lain sebagainya.

Untuk pertanyaan apakah mangrove merupakan tumbuhan yang dominan di estuaria? Kami jawab, ya. Mengapa demikian? Karena mangrove merupakan tumbuhan yang paling berhasil beradaptasi dengan baik di lingkungan estuaria yang “ganas”. Mengapa ganas? Karena kurangnya suplai oksigen di air, mengakibatkan air di daerah mangrove bersifat anoksik (baca: kekurangan oksigen sehingga bersifat “racun”). Dan, mangrove ternyata mampu beradaptasi dengan baik, di lingkungan yang ekstrim seperti ini. Untuk itulah, mangrove ditemukan paling dominan di estuaria.

May 28, 2008 | 8:05 AM Comments  0 comments



Bagaimana cara rehabilitasi Kandelia candel

Bapak Sarno dari Klaten Jawa Tengah, menanyakan tentang bagaimana tata cara merehabilitasi spesies mangrove bernama Kandelia candel. Lihatlah foto di samping ini. Inilah foto buah Kandelia. Sifatnya yang Vivipari, membuat usaha rehabilitasi (penyemaian dan penanaman) spesies ini, adalah sama dengan Rhizophora. Tata cara rehabilitasi famili Rhizophoraceae ini, sudah sering dibahas di KeSEMaTBLOG.

Intinya adalah bahwa tipe buah mangrove Vivipari, yaitu tipe buah yang telah berkecambah yang kecambahnya keluar dari kulit buahnya, diperlakukan dengan cara menancapkan hipokotil (propagulnya) ke dalam substrat. Pembibitan dan penanamannya juga sama, yaitu setelah tiga bulan di bedeng persemaian, bibit mulai ditanam di lokasi penanaman dengan cara menancapkan sepertiga panjang bibitnya ke dalam tanah, yang diikatkan ke ajir dengan tali rafia untuk mencegah robohnya bibit.

Tata cara pemeliharaannya-pun sama yaitu dengan cara menyianginya dari sampah, polutan dan hama pengganggu lainnya. Setiap kali ditemukan bibit yang mati, diusahakan untuk selalu dilakukan program penyulaman untuk mengganti bibit-bibit mati tersebut dengan bibit Kandelia yang baru, secara kontinyu.

Selanjutnya, Noor, dkk (1999) mengatakan bahwa Kandelia candel termasuk jenis mangrove yang langka. Empat jenis mangrove yang tersisa berstatus langka secara global, sehingga memerlukan pengelolaan khusus untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Jenis-jenis tersebut adalah Amyema anisomeres, Oberonia rhizophoreti, Kandelia candel, dan Nephrolepis acutifolia. Dua diantaranya, A. anisomeres dan N. acutifolia hanya terkoleksi satu kali, sehingga hanya diketahui tipe setempat saja.

Untuk melengkapi pengetahuan kita tentang Kandelia candel, berikut ini berikut ini adalah deskripsi tentang Kandelia candel, (L.) Druce, menurut Noor, dkk (1999).

Nama lain
Berus-berus, beras-beras, beus, pulut-pulut, pisang-pisang laut.

Deskripsi umum
Semak atau pohon kecil, tinggi hingga 7 m dengan pangkal batang lebih tebal. Umumnya tanpa akar nafas. Kulit kayu berwarna keabu-abuan hingga coklat-kemerahan, permukaan halus dan memiliki lenti sel.

Daun
Tepi daun mengkerut ke dalam. Unit dan letak sederhana dan bersilangan. Bentuk
elips-bulat memanjang. Ujung membundar hingga sedikit runcing.

Bunga
Tandan bunga bercabang dua, memiliki 4 dan kadang-kadang 9 berwarna putih, panjangnya 1,5-2 cm. Kelopak bunga tabung daun kelopak bunga melebihi bakal buah dan memiliki cuping sejajar yang melengkung ketika bunga mekar penuh. Daun mahkota panjangnya 14 mm. Benang sari banyak dan berbentuk filamen.

Buah
Berwarna hijau berbentuk oval, panjang 1,5-2,5 cm. Hipokotil silindris panjangnya 15-40 cm.

Ekologi
Tumbuh secara sporadis pada pematang sungai pasang surut. Menempati relung yang sempit.

Penyebaran
Timur Laut Sumatera, Kalimantan Barat dan Utara, India, Burma, Thailand, Indo-Cina, Cina, Taiwan, Jepang Selatan dan Malaysia.

Kelimpahan
Sangat terbatas dan jarang.

Manfaat
Utamanya untuk kayu bakar.

May 27, 2008 | 9:05 AM Comments  0 comments



Kontinyuitas yang coba ditebas

Ada pandangan dari beberapa pihak yang menurut kami “agak aneh” yang menilai bahwa sebuah kontinyuitas kiranya harus mulai “ditebas”. Mereka berpendapat bahwa untuk melakukan sesuatu, tak melulu harus dibarengi dengan konsep kontinyuitas. Sebagai contoh, program-program rehabilitasi mangrove, seharusnya tak usah berlangsung terus menerus setiap tahun melainkan hanya beberapa waktu saja.

Apa pasal? Karena kalau terlalu lama, sudah pasti akan membutuhkan banyak waktu, uang dan menghabiskan ribuan tenaga. Walaupun terkesan “lucu”, kami menanggapi pandangan ini dengan “senyuman manis”.

Terus terang, kami agak sedikit heran dengan penilaian yang mengatakan bahwa kontinyuitas (yang juga sudah dilakukan oleh KeSEMaT) adalah usaha sia-sia dan tiada guna. Masih menurut mereka, penyuluhan mangrove juga cukuplah dilakukan sekali, saja. Tak usah diadakan puluhan kali. Selain membosankan, juga akan menghabiskan banyak uang dan tenaga, saja. Astagfirullah!

Tanpa berniat untuk mengomentarinya lebih jauh, memang sangat benar bahwa setiap usaha restorasi mangrove di wilayah pesisir akan banyak sekali mengeluarkan uang pun jutaan waktu dan tenaga. Menurut hemat kami, ini adalah resiko mahal yang wajib kita tanggung. Resiko dari perbuatan “tidak senonoh” kita yang sudah terlanjur kita lakukan terhadap alam pesisir, kita.

Apakah kita sadar, bahwa kita ini sudah terlanjur merusak dan menodai ekosistem pesisir kita. Maka(nya), banyaknya tenaga, panjangnya waktu dan besarnya uang untuk usaha perbaikan ke arah kondisi awalnya, tentu saja harus kita tanggung bersama sebagai sebuah kompensasi yang wajib kita bayarkan kepada alam pesisir kita. Benar kata pepatah, “mencegah itu lebih baik daripada mengobati”. Nah, kalau sudah mengobati, jangan tanya lagi berapa trilyunan money yang harus kita kucuri. Jadi, karena kita ini sudah dalam tahap mengobatai (bukan mencegah), maka mau tak mau kita wajib mengorbankan semua milik kita, demi menyelamatkan wilayah pesisir kita.

Kembali ke masalah mulai ditebasnya kontinyuitas. Menurut hemat kami, pandangan yang mengatakan bahwa kontinyuitas tak perlu adalah sah-sah, saja. Toh, setiap orang memiliki hak untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tapi, kami kok merasa yang menganut faham Non-Kontinyuitas (NK) ini adalah pihak yang belum tahu kondisi lapangan yang sebenarnya.

Walaupun di sedikit wilayah pesisir di pantai Utara Jawa, kesadaran masyarakat untuk mengelola pesisirnya sudah sangat baik, namun di banyak wilayah di Indonesia, masih bejibun pula orang yang belum tahu apalagi mengerti akan arti penting mangrove beserta tata cara restorasinya. Untuk itulah, selama tujuh tahun ini bekerja di pesisir, kami berusaha memberikan Penyuluhan, Penanaman dan Pemeliharaan Mangrove (P3M) secara kontinyu dan tak terputus di tiap generasi mereka.

Lihatlah foto di atas, sebuah usaha kami untuk memperkenalkan kuliner mangrove di Mangrove REpLaNT 2007: Penyuluhan, Pelatihan dan Penanaman Mangrove, kepada kurang lebih 200 orang peserta, tak hanya kami lakukan di tahun 2007 saja, melainkan terus menerus kami kampanyekan hingga kini, di saat kunjungan kerja kami, di beberapa daerah di pantai Utara Jawa. Hasilnya? Sayang sekali, usaha kami masih juga belum berhasil secara maksimal.

Jika secara kontinyu saja, kami masih belum berhasil, lalu bagaimana mungkin konsep ketidakkontinyuian itu bisa diterima (?). Padahal, apabila sekali saja P3M terputus di satu generasi, maka kita harus mengulang P3M itu mulai dari awal lagi, untuk membuat sebuah pengetahuan mangrove bisa diterima secara baik lagi, oleh masyarakat pesisir. Adalah sangat sulit untuk merubah mindset masyarakat yang sudah terlanjur menganggap hutan mangrove adalah sebuah kawasan penuh penyakit, sampah serta ladang nyamuk, kalau tidak dilakukan secara kontinyu dan terus menerus.

Sampai sekarang ini, kamipun tak habis pikir, mengapa muncul pihak NK, ini. Terkadang, ada pemikiran-jelek yang terlintas di benak kami, bahwa orang-orang NK sebenarnya sayang untuk mau mengeluarkan uangnya untuk mendanai program-program rehabilitasi mangrove/pesisir. Kalau pikiran-jelek kami ini benar (semoga saja salah), tentu saja sangat disayangkan. Setelah sekian tahun hidup berdampingan dan merusak alam kita, para NK tidak mau mengeluarkan segepok uang demi usaha pelestariannya. Padahal, usaha pelestarian inipun, kalau mereka sadar, adalah juga demi kesejahteraan mereka, kebahagiaan kita bersama, umat manusia, di masa mendatang.

Selanjutnya, jikalau NK gusar akan usaha kontinyuitas ini memboroskan banyak uang(nya), maka tak usahlah terlalu kuatir. Dana untuk usaha rehabilitasi mangrove secara kontinyu ini, sebenarnya adalah dana swadaya kami sendiri. Jadi, bagi pihak NK yang takut uangnya keluar, tak usah kuatir. Kami berjanji, kami tidak akan melibatkan diri Anda dalam usaha restorasi mangrove ini, demi masa depan Anda, anak cucu Anda dan seluruh umat manusia, ini.

Namun demikian, kami berharap bahwa Anda janganlah menjadi orang yang berusaha untuk menebas kekontinyuitasan pekerjaan mangrove, ini. Apa pasal? Karena bekerja di dunia mangrove, hukumnya haram apabila dimainkan dengan konsep NK. Pun, sekali ditebas, yakinlah kekontinyuitasan itu, akan menetas dan meretas kembali. Salam MANGROVER!

May 20, 2008 | 2:05 AM Comments  0 comments



The Asian Tsunami: A Protective Role for Coastal Vegetation

The scale of the 26 December 2004 Indian Ocean tsunami was almost unprecedented. In areas with the maximum tsunami intensity, little could have prevented catastrophic coastal destruction. Further away, however, areas with coastal tree vegetation were markedly less damaged than areas without. Mangrove forests are the most important coastal tree vegetation in the area and are one of the world’s most threatened tropical ecosystems

Measurement of wave forces and modeling of fluid dynamics suggest that tree vegetation may shield coastlines from tsunami damage by reducing wave amplitude and energy. Analytical models show that 30 trees per 100 m2 in a 100-m wide belt may reduce the maximum tsunami flow pressure by more than 90%. Empirical and field-based evidence is limited, however.

Cuddalore District in Tamil Nadu, India, provides a unique experimental setting to test the benefits of coastal tree vegetation in reducing coastal destruction by tsunamis. Cuddalore has a relatively straight shoreline, a fairly uniform beach profile, and a homogenous continental slope. Moreover, the shoreline comprises vegetated as well as non-vegetated areas and was documented by cloudfree pre- and post-tsunami satellite images.

The force of the tsunami impact in Cuddalore is illustrated by the central part of our study area (see Figure attached). At the river mouth, the tsunami completely destroyed parts of a village and removed a sand spit that formerly blocked the river. However, areas with mangroves and tree shelterbelts were significantly less damaged than other areas (supporting online text). Damage to villages also varied markedly. In the north, stands of mangroves had five associated villages, two on the coast and three behind the mangrove. The villages on the coast were completely destroyed, whereas those behind the mangrove suffered no destruction even though the waves damaged areas unshielded by vegetation north and south of these villages. In the south, the shore is lined with Casuarina plantations. Five villages are located within these plantations and all experienced only partial damage. The plantations were undamaged except for rows of 5 to 10 trees nearest to the shore, which were uprooted.

Our results suggest that mangroves and Casuarina plantations attenuated tsunami-induced waves and protected shorelines against damage. Human activities reduced the area of mangroves by 26% in the five countries most affected by the tsunami, from 5.7 to 4.2 million ha, between 1980 and 2000. Conserving or replanting coastal mangroves and greenbelts should buffer communities from future tsunami events. Mangroves also enhance fisheries and forestry production. These benefits are not found in artificial coastal protection structures. Coastal tree vegetation can be established for investments of U.S. /150 to U.S./2000 per ha. Mangroves, however, are suitable for planting only on coastal mudflats and lagoons, which cover ~25% of the continental coastline of the Bay of Bengal. Elsewhere, the conservation of dune ecosystems or green belts of other tree species, such as Casuarina, could fulfill the same protective role.


SOURCE:

SCIENCE VOL 310 28 OCTOBER 2005 643 on May 16, 2008. www.sciencemag.org on behalf of Riza Y. Setiawan via KeSEMaTMILIST http://groups.yahoo.com/group/kesemat


May 18, 2008 | 10:05 AM Comments  0 comments



« previous 5


KeSEMaT's Profile

KeSEMaT's Friends


Latest Posts
Mari Bersama...
MANGROVER, Ayo Terus...
Press Release,...
KeSEMaTER Gathering di...
KeSEMaT Hadiri Ulang...

Monthly Archive
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
November 2011
December 2011
January 2012
February 2012

Change Language


Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove

Filter By Type
Travel
Topics

Friends
Abdullah Ali Hbahbeh
Adam MacIsaac
Anita
Bhattarai Ganga
Bhuwan
Christopher Walter
Damian Profeta
Dave Matthews
Diogo Andre
GSimon
harya
Michael Furdyk
Mohamed Elkashash
saevul amri
Shakti

Links
KeSEMaTPORTAL


169523 views
Important Disclaimer