 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Lowongan Menjadi Volunteer Mangrove KeSEMaT
|
Semarang, Jawa Tengah. Selama bulan Juli 2008, KeSEMaT kembali akan mengadakan lima buah program mangrovenya, sekaligus. Kelima Program Mangrove (KPM) tersebut merupakan manifestasi dari program-program konservasi, pendidikan, penelitian dan dokumentasi mangrove KeSEMaT. Dengan ini, KeSEMaT membuka lowongan kepada masyarakat umum yang berniat mengikuti KPM tersebut, sebagai Volunteer (sukarelawan). Berikut ini adalah deskripsi singkat tentang KPM KeSEMaT di bulan Juli 2008. 1. Mangrove REpLaNT (MR) 2008 Tema: Seminar Nasional, Penyuluhan, Pelatihan dan Penanaman Mangrove Lokasi: Teluk Awur - Jepara, 18 - 20 Juli 2008 Charge: Rp. 95.000,- (untuk umum) Volunteer: 100 orang CP. Aris Hantoro (ARHAN) +62856 40 468 440
2. Mangrove Conservation 2008 Tema: Pengajaran, Penyuluhan, dan Penanaman Mangrove di lima SMA di Tambak Lorok Semarang Lokasi: Tambak Lorok - Semarang, 28 Juli - 3 Agustus 2008 Charge: Gratis (untuk umum) Volunteer: 20 orang CP. Handung Nuryadi (HANDUNG) +62819 319 427 28
3. Mangrove Restoration 2008 Tema: Pengajaran, Penyuluhan, Penanaman dan Penyulaman Mangrove di Kelurahan Trimulyo Kecamatan Genuk Semarang Lokasi: Trimulyo, Genuk - Semarang, 28 - 29 Juli 2008 Charge: Gratis (untuk umum) Volunteer: 20 orang CP. Muhamad Ikhsan Sri Hartadi (IKHSAN) +62856 406 160 32
4. Penanaman Mangrove DETIKERS Semarang Tema: Penanaman Mangrove Komunitas DETIKERS Semarang Lokasi: Pantai Maron - Semarang, 26 - 27 Juli 2008 Charge: Gratis (untuk umum) Volunteer: 20 orang CP. Windy Indra Ardiansyah (INDRA) +62856 400 84 730
5. KeSEMaT Goes to School (KGTS) 2008 Tema: Penyulaman dan Pengajaran Mangrove Kepada Siswa/Siswi SD - SMA di Kelurahan Trimulyo Kecamatan Genuk Semarang Lokasi: Trimulyo, Genuk - Semarang, Juni - Desember 2008 Charge: Gratis (untuk umum) Volunteer: 20 orang CP. Faradhian Fahmi (FAHMI) +6281 326 11 20 77
Bagi masyarakat yang tertarik untuk menjadi Volunter dari setiap KPM, kami persilahkan Anda untuk mengajukan lamaran Anda via email di kesemat@yahoo.com atau langsung datang ke Kantor KeSEMaT Semarang. Informasi lebih lanjut mengenai KPM, silahkan menghubungi Kantor KeSEMaT +6224 7052 7552 atau bisa langsung ke CP dari masing-masing KPM. Mengingat terbatasnya kuota Volunteer dari masing-masing KPM, maka KeSEMaT akan memberlakukan proses seleksi. Kami tunggu partisipasi Anda. Salam MANGROVER!

|
|
|
|
 |
Pendaftaran Mangrove REpLaNT 2008 Telah Dibuka!
|
 Semarang, Jawa Tengah. KeSEMaT akan kembali mengadakan acara tahunannya bernama Mangrove REpLaNT (MR) 2008: Pelatihan, Penyuluhan dan Penanaman Mangrove pada tanggal 18 – 20 Juli 2007. Tujuan kegiatan ini selain untuk menyelamatkan pesisir pantai Teluk Awur Jepara dari abrasi, juga untuk mendidik mahasiswa dan masyarakat umum akan arti penting ekosistem mangrove bagi kehidupan mereka. Tahun ini, MR kembali akan diadakan di Teluk Awur Jepara di tiga tempat sekaligus yaitu lokasi MR pertama, kedua dan ketiga untuk melengkapi dan menyulam spesies yang telah ada. MR 2008 akan diwarnai dengan berbagai kegiatan seperti: 1. Seminar Nasional Mangrove (SNM)SNM bertema “UPAYA REHABILITASI MANGROVE DI INDONESIA SETELAH DITERBITKANNYA PERATURAN PEMERINTAH NO. 2 TAHUN 2008 TENTANG PENYEWAAN HUTAN” akan mendatangkan pembicara dari (1) Departemen Kehutanan - JAKARTA, (2) Wetlands International Indonesia Programme (WI-IP) - BOGOR, (3) Praktisi Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP) - SEMARANG, (4) Pemerintah Kabupaten Jepara - JEPARA, (5) Lembaga Pengkajian dan Pengembangan (LPP) Mangrove - JAKARTA dan (6) Praktisi Mangrove KeSEMaT - SEMARANG 2. Pelatihan, Penyuluhan dan Penanaman Mangrove (P3M)P3M akan diwarnai dengan beragam kegiatan seperti (1) Berwisata ke Hutan Percontohan (Arboretum) Mangrove KeSEMaT, (2) Pengenalan Spesies Mangrove oleh Praktisi KeSEMaT, (3) Berwisata ke Bedeng Persemaian Mangrove KeSEMaT, (4) Susur Pantai dan Coastal Clean Up di Pantai Teluk Awur Jepara, (5) Melihat Sun Set dan Foto Bareng di Arboretum KeSEMaT, (6) Praktek Kuliner Mangrove Bersama LPP Mangrove Jakarta, (7) Penanaman Mangrove Serentak di Tiga Tempat di Teluk Awur, (8) Fun Game Teka-Teki Mangrove (TTM) di Hutan Mangrove, (9) Berpetualang di Hutan Mangrove, (10) Perang Lumpur, (11) Nonton Bareng Mangrove Movie. FasilitasPeserta dibatasi hanya untuk 100 orang yang akan mendapatkan fasilitas berupa transport Semarang-Jepara pulang pergi, penginapan, makan-minum, snack, T-shirt, stiker, seminar kit, sertifikat dan door prize. Syarat PendaftaranBagi masyarakat yang berminat mengikuti kegitan ini, pendaftaran dibuka mulai tanggal 16 Juni sampai dengan 5 Juli 2008. Harga tiket Rp. 95.000,-. Tiket bisa didapatkan di Kantor KeSEMaT Semarang Jl. Ngesrep Barat V/35 Semarang dan Kampus Ilmu Kelautan UNDIP Semarang. Bagi yang berada di luar Semarang, bisa mendaftarkan diri melalui email KeSEMaT di kesemat@yahoo.com dengan subject: registrasi MR 2008, yang disertai dengan formulir pendaftaran. Kami persilahkan Anda untuk mendownloadnya di bawah, ini. Pembayaran dilakukan melalui transfer ke Bank: BNI 1946 Cabang UNDIP Tembalang Semarang A.N.: Melia Wardani Nomor Rekening: 77366502 Kirimkan bukti transfer rekening Anda via pos ke Kantor KeSEMaT Jl. Ngesrep Barat V/35 Semarang. Pengiriman bukti transfer pembayaran harus sudah diterima oleh Panitia MR 2008 paling lambat 5 Juli 2008 (cap pos). Technical Meeting MR 2008 akan dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2008. Untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang MR 2008, silahkan mendownload pamfletnya di bawah ini. Formulir Pendaftaran MR 2008Pamflet Pendaftaran MR 2008 Contact PersonBagi yang kurang jelas, silahkan menghubungi langsung Saudara Aris Hantoro (Arhan) di 0856 40468 440 atau Saudari Febriana Mirasti (Memed) di 0813 28110 428. Mari bersama selamatkan mangrove kita. Sekarang! 
|
|
|
|
 |
Asyiknya menjadi guru mangrove di SD
|
 Pada tanggal 10 Juni 2008, KeSEMaT yang diwakili oleh Isna Bahtiar (DP), Handung Nuryadi (Presiden), Faradhian Fahmi (MENPORSI), Sunanto Kusuma P. (MENSEK), Windy Indra Ardiansyah (MENDIKTAN), dan Aris Priyono (DK), melakukan pengajaran mangrove ke SD 01 dan SD 02 Trimulyo - Genuk Semarang Jawa Tengah. Pengajaran dimulai pada pukul 07.00 WIB - 12.00 WIB. Pengajaran mangrove ini adalah salah satu rangkaian program KeSEMaT Goes To School (KGTS) 2008: Penyulaman dan Pengajaran Mangrove ke Pelajar se-Semarang. Materi yang diberikan adalah berbagai pengetahuan tentang mangrove seperti pengertian mangrove, pengenalan jenis-jenis mangrove, tempat hidup mangrove, flora dan fauna yang hidup di mangrove, fungsi mangrove, dan ancaman mangrove. Pengajaran juga diselingi dengan tanya jawab dan diskusi interaktif antara KeSEMaTERS selaku GM dengan para siswa untuk mengetahui seberapa besar penyerapan siswa terhadap materi mangrove yang telah diberikan. Untuk pelajar SD, pengajaran berikutnya akan dilanjutkan pada tanggal 13, 17 dan 20 Juni 2008 di lokasi dan tempat yang sama.
Menjadi GM untuk siswa-siswi SD, memang susah-susah gampang. Dua kali susahnya, karena untuk membuat diam para siswa, saja, kami harus bekerja ekstra keras dengan berkali-kali mengingatkan kepada mereka untuk bisa mendengarkan materi yang kami sampaikan.
Maklumlah, adik-adik kecil kita ini masih duduk di kelas 4 dan 5, berumur sekitar 10-11 tahunan, yang notabene masih sering sukar memfokuskan diri pada materi.
Selanjutnya, selain susah, ada juga senangnya. Terbukti, daya serap mereka terhadap buku Bahan Ajar Mangrove (BHM): Mari Belajar Mangrove, yang telah kami susun, sangatlah bagus. Inilah yang membuat kami senang. Kami juga bangga karena selama pengajaran, para siswa seringkali menanyakan beberapa pengertian mangrove yang sekiranya tidak dimengerti oleh mereka. Hal ini, membuat suasana pengajaran sangat kondusif, sesuai dengan yang kami harapkan.
Di akhir pengajaran, kami sengaja membuat ulangan materi mangrove yang telah kami berikan, dengan cara meminta mereka untuk menuliskan pengertian tentang mangrove, flora dan fauna yang hidup di mangrove dan beberapa materi lainnya. Kami meminta beberapa siswa untuk maju ke depan, dan menuliskan pengertian tersebut ke papan tulis.
Hasilnya, apabila dipersentase, penguasaan materi mangrove mereka mencapai 80%. Bahkan, beberapa siswa telah mengetahui apa itu: (1) Rhizophora yang disebut mereka dengan Bongko/Bakau, (2) Abrasi yang mereka kenal dengan pengikisan tanah, (3) Hutan Payau yang dikenal mereka dengan hutan air asin dan air tawar, dan beberapa “pengertian-mangrove” lainnya.
Sebuah kesimpulan dari hari pertama mengajar mangrove di SD 01 dan SD 02 Trimulyo, Semarang adalah bahwa sangat penting menanamkan rasa sayang dan cinta mangrove semenjak dini. Di saat jiwa dan hati para generasi muda kita ini masih bersih dan jernih, sebuah kebiasaan memperlakukan mangrove dengan cinta akan mudah sekali tumbuh kelak mereka dewasa. Apa pasal? Karena mereka telah tahu dan terbiasa mencintai dan menyayangi mangrove, sedari kecil. Salam MANGROVER!

|
|
|
|
 |
Pentingnya sirkulasi air di mangrove
|
 Salah satu hal yang seringkali terlupakan oleh kita, di setiap kali melakukan upaya rehabilitasi mangrove di daerah pesisir adalah pembuatan Saluran Air (SA). SA sangat penting dalam kehidupan mangrove. Ibaratnya hidung pada manusia, SA di habitat mangrove juga berguna untuk “bernafas” agar pertukaran air pada saat pasang dan surut bisa berjalan dengan lancar dan sempurna. Lihatlah foto di samping ini, terlihat para KeSEMaTERS sedang menggali pasir untuk membuka-kembali SA yang tertutup oleh pasir akibat pergerakan arus pasang di Teluk Awur Jepara. Memang, SA di Arboretum KeSEMaT seringkali tertutup, bahkan berubah tempat, berpindah lokasi dan bergeser ke beberapa titik, tanpa kami sadari. Pengalaman KeSEMaT bekerja di lapangan, ada beberapa SA yang selalu tertutup dan ada juga yang mengalami pergeseran pada saat selesai dilakukan penanaman mangrove di lokasi. Walaupun berulang kali dilakukan usaha penggalian dan pembukaan kembali, SA agaknya “bandel” dan kembali tertutup kembali, akibat pola pergerakan arus yang tidak menentu.
Hal ini, tentu saja menyulitkan kami. Selain harus berulangkali kembali dan kembali ke lapangan, pekerjaan penggalian pasir yang lumayan berat harus selalu kami lakukan. Semuanya, tentu saja untuk menjaga kelulushidupan bibit-bibit mangrove yang baru saja ditanam, agar bisa hidup dan tumbuh dengan maksimal.
Pengalaman kami membuktikan bahwa lokasi yang SA-nya tersumbat, kelulushidupan bibit mangrovenya sangat kecil. Hanya mencapai 10%, saja. Maka, setiap kali selesai mengadakan program penanaman dan pembibitan mangrove seperti Mangrove Cultivation dan Mangrove REpLaNT, beberapa minggu sesudahnya, KeSEMaTERS selalu kembali ke lapangan untuk mengecek SA-SA, ini.
Hasil dari konsistensi KeSEMaT dalam menjaga agar SA tak tertutup oleh pasir ini, berbuah manis. Di titik-titik yang SA-nya terjaga dengan baik, mangrove bisa tumbuh maksimal hingga kelulushidupannya mencapai 100%. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan SA adalah jangan membuat SA diluar dari pola alami aliran air. Buatlah SA yang mengikuti alur alami jalannya air.
Kesimpulan, selain melakukan pemeliharaan dan monitoring terhadap bibit-bibit mangrove, pembuatan dan pemeliharaan SA juga sangat penting dan wajib dilakukan untuk memperoleh kelulushidupan mangrove yang maksimal. Mari selamatkan mangrove kita. SEKARANG!

|
|
|
|
 |
Tanam mangrove di Kuta Bali?
|
 Bulan lalu, beberapa anggota organisasi lingkungan di Semarang mengunjungi Kantor KeSEMaT, untuk meminta partisipasi kami dalam program penghijauan pantai di Semarang. Pada saat berdiskusi tentang konsep acara dan dimana sebaiknya lokasi penanaman mangrove dilakukan, salah satu rekan kami dari organisasi lingkungan tersebut, mengutarakan sebuah pertanyaan unik nan menggelitik. Dia berkata, “KeSEMaT, apakah mangrove bisa ditanam di Kuta Bali?” Sedikit mengernyitkan dahi, kami berusaha menjawab pertanyaan itu dengan bijak. Menjawab dengan konsep slow but sure, pelan namun pasti, itulah yang kemudian kami lakukan. Maka, sebuah kuliah singkat berdurasi dua jam, kami berikan kepada mereka. Kami senang, bahwa ternyata rekan-rekan kami bersedia mendengarkan kuliah mangrove tanpa SKS, itu. Apalagi, setelah Kuliah Mangrove Singkat (KMS) kami selesai, mereka menyatakan rasa kepuasannya. Semakin bahagia pula-lah hati kami. Penasaran dengan isi KMS kami? Berikut ini adalah intisarinya.
Filosofi mananam mangrove Kami memulainya dengan menjelaskan sebuah filosofi menanam mangrove. Kiranya, program-program penanaman mangrove yang kini mulai banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, lebih diarahkan kepada sebuah usaha untuk menyelamatkan suatu area yang telah “terjamah” oleh abrasi. Jadi, intinya, umumnya bibit-bibit mangrove akan ditanam di lokasi yang telah mengalami degradasi kualitas lingkungan. Untuk itulah, dalam melakukan program penanaman mangrove, kita tak bisa sembarangan menanami suatu area gundul dengan mangrove, sebelum melakukan survey lokasi terabrasi dengan benar.
Jadi, kita harus benar-benar memastikan bahwa lokasi setempat memang mengalami penurunan kualitas lingkungan, barulah kita bisa menanam bibit mangrove kita ke area tersebut. Jika tidak mengalami degradasi lahan, maka sudah pasti kita harus mencari ke lokasi lainnya. Sebagai tambahan, tak hanya ditanam di lahan yang terabrasi saja, mangrove biasanya juga ditanam di daerah pertambakan sebagai bentuk konsep penanaman mangrove secara silvovisery, yaitu konsep penggabungan antara tambak dengan mangrove dengan tujuan untuk melipatgandakan hasil tambak. Konsep ini hampir serupa dengan pola Mina Tani di daerah persawahan .
Sebelum melangkah kepada teknis penanaman, kami memberikan penjelasan bahwa menanam mangrove juga tak bisa sembarangan di setiap tempat, layaknya menanam tumbuhan darat. Kepastian kepemilikan tanah, haruslah juga mendapatkan perhatian lebih. Mengapa demikian? Karena tanah pesisir di Indonesia ini, rata-rata sudah berpindah kepemilikannya bukan menjadi hak milik masyarakat pesisir lagi, melainkan pihak ketiga yang adalah pengusaha tambak.
Parahnya lagi, biasanya pengusaha tambak juga telah menjual beberapa tanah tambaknya yang tak produktif lagi kepada para pengembang perumahan dan pariwisata pesisir. Padahal, di lokasi inilah, biasanya ditemukan titik-titik abrasi-parah yang seharusnya harus segera kita tangani. Di titik-titik ini pulalah, biasanya masyarakat umum yang tergerak hatinya untuk melakukan upaya konservasi mangrove, mengusulkan aksi-aksi inisiasi penanaman mangrovenya.
Sayangnya, karena tanahnya telah menjadi milik para pengembang, maka begitu ada program penanaman mangrove (tanpa ijin dari pengembang) ke tanah itu, maka saat itu juga, bibit-bibit mangrove yang telah ditanam akan dilibas dengan proyek reklamasi, sehingga mangrove akan mati sia-sia.
Kesimpulannya, mangrove tak bisa ditanam di sembarang tempat. Sebelum melakukan penanaman, kita harus memastikan status tanahnya untuk menghindari penebangan secara sepihak dari sang pemilik tanah.
Selanjutnya, untuk mengatasi penebangan-penebangan mangrove secara sepihak ini, selain meminta ijin kepada pemilik tanah, kita juga sewajibnya memberitahukan program penanaman mangrove kita kepada Pemerintah Daerah (PEMDA) setempat, agar “proyek mangrove” kita diketahui oleh sang empunya kebijakan. Dengan pemberitahuan ini, maka kita berharap bahwa area mangrove kita akan direkomendasikan sebagai sebuah area konservasi karena biasanya pengelolaan wilayah pesisir memang dikelola oleh PEMDA setempat.
Setelah mendapatkan jaminan sebagai area konservasi, maka amanlah lokasi penanaman kita dari penebangan karena pasti akan dilindungi oleh PEMDA dengan berbagai aturan dan kebijakan yang biasanya dituangkan dalam Peraturan Daerah (PERDA). Untuk mangrove, biasanya akan dikeluarkan PERDA tentang tata aturan pengelolaan kawasan pesisir setempat, yang salah satu pasalnya bisa jadi adalah sebuah pelarangan dan hukuman penjara bagi siapa saja yang melakukan penebangan mangrove di area konservasi kita. Nah, dengan demikian, amanlah bibit-bibit mangrove kita dari ancaman penebangan-penebangan sepihak yang tak bertanggung jawab.
Hal seperti ini, sangat perlu untuk kita lakukan demi menjaga konsistensi dan kontinyuitas pekerjaan mangrove kita. Bekerja dengan mangrove, ibaratnya bekerja dengan sebuah rutinitas dan kontinyuitas. Pekerjaan yang tak kontinyu, satu hari penanaman lalu satu abad kemudian kita menghilang, adalah sia-sia. Lebih lanjut lagi, sebuah program yang hanya bersifat seremonial dan hit and run belaka, adalah haram. Hari ini dilakukan, lalu hari berikutnya kita kabur dan tak mau lagi mengurusi mangrove-mangrove kita, adalah sikap bodoh nan kekanak-kanakan yang akan semakin membuat daerah pesisir kita menderita.
Mangrove tak bisa ditanam di Kuta (?) Setelah menjelaskan panjang lebar tentang filosofi mangrove, barulah kami secara perlahan membahas tentang teknis penanaman mangrove. Teknis di sini bukan berarti tata cara penanaman mangrove melainkan lebih kepada menjawab pertanyaan tentang bisakah mangrove ditanam di Kuta Bali.
Mangrove, sebenarnya bisa saja ditanam di mana saja mulai dari daerah pegunungan sampai dengan pesisir berkarang, bisa saja mangrove hidup. Bahkan, di Kantor KeSEMaT, propagul Rhizophora apiculata yang hanya diberikan air mineral tanpa tanah, bisa hidup dengan sepasang daun mungilnya di usianya yang ke-tiga bulan. Hanya masalahnya sekarang adalah, apakah benar mangrove ini bisa tetap hidup di pegunungan dan di air mineral, yang notabene bukanlah merupakan habitat aslinya, dalam jangka waktu yang lama alias everlasting? Kiranya, inilah yang perlu diperhatikan dan dicermati.
Kemudian, yang dimaksudkan dengan habitat asli di sini adalah sebuah tempat tinggal dimana mangrove bisa hidup dan mengembangkan dirinya secara maksimal dan bukan habitat yang hanya membuat dirinya berkembang setengah-setengah saja lalu “meredup” sehingga beberapa tahun kemudian mati tak bernyawa.
Nyatanya, di lokasi yang memiliki (1) iklim tropis dan subtropis, (2) berada pada daerah 32° LU – 38° LS, (3) penyinaran matahari penuh, (4) suhu diatas 22°C, (5) curah hujan tinggi (2500 – 3000 mm/th), (6) di daerah terlindung, (7) lalu di dataran lumpur/mud-flat luas dan jauh, (8) berlokasi di daerah delta, dan (9) memiliki perbedaan pasang tertinggi dan surut terendah yang jauh-lah, mangrove mampu tumbuh dengan sempurna. Lalu, bagaimana dengan di tempat lainnya? Tetap bisa hidup, namun tak berapa lama kemudian, mangrove akan segera menjadi almarhum/almarhumah.
Dalam koridor seperti inilah, akhirnya kami menjawab pertanyaan unik di atas. Jadi, apabila mangrove mau ditanam di Kuta, harus diselidiki dulu apakah pantai wisata internasional tersebut memiliki kesembilan syarat tersebut. Sayangnya, untuk poin ke 6, 7, 8 dan 9, Kuta tak memilikinya. Dengan demikian terjawablah sudah, bahwa Kuta memang tak selayaknya untuk ditanami mangrove, pun Avicennia spp, sekalipun.
Selanjutnya, tak representatifnya Kuta sebagai lokasi penanaman mangrove, juga dikarenakan tipe pantainya yang berpasir dan bukan berlumpur. Seperti diketahui, kondisi dan jenis pantai di Indonesia bisa dibedakan menjadi empat macam yaitu (1) pantai berpasir, (2) pantai berlumpur, (3) pantai berawa, dan (4) pantai berbatu. Nah, berdasarkan klasifikasi pantai ini, tumbuhan mangrove akan hidup lebih maksimal di pantai nomor 2. Karena untuk pantai berpasir seperti Kuta, tanaman yang biasanya tumbuh, umumnya adalah jenis Kelapa (Cocos nucifera), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Waru Laut (Hibiscus tiliaceus), dan Ketapang (Terminalia catappa) (Sugiarto, 1996).
Namun demikian, kiranya kita tetap saja memaksakan mangrove ditanam di Kuta, mungkin bisa saja hidup (walaupun tak maksimal) apabila kita menggunakan Avicennia spp yang memang suka sekali dengan substrat berpasir. Tapi, hal ini kemudian tak akan membuat permasalahan selesai, sebaliknya kita juga akan berhadapan dengan PEMDA setempat yang pastilah telah mengelola pantai berpasir ini sebagai kawasan pariwisata. Tentunya, PEMDA telah memiliki konsep pengelolaan lingkungan di Kuta dan juga tak akan mengiyakan apabila Avicennia kita tanam di sana.
Sebagai tambahan, masih menurut Sugiarto (1996), pantai berpasir biasanya dijadikan pariwisata pantai karena keindahan alamnya. Kawasan pantai yang sudah berkembang misalnya adalah Sanur dan Kuta (Bali), Pantai Pangandaran, Carita, dan Pelabuhan Ratu (Jawa Barat), Parang Tritis (Yogyakarta), Pantai Kepulauan Seribu (Jakarta) dan Pantai Pasir Putih (Jawa Timur dan Lampung).
Untuk Semarang sendiri, mulai saat ini Pantai Wisata Maron, juga mulai dikembangkan ke arah itu. Umumnya, pantai-pantai berpasir ini sudah terkelola dengan baik, jadi bukanlah merupakan pantai terabrasi sesuai anggapan rekan kami dari organisasi lingkungan di atas. Sebagai pelengkap, untuk mangrove sendiri, apabila kita ingin melakukan program penanaman, sebaiknya kita mencari tipe pantai berlumpur yang memang merupakan habitat mangrove yang asli. Lihatlah foto di atas pada saat KeSEMaTERS melakukan penanaman mangrove di sana, salah satu contoh pantai berlumpur yang mengalami abrasi dan degradasi lahan adalah di Desa Pasar Banggi Rembang. Selama kurun waktu 30 tahun, secara terus menerus tanpa henti, masyarakat di sana telah melakukan upaya rehabilitasi mangrove secara swadaya, dan berhasil! Keberhasilan ini tak lepas dari kajian mendalam yang dilakukan oleh mereka yang kemudian digabungkan dengan tata cara pembibitan dan penanaman yang benar dan tak asal-asalan demi sebuah seremonial, saja.
Akhirnya, jangan asal mengadakan program-program penanaman mangrove! Status tanah, survey lokasi, filosofi, tujuan penanaman, aspek birokrasi, latar belakang dan aspek teknis lainnya harus benar-benar dikaji dengan cermat dan teliti sehingga akhirnya bisa didapatkan kelulushidupan mangrove yang maksimal demi kelestarian ekosistem ini di masa mendatang. Mari lestarikan mangrove kita. SEKARANG!

|
|
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
169552 views
|
 |