TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
KeSEMaT UNDIP - My Blog
KeSEMaT UNDIP - My Blog
« previous 5


Siapa bilang jadi KeSEMaTERS, enak?

Minggu-minggu ini, beberapa rekan yang mengirimkan emailnya kepada kami, seolah-olah memiliki pendapat yang sama. Mereka menyetujui-bersama bahwa menjadi seorang KeSEMaTERS adalah enak. Bisa bergabung dengan Keluarga Besar KeSEMaT adalah keren. Bahkan, beberapa dari mereka sangat ngebet, ingin sekali segera mengikuti rangkaian KeSEMaTHUNT 2008, yang masih lima bulan lagi, digelar. Tak cukup di situ, ada juga rekan mahasiswa yang mengusulkan agar KeSEMaTHUNT diadakan dua kali dalam setahun, agar mereka mendapatkan lebih banyak kesempatan-lagi, menjadi KeSEMaTERS.

Sempat “shock,” mendapatkan email-email yang bernada seperti itu, jujur kami tak menyangka sebegitu hebatnya minat masyarakat terhadap komunitas mangrove mahasiswa, ini. Sebuah organisasi mangrove mahasiswa yang dibangun atas dasar konsep gerakan moral belaka, yang tak pernah menawarkan, pun menjanjikan apa-apa kecuali pengetahuan mangrove dan secuil pahala dari-Nya, kini begitu diperhatiani oleh banyak orang. Kami tak sadar, bahwa begitu banyak Rekan-rekan yang mencintai kami.

Seraya berucap terima kasih kepada mereka lewat email balasan kami, di perjalanan kami yang baru akan genap tujuh tahun pada tanggal 9 Oktober 2008 nanti, perlu kami sampaikan bahwa sebenarnya tidak enak menjadi KeSEMaTERS, itu. Mengapa? Karena banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi dalam berjuang melestarikan mangrove di pesisir yang penuh dengan intrik dan konflik kepentingan.

Buktinya, kami sendiri yang sudah enam tahun ini mendampingi KeSEMaT, seolah tak pernah cukup untuk terus menerus mengeluarkan cucuran keringat, tetesan darah dan linangan air mata, hanya demi mempertahankan “proyek-idealis-mangrove” kami.

Siang-malam, kami telah banyak bekerja memeras otak dan tenaga kami, hanya untuk mengonsep berbagai program dan kegiatan mangrove untuk diaplikasikan langsung ke masyarakat pesisir. Hal ini, tak ayal lagi, seringkali menyebabkan kuliah kami terlantar.

Namun, untunglah Yang Maha Baik di atas sana mengerti. Pertolongan dan kemudahan dari-Nya, tak henti-hentinya terus berdatangan. Walaupun jumlah kami sedikit, Rekan-rekan kami yang tergabung di dalam KeSEMaT’s Mangrove Volunteer (KeMANGTEER), tak segan-segan siap menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu kami, bekerja di pesisir. Inilah, salah satu bantuan terbesar yang telah diberikan oleh-Nya, kepada kami.

Selanjutnya, asal tahu saja, setelah Anda menjadi seorang KeSEMaTERS, Anda akan banyak bekerja seraya mencurahkan dan menghabiskan segenap pikiran dan tindakan Anda untuk mangrove. Jeleknya, KeSEMaT tak akan membayar sepeserpun atas hasil kinerja Anda terhadap mangrove, itu. Artinya, semua biaya-kerja pengelolaan mangrove-ini, Anda sendirilah yang harus menanggungnya.

KeSEMaT memang layaknya wadah yang berfungsi mengkoordinasi jiwa-konservasi-sukarela Anda. Organisasi mangrove mahasiswa ini, tak akan pernah memanjakan Anda dengan segepok uang gaji dan fasilitas lengkap nan mewah kecuali T-shirt, makan, minum, stiker dan sertifikat di setiap pekerjaan mangrove yang diadakannya.

Lihatlah foto di atas, dalam setiap kali melakukan Rapat Kabinet, saat itu pula kami seringkali “bertengkar.” Banyak sekali pendapat, ide, pemikiran dan usulan kami, yang saling bertentangan satu sama lain. Sebuah konsep “Penanaman Dua Kali” yang kemarin baru saja diimplementasikan di Mangrove Conservation (MANGCON) 2008 misalnya, keputusan akhirnya baru kami dapatkan setelah rapat dua kali waktu pertandingan sepakbola.

Saat implementasi program MANGCON 2007, tak jarang pula kami harus memeras banyak tenaga hanya demi mempertahankan kelulushidupan bayi-bayi mangrove, kami. Agustus 2007, kami “diwajibkan” oleh alam, untuk memonitoring perkembangan kehidupan bibit-bibit mangrove kami, di bulan puasa. Walaupun suhu sangat terik, sembari menahan haus dan lapar, naik motor tua tanpa dibayar, jarak Kantor KeSEMaT dengan lokasi penanaman yang lebih dari 10 KM, tak pernah ragu, kami lewati. Sesampai di lokasi, kami langsung terjun ke lumpur mangrove, bergulat dengan lumpur dan menegakkan kembali ajir-ajir yang mulai roboh tersapu gelombang ganas.

Anda lihat, betapa tidak enaknya menjadi seorang KeSEMaTERS. Sudah capek-capek bekerja untuk mangrove tapi kita tak akan dapat bayaran sepeserpun. Bahkan, kita “diharuskan” untuk rela membelanjakan uang kita, demi pekerjaan mangrove-kita, itu. Bagi Anda yang berminat menjadi KeSEMaTERS, coba deh dipikir ulang. Dimana enaknya menjadi KeSEMaTERS, itu?

Namun kami tidak tahu, bahwa justru konsep yang seperti inilah, kiranya konsep yang sangat diminati oleh masyarakat. Satu hal yang kiranya membuat masyarakat tertarik adalah konsep gerakan moral yang selalu dijunjung tinggi oleh KeSEMaT. Cermatilah sebuah email yang datang dari Mas Haris, seorang mahasiswa dari Lampung yang mengatakan “Tak peduli apa hambatan dan tantangan ke depannya, yang penting saya bisa bekerja untuk mangrove, biaya bisa diatur, yang penting, saya bisa menerapkan konsep gerakan moral dengan penuh keikhlasan dan semangat kesukarelawanan.”

Membaca email ini, jujur kami trenyuh. Untuk itulah, kami kira, kami tak usah berpanjang lebar lagi meneruskan artikel, ini. Email dari Mas Haris, kami kira sudah merupakan jawaban mengapa konsep gerakan moral ini, begitu diminati. Kalau memang demikian yang diinginkan oleh masyarakat, kami hanya bisa berkata, Alhamdulillah.

Terima kasih, bahwa semangat konservasi yang ingin Anda tunjukkan (kepada alam), tanpa ada pamrih sama sekali kecuali hanyalah sebuah niatan tulus untuk mencoba menyelamatkan dam meneruskan generasi mangrove di pesisir-pesisir Indonesia. Kalau begitu, selamat bergabung dengan KeSEMaT, menjadi seorang KeSEMaTERS! Mari menyelamatkan ekosistem mangrove kita. SEKARANG!

September 20, 2008 | 10:09 AM Comments  0 comments



Kisah KeMANGTEER di tenda-amatir

Melengkapi informasi mengenai KeSEMaT’s Mangrove Volunteer (KeMANGTEER), berikut ini adalah sebuah informasi kecil yang semoga saja bisa menggugah dan menginisiasi Anda untuk mulai memiliki sense of belonging terhadap mangrove, kita. Siang itu, suasana sedang panas-panasnya. Pukul 12.00 WIB adalah waktu yang sangat tepat bagi matahari untuk “membakar” bumi. Di sebuah pesisir pantai utara Jawa bernama Genuk, di sebuah titik dimana abrasi mendominasi, terlihat sekumpulan anak-anak muda yang tergabung dalam KeMANGTEER, menjejali Tenda Amatir (Tentir) bikinan mereka sendiri.

Lihatlah, Tentir mereka memang tak terlalu bagus pun terlalu kecil, sehingga tak mampu menampung jumlah mereka yang “besar.” Mereka berjumlah 50-an, nampak sedang berlindung dari sengatan sang matahari sembari beristirahat setelah berhasil menanam ribuan bayi-bayi mangrove.

Tingginya temperatur di akhir Juli 2008 itu, tak membuat nyali mereka ciut. Padahal, kulit mulus mereka telah terbakar matahari. Ditambah, KeSEMaT tak menyervis mereka dengan fasilitas lengkap, sebagai tanda terima kasih organisasi mangrove ini kepada mereka. Dari awal, memang KeSEMaT telah memberikan pengertian bahwa usaha penanaman mangrove dalam program Mangrove Restoration (MANGRES) 2008 ini, memiliki konsep gerakan moral. Semuanya dijalankan dengan penuh keikhlasan dan sukarela.

Jadi, KeSEMaT tak akan memberikan fasilitas apapun selain sertifkat, makan siang dan T-shirt, melainkan ditanggung secara bersama. Untuk masalah kebakaran-kulit, KeMANGTEER sendirilah yang harus menyediakan sebuah sun-block-nya sendiri-sendiri.

Di MANGRES 2008, tak ada peserta dan panitia. Kedudukan KeSEMaTERS dan KeMANGTEER adalah sama dan sejajar, yaitu Volunteer. Makanya, Tentir-pun, tak dibangun oleh KeSEMaTERS saja, tetapi juga didirikan atas inisiasi dari rekan-rekan KeMANGTEER, juga. Meleburnya KeSEMaTERS dan KeMANGTEER sebagai Volunteer, didasari atas kesadaran bersama akan tanggung jawabnya terhadap alam pesisirnya yang seakan tak pernah berhenti dijahili.

Tak ingin terlalu memanjakan diri mereka dengan “Tenda Profesional” (Tenprof) yang besar dan bagus, sebuah Tentir kiranya sudah lebih dari cukup bagi mereka. Toh, dalam kenyataannya, bayi-bayi mangrove yang telah mereka tanam, bahkan lebih menderita lagi. Jangankan Tenprof, Tentir-pun tak pernah sekalipun melindungi tubuh kecil bayi-mangrove dari ganasnya sengatan sang bola api. Jadi, mengapa juga mereka harus takut kepanasan? “Malu, ah. Sama bayi-bayi mangrove kami,” begitu kata mereka. Salam MANGROVER!

September 16, 2008 | 10:09 AM Comments  0 comments



“Tetralogi” Teluk Awur

Pada tanggal 15 September 2008 ini, KeSEMaT kembali mengadakan program KeSEMaT Goes To Arboretum (KGTA)-nya, yaitu sebuah kegiatan pemantauan dan pemeliharaan bibit-bibit mangrove, hasil Mangrove Cultivation (MC) 2008 dan Mangrove REpLaNT (MR) 2008, di Teluk Awur Jepara. KGTA memang selalu diadakan oleh KeSEMaT secara kontinyu untuk menjaga kelulushidupan bibit-bibit mangrove yang telah ditanam. Selebihnya, KGTA juga dilakukan sebagai sebuah tanggung jawab KeSEMaT kepada mangrove yang telah banyak berjasa kepada umat manusia.

Pada KGTA kali ini, KeSEMaT membagi aktivitasnya menjadi empat buah kegiatan sehingga membentuk sebuah “Tetralogi”. “Tetralogi” ini tergambar jelas dalam foto di atas. Keempat aktivitas tersebut adalah (1) Memonitoring hasil pembibitan MC 2008 - Foto 1, (2) Memonitoring hasil penanaman MR 2008 - Foto 2, (3) Membibitkan Bruguiera gymorhiza - Foto 3, dan (4) Mendokumentasikan penebangan pohon mangrove yang marak terjadi (lagi) di Teluk Awur Jepara - Foto 4.

Memonitoring hasil pembibitan MC 2008 - Foto 1
Lihatlah foto 1. Seratus persen bibit-bibit mangrove yang telah dibibitkan oleh para peserta MC 2008, hidup!. Bibit mangrove yang tersisa, seperti yang terlihat pada foto di atas adalah dari jenis Ceriops decandra. Bibit mangrove lainnya, telah ditanam oleh para peserta MR 2008 pada bulan Juli, lalu.

Monitoring terakhir bibit MR 2008 - Foto 2
Kondisi terakhir bibit MR 2008 tak berbeda jauh dengan kondisi bibit MC 2008. Lihatlah foto 2, tak ada satupun bibit mangrove yang mati. Semuanya tegap berdiri terikat rafia dan ajir. Hal ini membuat kami senang, karena penanaman mangrove kami kembali mendapatkan hasil yang maksimal.

Penanaman Bruguiera gymnorhiza - Foto 3
Tak hanya memonitoring bibit MC 2008 dan MR 2008, saja. KeSEMaT juga mencoba melakukan penanaman bibit mangrove jenis Bruguiera gymnorhiza sebanyak 50-an buah, yang didatangkan langsung dari Bali. Sebenarnya, mangrove jenis ini, sudah pernah didatangkan oleh KeSEMaT dari tempat yang sama, di tahun 2005 yang lalu.

Namun dari puluhan bibit yang ditanam, sayang sekali hanya tersisa tiga buah bibit Bruguiera saja, yang mampu bertahan hidup sampai dengan sekarang. Lainnya, mati. Untuk itulah, pada tanggal 15 September 2008, KeSEMaT kembali mengadakan pembibitan Bruguiera dengan metode dan teknik yang disempurnakan, dengan harapan, kali ini akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal. Semoga.

Mendokumentasikan penebangan pohon mangrove yang marak terjadi (lagi) di Teluk Awur Jepara - Foto 4
Sementara itu, aktivitas keempat merupakan aktivitas yang membuat kami sedih. Senang memang, bisa membuat dokumentasi tentang penebangan pohon mangrove di sekitar Arboretum KeSEMaT dan menginformasikannya kepada Anda. Namun, kami sedih begitu melihat tanaman mangrove kami yang sudah berumur enam tahun, yang sudah-juga kami rawat dengan susah payah-nya, akhirnya ditebang begitu saja, dalam hitungan menit.

Seperti yang sudah berkali-kali, kami curhatkan kepada Anda, bahwa kenyataan-kenyataan seperti ini, selalu saja membuat kami trenyuh dan prihatin. Karena sampai dengan sekarang ini, kok masih saja ada oknum masyarakat yang belum mengerti akan arti pentingnya tanaman pesisir, ini. Cermatilah foto 4 di atas. Penebangan telah dilakukan beberapa sentimeter di atas akar-akar Rhizophora.

Kami tak ingin mencoba menyalahkan oknum masyarakat yang selalu saja melakukan penebangan. Kami lebih menyalahkan diri kami sendiri yang tidak pernah bisa maksimal dalam melakukan penyadaran kepada masyarakat Teluk Awur akan pentingnya ekosistem mangrove bagi kehidupan mereka.

Kami hanya berdoa, dibalik semua keterbatasan kami, kami bisa bekerja lebih maksimal lagi, di masa yang akan datang. Sehingga, praktek-praktek penebangan seperti ini, kalaupun tidak bisa diberantas, minimal bisa diperkecil persentasenya.

Demikian sebuah “Tetralogi” Teluk Awur. Semoga bermanfaat dan memberikan jawaban yang berarti bagi masyarakat yang seringkali menanyakan tentang bagaimana kondisi terakhir bibit MC 2008 dan MR 2008. Salam MANGROVER!

September 16, 2008 | 10:09 AM Comments  0 comments



Abrasi di Teluk Awur, ngeri sekali!

Dalam dua tahun ini, gerusan gelombang dahsyat yang terus menerus menerjang pesisir pantai Teluk Awur Jepara, semakin mengerikan. Tak usah terlalu berpanjang lebar mendeskripsikan bagaimana hebatnya abrasi yang ditimbulkannya, kalau Anda ingin melihat kondisi terakhir pantai Teluk Awur, coba Anda cermati empat buah foto di samping ini. Dua foto paling atas, diambil oleh KeSEMaT pada tanggal yang sama, 25 Juni 2006 (saat Mangrove REpLaNT (MR) 2006), di sore hari saat surut tiba. Selanjutnya, dua foto di bawahnya diambil oleh KeSEMaT di tanggal yang sama pula, namun dalam rentang waktu dua tahun, yaitu 11 September 2008, juga di sore hari saat air tak lagi pasang. Bisakah Anda lihat perbedaannya?

Lihatlah, pasir putih yang di 2006 masih bisa dilewati oleh para peserta MR 2006 karena masih lebar, kini di tahun 2008 tak lagi bisa dilewati karena telah hilang sekian meter, ditelan ganasnya gelombang. Di 2008, garis pantai terlihat semakin mendekati perakaran mangrove. Abrasi kurang lebih satu meter, telah menimpa pesisir pantai di Utara Jawa, ini.

Untunglah, perakaran Rhizophora yang kuat, masih bisa menghalangi gelombang sehingga laju abrasi bisa ditekan. Tertekannya laju abrasi oleh mangrove ini, menyebabkan kita masih bisa melihat keindahan garis pantai di Teluk Awur. Andai saja, dulunya KeSEMaT tidak pernah melakukan upaya rehabilitasi mangrove di kawasan ini, tak tahu lagi, sampai berapa jauh lagi, abrasi akan menggerus daratan. Sangat mungkin, abrasi akan menjangkau pemukiman padat penduduk di sekitar desa, itu.

Untuk itulah, KeSEMaT dari tahun 2001 sampai dengan sekarang ini, tak henti-hentinya melakukan upaya penanaman-kembali-mangrove untuk mengembalikan dan memulihkan kondisi ekosistem mangrove di Teluk Awur. Dan, Alhamdulillah, tanaman pesisir sebagai benteng pertama terhadap gelombang dahsyat ini, telah berhasil ditumbuhkan kembali oleh KeSEMaT, dan telah mampu pula menunjukkan fungsinya sebagai penahan laju abrasi yang sangat tinggi.

Dari fakta ini, satu pelajaran penting yang bisa diambil adalah, ada mangrove saja, abrasi masih menggila seperti ini. Bagaimana jadinya kalau KeSEMaT tidak pernah melakukan usaha penanaman mangrove di pesisir pantai yang (sebenarnya) indah, ini? Kami pikir, Anda sendiri sudah bisa menjawabnya. Ayo, terus jaga dan lestarikan mangrove, kita. Salam MANGROVER!

September 14, 2008 | 12:09 PM Comments  0 comments



Lumpurku, lumpurmu, lumpur kita semua

Sewaktu di lapangan, beberapa mitranya KeSEMaT, seringkali berkelakar, “Kalau KeSEMaT sedang mengerjakan program-program mangrove-nya, pastilah badan pesertanya akan belepotan lumpur dan kotor sekali.” Tersenyum simpul, kami menganggukkan kepala, tanda setuju. Mempercayai pendapat bahwa kotor itu baik dan kalau tidak kotor maka kita tidak bisa belajar, kami melanjutkan kelakar tadi dengan menjelaskan di balik kekotoran baju kami, terkandung sebuah pesan moral yang mendalam, yaitu untuk lebih menyatu dengan setiap detik, nafasnya mangrove. Bagaimana mungkin, kami bisa merasakan penderitaannya mangrove, apabila kami tidak menerjunkan diri kami ke tempat hidupnya secara langsung, yaitu lumpur-lumpurnya yang dalam (?).

Sebenarnya, bisa saja kami tak berkotor-kotor ria seperti itu, dengan cara hanya mencelupkan kedua kaki-kecil kami di pinggir-pinggir pesisir. Tapi, kalau kami bertindak demikian, kasihan sekali bayi-bayi mangrove kami. Mereka tak akan bisa mendapatkan tempat yang layak bagi pertumbuhan mereka. Artinya, kalau kami tak masuk ke lokasi mangrove yang dalam, maka bibit-bibit mangrove tidak akan bisa tertanam dengan baik dan benar.

Sebagai infrormasi, sudah berapa banyak calon pohon mangrove yang mati, karena tak tertanam dengan sempurna. Penanaman dilakukan asal-asalan dengan cara tak diikatkan ke ajir dengan tali rafia dan juga tak ditanam di lumpur yang dalam, melainkan hanya diletakkan di atasnya, saja! Apakah ini yang kita inginkan. Tentu tidak, bukan?

Lihatlah foto di atas ini. Foto ini diambil oleh KeSEMaT, sesaat setelah para KeSEMaTERS dan KeMANGTEER (KeSEMaT’s Mangrove Volunteer) selesai melakukan penanaman mangrove di Genuk Semarang, pada saat Mangrove Restoration (MANGRES) 2008. Lihatlah, seluruh badan mereka memang penuh dengan lumpur!

Setiap saat, setiap waktu, kami memang selalu berbelepotan dengan lumpur saat bekerja di lapangan. Jujur, itu semua tak kami sengaja, namun berjalan dengan sendirinya. Kami hanya mencoba tak mau bermain-main dengan kelulushidupan mangrove. Begitu selesai menanam, kami menanggung beban moral yang sangat amat berat karena bertanggung jawab akan hidup matinya bayi-bayi mangrove kami.

Kalau saja, ada orang yang beranggapan bahwa menanam mangrove bisa dilakukan tanpa berkotor-kotor ria, maka kami malah meragukan kualitas program penanaman mereka. Jangan-jangan, akar-akar dari bibit-bibit mangrove itu tak dimasukkan ke dalam tanah melainkan hanya diletakkan begitu saja pinggir-pinggir pesisir. Semoga tidak, ya. Salam MANGROVER!

September 9, 2008 | 10:09 AM Comments  0 comments



« previous 5


KeSEMaT's Profile

KeSEMaT's Friends


Latest Posts
Mari Bersama...
MANGROVER, Ayo Terus...
Press Release,...
KeSEMaTER Gathering di...
KeSEMaT Hadiri Ulang...

Monthly Archive
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
November 2011
December 2011
January 2012
February 2012

Change Language


Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove

Filter By Type
Travel
Topics

Friends
Abdullah Ali Hbahbeh
Adam MacIsaac
Anita
Bhattarai Ganga
Bhuwan
Christopher Walter
Damian Profeta
Dave Matthews
Diogo Andre
GSimon
harya
Michael Furdyk
Mohamed Elkashash
saevul amri
Shakti

Links
KeSEMaTPORTAL


169531 views
Important Disclaimer