 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Jahitan 20 Kali, Tak Mempan Bagi Kami!
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Hari ini, (28/05/09), untuk kesekian kalinya, KeSEMaT memasuki ranah surat kabar, lagi. Kali ini, Jawa Pos - RADAR SEMARANG (JP – RS) telah menulis artikel tentang kami, yang berjudul “Lebih Dekat Dengan KeSEMaT, Komunitas Pecinta Mangrove: Ukur Mangrove 2 Meter, Bokong Dapat 20 Jahitan.” Tulisan ini ditulis oleh salah seorang wartawan (JP – RS) bernama M. Rizal Kurniawan (Rizal), yang sebelumnya telah mewawancarai kami di Kantor KeSEMaT, Semarang. Memang, apabila kita menilik dari judul yang telah dipilih oleh Rizal, kami rasa Anda mungkin tak akan percaya, apakah hal itu benar? Apakah benar bokong KeSEMaTERS pernah “terkena” jahitan sebanyak 20 kali?.
Untuk menjawab hal ini, kami jawab saja bahwa hal itu, memang benar! Kejadiannya, pada saat kami melakukan pengukuran diameter batang pohon mangrove di Karanganyar Semarang (saat menjalankan proyek rehabilitasi mangrove, bekerjasama dengan Yayasan BINTARI Semarang dan FoE Jepang), salah seorang KeSEMaTERS yang mendapatkan tugas untuk melakukan pengukuran diameter batang pohon mangrove di ketinggian lebih dari 2 meter (lihat foto di atas) terjatuh, dan terpaksa harus dijahit sampai dengan 20 kali jahitan.
Segera, setelah KeSEMaTERS bersangkutan terjatuh dan kulitnya terluka karena tergores teritip, kami dan Rekan-rekan KeSEMaTERS lainnya, langsung membawanya ke perahu yang kami sewa untuk menemani kami dalam pengambilan sampling, di hari itu. Hujan deras yang mengguyur Karanganyar di sore itu, sangat menyulitkan kami dalam memobilisasi KeSEMaTERS bersangkutan ke rumah sakit. Namun untunglah, dengan pertolongan dari masyarakat sekitar di Desa Karanganyar, akhirnya kami mendapatkan pertolongan yang layak sampai di rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, suara teriakan KeSEMaTERS yang bertubi-tubi keluar dari mulut mungilnya, terasa sangat menyayat hati. Kami yang mendampinginya, di luar ruang operasi, tak tahan mendengar penderitaannya dan seolah turut serta merasakan satu demi satu jahitan, ditusukkan ke kulit tubuhnya. Namun untunglah, setelah operasi selesai, dia selamat dan baik-baik, saja. Dengan senyuman tulus yang terasa masih sangat dipaksakan, dia berkata, “Jahitan 20 kali, tak mempan bagi saya! Butuh lebih banyak jahitan lagi, agar semangat saya mulai gentar untuk masuk ke hutan mangrove, lagi.”
Tak hanya peristiwa di atas, sebuah telapak kaki KeMANGTEER, juga pernah dijahit sampai dengan 18 jahitan, karena “tercocok” pecahan kaca-tajam di tahun 2008, silam. Di siang hari yang sangat terik, dengan tujuan yang mulia untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Trimulyo Genuk Semarang, secara berombongan, kami menyelamatkan lima ratusan bibit mangrove. Bibit-bibit mangrove itu, kami tanam di lokasi yang aman dari jamahan oknum yang tidak bertanggungjawab. Tiba-tiba, di saat para KeSEMaTERS dan KeMANGTEER lainnya sedang melakukan penanaman, salah seorang KeMANGTEER menjerit kesakitan. Ketika kami datangi, darah bercucuran dari telapak kaki kanannya. Segera, KeMANGTEER tersebut, kami larikan ke rumah sakit terdekat dan untunglah dia segera mendapatkan pertolongan yang baik.
Ini hanyalah salah dua peristiwa yang terjadi, dari puluhan peristiwa mengenaskan lainnya, selama kurang lebih delapan tahun ini, kami keluar masuk menjelajahi hutan mangrove di seluruh wilayah Indonesia. Sebenarnya, masih ada puluhan peristiwa lain yang telah terjadi, selama perjalanan kami di mangrove, ini. Bila mencermati dua peristiwa di atas ini, Anda mungkin akan tahu bahwa apabila kami bekerja di mangrove, sebuah nyawa kami bisa jadi dipertaruhkan. Bahkan, apabila Dia menghendaki, sebuah nyawa kami-pun, bisa juga tercerabut dari “akarnya.”
Dari 2001 sampai dengan 2009 ini, sudah puluhan KeSEMaTERS yang merasakan ganasnya pecahan karang, teritip, pecahan kaca dan barang berbahaya lainnya, yang tersembunyi di lumpur-lumpur mangrove hitam, tempat kami menjejakkan kaki-kaki kecil, kami. Untuk itulah, sepatu mangrove warna hitam dan putih, yang terbuat dari karet tebal, sudah biasa kami pakai demi mendapatkan perlindungan yang maksimal dan “memitigasi” terjadinya cedera. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Rekan kami di Jakarta pernah pula merencanakan pembuatan seragam khusus buat para MANGROVER seperti kami, agar dalam menyelamatkan ekosistem mangrove di pesisir, tubuh kami bisa lebih aman dan terlindungi, lagi.
Kisah-kisah memilukan dan mengenaskan seperti ini, sejatinya sudah puluhan kali kami informasikan di Jaringan KeSEMaTONLINE. Walaupun sudah ada puluhan bekas luka yang tertoreh di tiap bagian tubuh kami, kami tak pernah merasa menyesal apalagi kapok (baca: jera) untuk lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi mengadakan kegiatan dan terjun di rumah kedua kami: hutan mangrove. Kami hanya ingin, agar mangrove tak akan pernah disakiti lagi oleh kita, demi kelangsungan hidupnya di masa mendatang.
Kami percaya, bahwa Dia yang Maha Adil, telah banyak mencurahkan pahala-Nya kepada kami untuk setiap batang pohon mangrove yang berhasil kami tumbuhkan. Kami juga percaya bahwa puluhan bekas jahitan dan luka di badan kami, sangatlah tidak sebanding dengan banyaknya pahala kami, di akhirat nanti. Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
KeSEMaT Mengajar Mangrove di SMA Krista Mitra Semarang
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 28 Mei 2009, KeSEMaT kembali mengajar mangrove ke SMA di Semarang. Kali ini, pengajaran mangrove dilakukan di SMA Krista Mitra mulai pukul 08.30 – 11.00 WIB. Kali ini, pengajar mangrove KeSEMaT diwakili oleh Farahdian Fahmi (DP) bersama dengan KeSEMaTERS lainnya yang terdiri dari DK, DP, Presiden, para Menteri dan Anggota KeSEMaT. Bersama dengan Yayasan BINTARI, dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemerintah Kota (PEMKOT) Semarang, KeSEMaT melaksanakan program sosialisasi Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) tahun 2009, yang diinisiasi oleh DKP PEMKOT Semarang. Pengajaran mangrove ini, adalah salah satu program yang dilaksanakan dalam GBPL 2009.
Acara dibuka dengan presentasi tentang GBPL dari DKP PEMKOT Semarang, kemudian diteruskan dengan pemaparan materi mengenai sampah organik yang dapat dijadikan pupuk kompos oleh BINTARI. Pengajaran hari itu, ditutup dengan pemaparan materi tentang mangrove, dari KeSEMaT.
Pada awal presentasi, KeSEMaT menjelaskan tentang peranan mangrove terhadap penanggulangan dampak global warming, baik sebagai penahan tsunami, topan, badai, erosi dan intrusi air laut. Selain itu, KeSEMaT juga memperkenalkan tentang pentingnya mangrove berikut manfaatnya dari sisi ekologis, ekonomis dan jasa. Di sela-sela presentasi, para KeSEMaTERS juga menunjukkan herbarium jenis-jenis mangrove dan berbagai produk yang dapat dihasilkan dari mangrove seperti sabun cair dari buah mangrove.
Suasana pengajaran mangrove terkesan serius tapi santai, dipenuhi dengan gelak tawa para siswa dan KeSEMaTERS. Hal ini, membuat suasana pengajaran tidak monoton sehingga tercipta atmosfir yang menyenangkan untuk belajar bersama-sama mengenai mangrove.
Pengajaran hari ini adalah pengajaran mangrove terakhir yang dilakukan KeSEMaT bersama dengan DKP PEMKOT dan BINTARI, dalam program GBPL 2009. Pengajaran mangrove KeSEMaT berikutnya, bersama dengan DKP PEMKOT dan BINTARI akan dilakukan lagi oleh KeSEMaT di tahun 2010, mendatang.
 
|
|
|
|
 |
Laptop Baru, Semangat Baru, Kinerja Baru
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Tanggal 21 Mei 2009, para KeSEMaTERS, di Kantor KeSEMaT, kedatangan Saudara barunya. Saudara baru kami itu bukanlah Saudara baru biasa, melainkan Saudara baru yang “luar biasa.” Kami katakan luar biasa karena, dia bukanlah seorang makhluk hidup layaknya kami, melainkan sebuah laptop-kecil-baru, yang akhirnya berhasil kami miliki setelah beberapa waktu menunggu kehadirannya. Setelah KOMPMaT (Komputer KeSEMaT), laptop baru kami ini, yang sengaja kami beri nama sesuai dengan nama Saudaranya, yaitu LAPMaT (Laptop KeSEMaT), kami harapkan bisa semakin mempercepat proses penindaklanjutan atas kasus-kasus mangrove yang seringkali dikeluhkan masyarakat kepada kami, untuk segera bisa kami tangani. Memang, terkadang, kami menjadi kurang cepat tanggap dalam menanggapi beberapa kasus mangrove di Indonesia, hanya karena kendala teknis seperti kurangnya sarana dan prasarana di Kantor, kami.
Pernah, kami terpaksa membatalkan beberapa program mangrove dengan mitra kerja kami, hanya gara-gara deadline pengajuan proposal sudah melebihi waktu yang ditetapkan. Tak selesainya proposal karena kendala KOMPMaT yang sedikit “rewel,” benar-benar membuat kami harus meminta maaf kepada sebuah komunitas masyarakat pesisir di Jawa Tengah. Padahal, niat kami baik, untuk membantu mereka dalam mendapatkan bantuan dana rehabilitasi kawasan mangrove, di pesisir pantai mereka yang sudah tertelan laut. Namun apa daya, sambil memberikan informasi bahwa pengajuan proposal bisa dilakukan di setiap tahunnya, kami dan masyarakat setempat, bertekad untuk mengajukan konsep rehabilitasi mangrove kami, di tahun berikutnya.
Berangkat dari pengalaman tidak menyenangkan seperti itulah, maka kehadiran LAPMaT, terasa sangat penting dan berguna. Bersama dengan KOMPMaT, kami harapkan keduanya bisa saling bersinergi dalam membantu dan mendampingi KeSEMaTERS bekerja siang-malam, demi menyelamatkan kehidupan tumbuhan pesisir ini, dari kepunahannya di masa mendatang.
Akhir kata, selamat datang LAPMaT. Selamat bergabung menjadi Keluarga Besar KeSEMaT. Semoga kehadiranmu, semakin menyemangati kami para KeSEMaTERS ini, untuk menjadi seorang MANGROVER sejati yang berjuang menyelamatkan habitat ekosistem mangrove di pesisir atas nama gerakan moral, belaka. Dengan kehadiranmu, semoga saja akan semakin banyak lagi mangrove dan masyarakat pesisir yang akan cepat terbantu dan terselamatkan dari musibah alam pesisir kita, akibat perbuatan kita sendiri. Semoga. Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
Para Generasi Mangrove
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Setelah tiga kali ini memberikan pengajaran mangrove ke SMK di Semarang, kami baru sadar bahwa ternyata antusiasme para pelajar di Semarang untuk mengenal lebih dekat dengan mangrove, cukup besar. Fakta ini, kami dapatkan setelah beberapa kali melakukan wawancara secara langsung kepada para pelajar SMK yang kami datangi langsung ke sekolahnya, masing-masing. Sebuah road show pengajaran mangrove, yang kami lakukan bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemerintah Kota (PEMKOT) Semarang dan Yayasan BINTARI, telah membantu kami dalam mengumpulkan data tentang antusiasme para pelajar terhadap mangrove, ini.
Setiap kali, sebelum, saat dan setelah pengajaran mangrove kami selesai, maka beberapa siswa dan siswi SMK seringkali mendatangi kami dan bertanya-tanya tentang mangrove. Sebagian dari mereka sangat penasaran dan terlihat “kehausan” ingin meminum pengetahuan mangrove sebanyak-banayaknya dari kami. Bagi kami, hal ini adalah wajar, mengingat keseharian mereka barangkali tak pernah diajarkan mangrove sama sekali. Sehari-hari, adik-adik kami itu lebih banyak menimba ilmu mesin, otomotif, akuntansi, administrasi perkantoran, tata boga, tata busana dan keterampilan kejuruan lainnya, yang memang menjadi mata pelajaran wajib mereka.
Fakta antusiasme mereka kepada mangrove, pada awalnya sempat membuat kami heran. Bukankah biasanya, para generasi muda seperti mereka bersikap ogah-ogahan dengan kerusakan lingkungan di sekitarnya (?). Apalagi, Semarang termasuk kota besar di Indonesia yang biasanya, kawula mudanya tak punya banyak waktu apalagi kepedulian untuk memikirkan permasalahan lingkungan pesisir.
Namun demikian, setelah beberapa kali bertemu dan berdiskusi dengan mereka, kami jadi tahu bahwa pikiran muda mereka yang masih kreatif telah menangkap adanya gejala rob di sekitar sekolah mereka. Kenyataan ini, seolah membuat mereka sadar bahwa sekolah mereka telah dikelilingi oleh pertambakan dan laut tanpa mangrove. Tak adanya mangrove akibat dari reklamasi yang kadang penempatannya tidak sesuai, telah menjadikan sekolah tempat mereka menuntut ilmu, menjadi tidak nyaman. Bayangkan, kalau rob datang, mereka terpaksa belajar dengan genangan air di bawah kursi dan meja-meja kecil mereka.
Untuk memberikan informasi yang lebih banyak lagi tentang mangrove, maka di sela-sela pengajaran mangrove kami, kami sengaja membagikan lima puluh buah fotocopy materi berjudul “Mari Belajar Mangrove” yang kami buat sesuai dengan umur dan kapasitas daya tangkap mereka. Tak hanya itu, di beberapa SMK, kami juga membagikan buku berjudul sama, kepada Bapak/Ibu Guru mereka. Hal ini kami lakukan karena kami tahu bahwa mangrove memang tidak diajarkan di SMK. Kurikulum mangrove, kiranya belum perlu diberlakukan di SMA apalagi SMK, di sebuah negara yang katanya sebagian besar wilayahnya didominasi oleh mangrove, ini.
Dengan materi presentasi dan buku berjudul “Mari Belajar Mangrove” ini, maka kami sangat berharap bahwa mereka bisa sedikit memuaskan rasa dahaganya akan mangrove. Harapan lainnya, buku mangrove sederhana yang kami susun ini, bisa juga dijadikan semacam buku pegangan bagi mereka yang kebanyakan tinggal di pesisir yang tentu saja berhubungan dengan mangrove, di setiap keseharian mereka.
Tak adanya pengetahuan apalagi buku pegangan mangrove yang mempu mengajarkan kepada mereka tentang betapa pentingnya fungsi mangrove bagi mereka, menjadikan mereka tak memiliki kemampuan dalam melakukan pengelolaan mangrove, walaupun setiap hari mereka hidup berdampingan dengan mangrove. Padahal, apabila mereka mengerti bahwa dengan prinsip ATP, yaitu Ambil, Tanam dan Pelihara yang praktek di lapangannya sangat mudah, maka sebuah upaya rehabilitasi mangrove bisa dengan mudah dilakukan.
Sekolah kejuruan yang mengajarkan mangrove memang belum ada. Untuk itulah, beberapa tahun ke depan, tak akan mungkin ada tenaga yang siap pakai untuk mengelola ekosistem mangrove di Indonesia, walaupun sekarang ini, nusantara kita sangat memerlukan tenaga siap pakai dalam rehabilitasi mangrove tersebut, untuk melakukan program-program pengelolaan mangrove di pesisir kita yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Semoga saja, sebuah harapan baru agar Indonesia mampu melahirkan para generasi-mangrove di masa mendatang, tak hanya dalam impian saja, namun bisa juga terwujud. Amin. Salam MANGROVER!
 
|
|
|
|
 |
KeSEMaT Mengajar Mangrove di SMK Cut Nya Dien di Semarang
|
 Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 26 Mei 2009, KeSEMaT kembali mengajar mangrove ke SMK. Kali ini, KeSEMaT mengajar mangrove di sebuah SMK yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi Semarang, yaitu SMK Cut Nya Dien. Pengajaran mangrove dilakukan pada pukul 08.30 – 12.00 WIB. Kali ini, pengajar mangrove KeSEMaT diwakili oleh Abdul Rohman Zaky (MENDIKTAN), bersama dengan puluhan KeSEMaTERS lainnya yang terdiri dari Alumni, DK, KAK, DP, para Menteri dan Anggota KeSEMaT. Bersama dengan Yayasan BINTARI, dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemerintah Kota (PEMKOT) Semarang, KeSEMaT melaksanakan program sosialisasi Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) tahun 2009, yang diinisiasi oleh DKP PEMKOT Semarang. Pengajaran mangrove ini, adalah salah satu program yang dilaksanakan dalam GBPL 2009.
Seperti pengajaran mangrove sebelumnya, dalam GBPL kali ini, KeSEMaT mendapatkan kesempatan untuk memberikan pengajaran mangrove yang terbalut dalam tema besar bertajuk “Mitigasi Dampak Pemanasan Global (Global Warming) dan Cara Mengatasinya,” kepada para siswa SMK dan SMA pesisir di Semarang.
Seperti pengajaran mangrove sebelumnya, KeSEMaT memberikan pengetahuan mengenai apakah fungsi mangrove terhadap penanggulangan efek perubahan iklim dan pemanasan global. Pengajaran mangrove dimulai dengan penjelasan mengenai apakah pengertian dari perubahan iklim dan pemanasan global. Selanjutnya, KeSEMaTERS mulai menjelaskan mengenai fungsi mangrove dalam mengatasi dampak perubahan iklim global dan pemanasan global.
Materi selanjutnya adalah sebuah pendalaman materi mengenai mangrove, yang terdiri dari puluhan slide presentasi, yang antara lain berisi tentang pengertian mangrove, syarat hidup mangrove, jenis-jenis flora dan fauna mangrove, teknik pembibitan mangrove, tata cara penanaman mangrove dan lain sebagainya.
Presentasi mangrove KeSEMaT ditutup dengan sebuah simulasi tentang tata cara pembibitan dan penanaman mangrove yang baik dan benar. Sebelum melakukan simulasi, KeSEMaTERS mengajak para siswa/siswi SMK Cut Nya Dien maju ke depan, untuk mempraktekkan secara langsung, teknik penanaman mangrove di lapangan yang baik dan benar. Pengajaran mangrove KeSEMaT selanjutnya, akan dilaksanakan di SMK Krista Mitra, Semarang pada tanggal 28 Mei 2009 mendatang.
 
|
|
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
169576 views
|
 |