TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
KeSEMaT UNDIP - My Blog
KeSEMaT UNDIP - My Blog
« previous 5


KeSEMaT, sang peraih ADHI BAKTI 2007

Apabila merunut sejarah KeSEMaT ke belakang, tak percaya rasanya bahwa di tahun keenamnya, komunitas pecinta mangrove remaja ini telah mendapatkan sebuah penghargaan bergengsi, ADHI BAKTI 2007. Penghargaan ini adalah sebuah pengakuan dan apresiasi dari pemerintah yang khusus diberikan kepada organisasi dan insan peduli lingkungan yang dirasa memiliki jasa dan usaha tak terkira, dalam menyelamatkan alam sekitarnya.

Penobatan ini tak akan pernah terjadi apabila beberapa tahun lalu, para Founding Father tak pernah memproklamirkan berdirinya KeSEMaT. Tanggal 9 Oktober 2001, adalah tonggak awal dan merupakan masa-masa yang sangat sulit. Apa pasal? Karena di saat KeSEMaT lahir, di beberapa tempat, vegetasi mangrove hampir tak bisa ditemukan lagi di Teluk Awur Jepara. Bahkan, areal mangrove yang seharusnya dihuni oleh pepohonan mangrove yang hijau, lebih banyak ditempati oleh tanah kosong berwarna coklat bak lapangan sepakbola yang lapang.

Tak hanya itu. Cibiran, hinaan dan makian yang datang bertubi-tubi, juga sering dilontarkan oleh beberapa orang yang menganggap bahwa keberadaan KeSEMaT tak akan ada guna terlebih manfaatnya. Apa sebab? Mereka beralasan dan sempat menuduh bahwa organisasi pemuda (baca: mahasiswa) bisanya hanya melulu melakukan kegiatan yang ditujukan kepada pengembangan diri anggota dan komunitasnya sendiri tanpa mau memikirkan orang lain, pun lingkungan sekitarnya. Bahkan, mereka berani bertaruh, tiga bulan semenjak didirikan, KeSEMaT pasti akan jatuh, hilang, dan lenyap tanpa bekas.

Namun untunglah Tuhan berkehendak lain. Kiranya Tuhan masih sayang kepada agen-agen mangrove muda ini, sehingga perkiraan “para kritikus” tentang umur pendek KeSEMaT, sama sekali tak terbukti. Bahkan di tahun 2007 ini, KeSEMaT tetap kokoh berdiri, menggenggam pencapaian terbesarnya, sebuah Penghargaan ADHI BAKTI 2007 untuk kategori Mina Bahari.

Tanpa terlalu banyak memikirkan omongan orang, KeSEMaTERS telah membuktikan bahwa dengan niat baik nan tulus dan usaha keras demi mendidik masyarakat dan melestarikan alam dan lingkungan bernama mangrove, kesuksesan mengelola lingkungan pesisir bisa dicapai. Tuduhan “para kritikus” yang mengatakan KeSEMaT “bisanya hanya melulu melakukan kegiatan yang ditujukan kepada pengembangan diri anggota dan komunitasnya sendiri tanpa mau memikirkan orang lain, pun lingkungan sekitarnya,” dibantah tegas oleh KeSEMaT dengan menciptakan beraneka program dan kegiatan mangrove yang berakar pada masyarakat dan lingkungan dengan cara melibatkan keduanya di setiap program mangrove KeSEMaT.

Hasilnya, berbagai macam program mangrove khas KeSEMaT berkonsep breakthrough dan bukan mainstream, yang bahkan telah banyak menginspirasi organisasi lingkungan lainnya untuk mengadopsi konsepnya ke kegiatan lingkungan mereka, telah berhasil diadakan. Hasilnya, program-program seperti Mangrove Cultivation (MC), Mangrove Movie (MM), Mangrove REpLaNT (MR), Sarasehan Akbar Mangrove (SAM), Mangrove Training (MT), KeSEMaT Goes To Arboretum (KGTA), KeSEMaT Goes To Community (KGTC), KeSEMaThursday, Klub Selasa Malam (KSM), KeSEMaT Goes To School (KGTS), dan Mangrove Documentation (MD) sukses dilakukan dan singkatan dari setiap program tersebut seperti MC, MM, MR, SAM, MT, KGTA, KGTC, KGTS dan MD seolah menjadi jargon baru yang akrab di telinga masyarakat.

Tak hanya program mangrove saja yang digulirkan, bahkan hasil dari masing-masing program mangrove tersebut juga nyata berguna bagi masyarakat dan lingkungan pesisir. Tengoklah, betapa MR telah berhasil menyulap 1 Ha daerah mangrove gundul (2001) menjadi 1 Ha mangrove penuh dengan pepohonan nan lebat (2007), di Teluk Awur Jepara. Tak hanya itu, MC juga telah mampu mendidik masyarakat umum tentang bagaimana tata cara pembibitan mangrove yang benar. Selanjutnya, MM berhasil mendokumentasikan sembilan spesies binatang mangrove Jepara dalam bentuk VCD yang kemudian didistribusikan ke sekolah-sekolah dan organisasi lingkungan lainnya demi membantu masyarakat dalam menegnal jenis-jenis binatang yang hidup di mangrove. Lalu, MT juga telah berjasa dalam memperkenalkan teknik dan metode penelitian mangrove kepada mahasiswa dan pelajar. Tak mau kalah, KGTC menjadi sangat berarti karena KeSEMaT selama lima bulan berturut-turut telah mendampingi masyarakat Trimulyo Semarang dalam menyelamatkan areal mangrovenya yang terabrasi dengan melakukan berbagai kegiatan penyuluhan, penanaman dan pemeliharaan bibit-bibit mangrove. Kemudian, KGTA-pun berhasil memelihara bibit-bibit mangrove di Jepara, hingga kelulushidupannya mencapai lebih dari 95%.

Tak sampai hanya disitu saja, KeSEMaTERS juga telah banyak melakukan penyuluhan dan kampanye mangrove untuk mengenalkan mangrove kepada masyarakat umum. Beberapa contoh kampanye mangrove yang telah dilakukan diantaranya adalah:

1. 29 – 30 Maret 2003. KeSEMaT menyuluh murid di empat SD di Teluk Awur Jepara mengenai ekosistem mangrove.
2. 12 Januari 2006. KeSEMaT menyuluh 30 murid SD Islam Terpadu mengenai fauna mangrove.
3. 18 Februari 2007. Memberikan penyuluhan mangrove di Desa Bedono Demak.
4. 30 Juni 2007. Memberikan pelatihan penelitian mangrove kepada murid SMA se-Indonesia dalam PIRNAS 2007 di Jepara.
5. 12 Agustus 2007. Memberikan penyuluhan mangrove di Kelurahan Trimulyo – Genuk, Semarang.
6. 19 November 2005. Memberikan pengertian akan arti penting mangrove sekaligus mempertemukan Komisi IV DPR RI Jakarta dengan Pemerintah Kabupaten Rembang dan masyarakat pesisirnya.
7. 2003 – 2007. Memberikan contoh pembuatan Mangrove Education Center (MEC) berupa Arboretum KeSEMaT yang berisi jenis-jenis mangrove, bedeng persemaian, papan nama spesies mangrove, dan informasi pendidikan mangrove lainnya, di belakang kampus Ilmu Kelautan UNDIP Jepara kepada masyarakat Teluk Awur Jepara.

Masih belum cukup, KeSEMaT merasa perlu untuk membangun sebuah PORTAL bernama KeSEMaTPORTAL, untuk berkampanye mangrove di dunia maya, yaitu internet. Enam buah jaringan KeSEMaT yang berisikan foto, artikel, cerpen, penelitian dan segala hal mengenai mangrove yang berguna untuk memasyarakatkan mangrove bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia, telah dibangun. Berikut ini adalah KeSEMaTPORTAL.
1. KeSEMaTMAIL kesemat@yahoo.com
2. KeSEMaTYUWIE http://www.yuwie.com/kesemat
3. KeSEMaTSITE http://kesemat.tripod.com
4. KeSEMaTMILIST http://groups.yahoo.com/group/kesemat
5. KeSEMaTFRIENDSTER http://www.friendster.com/kesemat
6. KeSEMaTBLOG http://kesemat.blogspot.com

Apabila tidak ada halangan, tanggal 5 Desember 2007, bisa jadi akan juga menjadi tanggal yang sangat bersejarah bagi KeSEMaT selain tanggal 9 Oktober 2007. Di tanggal itu, kelompok studi ekosistem mangrove yang beranggotakan para insan muda dalam rentang usia 18-30 tahun yang peduli mangrove ini, akan menerima penghargaan dalam bidang pelestarian lingkungan bernama ADHI BAKTI 2007, untuk kategori Mina Bahari.

Bersama-sama dengan insan peduli lingkungan lainnya seperti Kelompok Tani Mangrove Bapak Suyadi, LSM LPPSP dan insan lingkungan lainnya, KeSEMaT akan dianugerahi dan diapresiasi kerja kerasnya selama enam tahun ini, atas jasanya mengkonservasi, mendidik masyarakat pesisir, meneliti dan mendokumentasikan daerah mangrove terabrasi, di Pesisir Pantai Utara Jawa.

Sebagai penutup, sekali lagi, kemenangan KeSEMaT ini, tentu saja menumbangkan anggapan sebagian orang yang mengasumsikan generasi muda adalah generasi hura-hura yang tak pernah jera. Image komunitas pemuda yang tak pernah berhenti berpesta-pora demi kepentingan diri dan komunitasnya sendiri, tanpa memikirkan lingkungan sekitarnya terbukti tidak seratus persen benar.

Untuk itu, KeSEMaT mendedikasikan ADHI BAKTI 2007 ini kepada semua pihak terutama bagi kaum muda, yang telah mendukung dan bekerjasama dengan KeSEMaT dari tahun 2001 hingga 2007, ini. ADHI BAKTI 2007 ini adalah kemenangan kita semua. Semoga saja, kemenangan KeSEMaT ini bisa menginspirasi dan menginisiasi kita semua untuk terus berjuang dan bekerja demi masyarakat, alam dan lingkungan pesisir kita. Mari bersama teruskan usaha, satukan asa dan jiwa, untuk menyelamatkan ekosistem mangrove kita, SEKARANG!

November 26, 2007 | 7:11 AM Comments  0 comments



Manusia, masih saja berperang melawan mangrove

Salah satu jurnalis perempuan Indonesia, beberapa waktu yang lalu meluncurkan sebuah buku yang menceritakan pengalaman mencekamnya ketika disandera di sebuah penjara, dengan latar belakang peperangan. Teman saya, yang notabene adalah salah satu fans jurnalis tersebut, sempat mengajak saya untuk membeli buku yang dianggapnya kontroversial, tersebut. Saya hanya sempat melihat sampulnya dan membaca bagian sinopsisnya.

Bagi saya, buku tersebut lumayan menarik tapi tak terlalu membuat saya begitu terkesima, sehingga perlu untuk membelinya. Teman saya sempat menanyakan mengapa saya tak membeli “buku bagus” tersebut. Saya menjawab sederhana, “Kurang minat. Karena pengalaman dan tragedi yang diceritakan di buku itu, tak beda jauh dengan pengalaman saya yang selama enam tahun terakhir ini, juga hidup dan bekerja di daerah peperangan,” begitu jelas saya.

Memang benar. Bekerja di mangrove adalah bekerja di daerah peperangan yang penuh konflik dan intrik. Bekerja di daerah mangrove adalah juga bekerja di sebuah areal yang sarat dengan nafas kepentingan dan politik. Sebuah peperangan, bisa terjadi berkali-kali di daerah-daerah Pesisir Utara Jawa. Bukan peperangan antara manusia dengan manusia saja, bahkan peperangan antara manusia dengan mangrove-pun sudah sangat sering terjadi. Bagi saya, peperangan di pesisir tak lebih berbahaya dan mengerikan dengan peperangan di medan perang yang dialami oleh jurnalis tersebut.

Namun demikian, peperangan di sini bukan dalam arti pengeboman, penembakan, pembunuhan, penculikan dan perampokan senjata. Peperangan di pesisir adalah peperangan melawan kepentingan, kekuasaan, rebutan lahan, rebutan proyek, penyelundupan uang, pemotongan uang alias korupsi dan peperangan-peperangan khas pesisir lainnya.

Contoh kasus. Di salah satu daerah pesisir di Utara Jawa, pertikaian antar kelompok untuk memperebutkan lahan mangrove dan tambaknya, sampai saat ini masih saja terjadi. Hal ini tak ayal lagi bagaikan sebuah peperangan antar suku yang tak pernah usai. KeSEMaT sudah sempat mempertemukan pihak- pihak yang bertikai tersebut dengan mengadakan sebuah sarasehan mangrove beberapa tahun yang lalu, namun demikian sampai dengan sekarang, riak kecil pertikaian itu, tetap saja ada.

Sementara itu, di pesisir lainnya, mangrove dijadikan obyek oleh manusia untuk mengeruk keuntungan. Di saat proyek masih dan sedang berlangsung, mangrove begitu dianakemaskan, dirawat dan dipelihara. Namun begitu uang sudah tak ada lagi proyek yang datang, mangrove dianaktirikan dan dicampakkan tanpa ada sedikitpun rasa tanggung jawab apalagi belas kasihan..

Selanjutnya, dari sekian banyak peperangan di pesisir, peperangan terbesar yang pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri adalah perang besar antara manusia dengan mangrove. Manusia-manusia di pesisir Utara Jawa, masih menganggap mangrove adalah musuh besarnya sehingga harus diberantas, diurug, ditebang, dan direklamasi demi memuaskan kepentingan hidup manusia saat ini. Coba Anda lihat foto di atas sana. Itulah sebagian nasib mangrove di Ujung Piring Jepara yang sebagian ditebang untuk kayu bakar dan pertambakan. Tanpa banyak komentar lagi. Mau sampai kapan kita berperang melawan mangrove?

November 25, 2007 | 6:11 AM Comments  0 comments



Global warming dan rasa adil

Foto ini adalah para KeSEMaTERS yang sedang melakukan sebuah usaha penyelamatan pantai terabrasi, dengan cara melakukan penanaman mangrove di daerah pesisir Rembang, Jawa Tengah. Dari usaha kecil seperti ini, beberapa tahun ke depan, bayi-bayi mangrove ini, selain bisa menanggulangi abrasi, juga akan mampu menyerap zat-zat berbahaya yang menyebabkan pemanasan global. Berbicara mengenai pemanasan global, minggu-minggu ini, memang santer sekali pemberitaan mengenai perubahan iklim dan pemanasan global atau yang lebih dikenal sebagai Climate Change and Global Warming (CCAGW), di berbagai media massa.

Tak hanya di televisi, koran dan majalah bahkan di radio-radio lokal di masing-masing daerahpun, saya rasa ikut juga mempromosikan kampanye pencegahan CCAGW ini. Seakan ikut menyemarakkan pemberitaan CCAGW yang lagi rame di Indonesia, dalam waktu dekat, sebuah perhelatan akbar, konferensi iklim bertaraf internasional bertema CCAGW yang diinisiasi oleh PBB, juga akan diadakan di Bali, di awal Desember 2007. Pertemuan ini tentu saja bertujuan untuk memperbincangkan, merundingkan, menelaah dan mencari solusi atas segala permasalahan dan isyu terbaru yang berkembang, seputar CCAGW.

Mengapa CCAGW begitu mengemuka akhir-akhir ini? Salah satu jawaban yang bisa dilontarkan adalah karena temperatur bumi kita ini semakin hari semakin naik saja. Bumi semakin panas! Inilah yang membuat manusia menjadi panik. Sebuah tulisan saya terdahulu yang berjudul Mangrove dan Global Warming, telah mengisahkan bahwa betapa sebuah kota kecil bernama Tembalang, yang merupakan sebuah “kota pegunungan” Semarang – Jawa Tengah, menjadi sangat panas akhir-akhir ini. Padahal delapan tahun yang lalu, temperatur kota Semarang atas ini, masih “dingin” layaknya Puncak di Jawa Barat.

Selanjutnya, suhu bumi yang makin panas, lambat laun akan menghancurkan gunung es di kutub utara. Hancurnya gumpalan-gumpalan es tersebut, akan mendatangkan banjir besar yang mengakibatkan tertutupnya daratan-daratan di permukaan bumi ini oleh air laut. Kalau hal ini sampai terjadi, kelangsungan hidup umat manusia di masa mendatang, benar-benar sangat terancam.

Untuk menanggulangi segala permasalahan CCAGW, dengan sekuat tenaga, manusia dari seluruh penjuru dunia, berupaya untuk mencegah terjadinya efek buruk CCAGW dengan cara bersatu padu, bekerja bersama dan menyatukan pendapat demi mendapatkan sebuah jalan keluar yang disepakati bersama. Namun agaknya, sampai dengan akan diselenggarakannya konferensi di Bali, konsep kesepahaman bersama tersebut, belum juga bisa disepakati.

Hal ini bisa terjadi karena terjadi sedikit “perselisihan” antara Negara Berkembang (NB) dengan Negara Maju (NM), sebagai “pelaku utama” CCAGW. NB sering diklaim oleh NM sebagai pihak yang bersalah dan harus bertanggung jawab terhadap naiknya temperatur di bumi. Apa pasal? Karena NB dinilai tidak becus mengurus hutan-hutannya sehingga tak mampu lagi menyerap zat-zat racun penyebab pemanasan global. Akan tetapi, NB tak mau disalahkan. Mereka beranggapan bahwa usaha semaksimal apapun untuk menanam pohon di NB, tak akan ada gunanya apabila NM juga tak mau mengurangi perkembangan industri di negaranya.

Menurut NB, NM tidak seharusnya membantu pendanaan saja, melainkan juga harus mengatur (baca: mengurangi) industrialisasi di negaranya agar zat-zat beracun tak terus bertambah di udara. Celakanya, tuntutan NB kepada NM, seakan tak digubris. NM bahka juga tak mau disalahkan. Dengan dalih sudah membantu pendanaan yang sangat besar demi kelestarian hutan-hutan di NB, tak seharusnya NB malah balik menuntut mereka. NM beranggapan seharusnya merekalah yang berhak menuntut hasil kerja NB dalam mengelola hutannya untuk menyelamatkan dunia dari CCAGW.

Apabila kedua belah pihak saling tuding seperti ini, semuanya menjadi serba sulit. Tidak hanya NB, NM-pun tak mau disalahkan atas semakin tingginya temperatur di permukaan bumi. Kalau sudah begini, lalu siapa yang layak dipersalahkan? Siapa pula yang patut bertanggung jawab? Kasihan bumi kita ini.

Ada baiknya kedua belah pihak tak lagi saling menggugat, mengolok dan menyalahkan. NB dan NM harus duduk bersama dengan kepala dingin, agar bisa memecahkan silang pendapat di atas, secara adil. Kita hanya berharap, konferensi iklim di Bali nanti, bisa menjadi tonggak awal bagi hadirnya nota kesepahaman bersama antara NB dan NM, untuk menyatukan suara mereka, demi mencegah datangnya efek buruk CCAGW. Semoga saja.

November 24, 2007 | 10:11 AM Comments  0 comments



Selamatkan mangrove, capai MDGs

Tentu saja, bagi sebagian dari Anda, istilah MDGs atau Millenium Development Goals, sudah tak asing lagi terdengar di telinga. Sebuah televisi swasta nasional Indonesia bernama METRO TV, bahkan mengadopsi MDGs ke dalam program-program unggulannya, demi ikut menyukseskan MDGs ini di Indonesia. Apakah MDGs itu? MDGs adalah delapan buah tujuan yang ingin dicapai bersama oleh umat manusia. Delapan buah tujuan ini telah dideklarasikan para pemimpin dunia, sewaktu berkumpul di Sekretariat PBB pada pertemuan yang dikenal dengan nama “UN Millennium Summit” di tahun 2000.

Sebanyak 189 pemimpin dunia berjanji dan sepakat untuk mewujudkan MDGs pada tahun 2015. Kesepakatan ini, kemudian direalisasikan kedalam delapan buah poin penting yang disebut dengan MDGs. Poin-poin dalam MDGs, telah “diamini” oleh hampir seluruh negara di dunia ini.

Apa sebenarnya yang menarik perhatian dunia, sehingga MDGs ini begitu “diminati” (?). Ketertarikan mereka terhadap MDGs, tak lain dan tak bukan karena delapan poin MDGs, setidaknya merepresentasikan keinginan semua umat manusia untuk:

1.Mengurangi angka kemiskinan dan kelaparan
2.Mencapai pendidikan
3.Mempromosikan persamaan hak dan kesetaraan gender perempuan
4.Mengurangi angka kematian anak
5.Meningkatkan kesehatan
6.Menanggulangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya
7.Memastikan keberlanjutan pelestarian lingkungan
8.Mengembangkan kerjasama global

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah poin ketujuh. Sebuah poin berupa tujuan bersama untuk menjamin adanya keberlanjutan usaha pelestarian lingkungan hidup. Demi mewujdukan poin ketujuh ini, saya dan organisasi saya bernama KeSEMaT, sebagai salah satu organisasi mangrove yang terdiri dari para pemuda berusia 18 – 30 tahun (lihat foto di atas, nampak KeSEMaTERS berdiri di antara hutan mangrove, bersama dengan para Kelompok Tani Mangrove Sidodadi Maju di pesisir pantai Rembang), bertekad akan menyukseskan MDGs dengan cara menyumbangkan segala pikiran dan tenaganya, dengan cara meningkatkan rasa kepedulian para KeSEMaTERS dalam menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove di areanya, yaitu pesisir Pantai Utara Jawa.

Faktanya, sejak berdiri pada tanggal 9 Oktober 2001, organisasi mangrove di bawah Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang - Jawa Tengah ini, telah banyak melakukan penyelamatan ekosistem mangrove di daerah Demak, Jepara, Rembang dan Semarang yang memang merupakan daerah kerjanya.

Usaha-usaha penyelamatan ekosistem mangrove yang dilakukan oleh KeSEMaT diejawantahkan ke dalam empat poin utama berupa konservasi, pendidikan, penelitian dan dokumentasi mangrove, yang telah diadakan di empat daerah tersebut di atas. Hasilnya, program-program konservasi, pendidikan, penelitian dan dokumentasi mangrove KeSEMaT, kini sudah mulai bisa dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya.

Beberapa buah program KeSEMaT yang telah bergulir, diantaranya adalah:

1. Mangrove REpLaNT – MR

Berhasil menghijaukan kembali kurang lebih satu hektar lahan mangrove yang dulunya gundul, di Teluk Awur Jepara Jawa Tengah INDONESIA dan membuatnya menjadi sebuah Arboretum Mangrove sebagai tempat Pusat Pendidikan Mangrove (Mangrove Education Center) bagi masyarakat sekitarnya.

2. Mangrove Cultivation – MC
Berhasil mendidik pelajar dan mahasiswa mengenai pembibitan mangrove yang baik dan benar di Teluk Awur Jepara Jawa Tengah INDONESIA.

3. Mangrove Movie – MM
Berhasil mendokumentasikan sembilan spesies binatang-binatang mangrove Jepara, sebagai langkah awal hadirnya database binatang-binatang pesisir di wilayah Jepara dan sekitarnya.

4. Mangrove Training – MT
Berhasil memberikan informasi dan pengetahuan kepada pelajar dan mahasiswa mengenai metode penelitian mangrove berikut teknik analisa datanya.

5. KeSEMaT Goes To Community – KGTC

Berhasil memberikan penyuluhan tentang mangrove kepada masyarakat pesisir sekaligus mengkonservasi lahan mangrove yang terabrasi sepanjang dua kilometer, di bantaran Sungai Kali Babon, Genuk Semarang Jawa Tengah INDONESIA.

6. KeSEMaT Goes To Arboretum – KGTA
Berhasil memelihara dan melakukan monitoring terhadap bibit-bibit mangrove hasil MC dan MR di Teluk Awur Jepara Jawa tengah INDONESIA mulai dari tahun 2001 sampai dengan 2007, sehingga keluluhidupannya mencapai 98%. Selanjutnya, KeSEMaT sukses menciptakan hutan mangrove yang tadinya gersang menjadi lebat kembali sehingga keberadaan ekosistem mangrove yang seimbang dan berkualitas, kini bisa dijumpai di akhir tahun 2007 ini.

Masih banyak lagi program yang telah dihasilkan oleh KeSEMaT dalam rangka ikut mendukung dan menyukseskan poin ketujuh MDGS. Apabila Anda ingin mengetahui tentang program dan kegiatan mangrove KeSEMaT lainnya, Anda bisa mengunjungi KeSEMaTPORTAL, yang terdiri dari enam buah jaringan, sebagaimana tersebut di bawah ini. Silahkan berkunjung ke sana.

KeSEMaTMAIL kesemat@yahoo.com
KeSEMaTYUWIE http://www.yuwie.com/kesemat
KeSEMaTSITE http://kesemat.tripod.com
KeSEMaTMILIST http://groups.yahoo.com/group/kesemat
KeSEMaTFRIENDSTER http://www.friendster.com/kesemat
KeSEMaTBLOG http://kesemat.blogspot.com

Mari bersama kita selamatkan mangrove untuk mencapai MDGs!

November 11, 2007 | 8:11 AM Comments  0 comments



Hutan mangrove bukan produk instan

Saya sempat heran melihat sebuah kenyataan di lapangan, bahwa ternyata ada seorang Ketua Kelompok Nelayan (KKN) yang merasa sangat gembira setelah melihat hasil penanaman mangrove yang “gagal” di sebuah daerah terabrasi, yang dilakukan oleh kelompok nelayan lainnya dalam satu wilayahnya. Bukan membantu menyelesaikan masalah “kegagalan” yang dihadapi oleh kelompok nelayan temannya itu, melainkan malah mencaci maki dan mempublikasikan hasil “kegagalan” penanaman itu kepada khalayak, termasuk kepada saya.

Fakta ini saya jumpai, ketika berbincang dengan KKN dalam sebuah acara sarasehan mangrove di pesisir Pantai Utara Jawa, beberapa bulan yang lalu. “Saya sudah bilang ke teman saya, bahwa tekniknya itu salah. Lebih baik memakai propagul dan tidak memakai bibit. Salah sendiri, diberi saran tidak mau. Kalau “gagal” seperti ini, rasakan sendiri. Kalau saya, dulu saya dan kelompok saya, “berhasil” melakukan program penanaman mangrove karena menggunakan teknik yang benar, Mas,” begitu kata dia kepada saya.

Saya tersenyum simpul. Dengan hati-hati, saya bertanya dan melakukan dialog singkat dengan KKN, yang menurut saya kurang bijak, terlalu percaya diri dan mengganggap orang lain tak penting. Saya menjelaskan kepada dia bahwa sebenarnya, tak ada “kegagalan” dalam sebuah proyek penanaman mangrove. Yang terjadi adalah jumlah bibit mangrove tak bisa beradapatasi dengan lingkungan-barunya sehingga menyebabkan kelulushidupannya sangat kecil.

Saya sempat melihat hasil penanaman teman KKN yang menurut KKN “gagal”. Secara visual, bisa saya simpulkan bahwa pencemaran sampah, ketidaksesuaian substrat, dan gelombang pasang-lah yang telah menyebabkan bibit-bibit mangrove itu banyak yang mati dan terkubur pasir. Selanjutnya, andaikan saja penyebab terakhir tidak ada, maka saya yakin bahwa kelulushidupan bibit mangrove yang ditanam bisa mencapai 80% lebih. Sayang, gelombang pasang telah “menelan” sebagian besar bibit mangrove hingga membuatnya tak bersisa.

Saya kemudian menambahkan bahwa untuk mengkonservasi sebuah daerah yang terabrasi menjadi sebuah vegetasi atau bahkan hutan mangrove yang lebat, diperlukan waktu lama bahkan sampai bertahun-tahun dan bukanlah satu waktu/periode saja. Jadi, janganlah di-justifikasi sekarang. Proses penghakiman harus dilakukan nanti, setelah dua, lima, sepuluh, lima puluh, bahkan beratus-ratus kali penyulaman. Intinya hutan mangrove bukanlah sebuah produk instan, yang begitu satu kali saja dilakukan proyek penanaman, maka seratus persen bibitnya akan hidup semua sehingga menghasilkan kawasan vegetasi mangrove yang lebat. Tidak mungkin, kecuali apabila Tuhan-lah yang menghendaki.

Sebaliknya, untuk mempertahankan kelulushidupan bibit-bibit mangrove agar tidak layu dan mati, harus dilakukan program penyulaman dan monitoring secara terus menerus dan kontinyu sampai mendapatkan jumlah bibit mangrove yang dikehendaki, stabil kondisinya dan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pengalaman bekerja untuk mangrove di Jepara, KeSEMaT dengan program Mangrove REpLaNT-nya, memerlukan waktu hingga enam tahun lebih, hanya untuk menghijaukan kembali lahan gundul yang luasnya tak kurang dari satu hektar, saja. Itupun setelah melewati banyak “kegagalan” dalam pembibitan, penanaman dan penyulaman. Tambal sulam alias program penyulaman secara terus menerus dan kontinyu setiap satu minggu sekali, menjadi faktor penting keberhasilan reboisasi mangrove di Teluk Awur Jepara. Saat ini, lahan gundul itu telah kembali lebat, bahkan tiga perempatnya sudah tertanami dengan baik dan sedang menanti tahap pengembangan selanjutnya, menjadi sebuah Taman Pendidikan Mangrove (Mangrove Education Park) yang ditujukan untuk pelajar, mahasiswa dan masyarakat setempat.

Lihatlah foto di atas. Tidak hanya di Jepara, para KeSEMaTERS juga melakukan (baca: mengadopsi) hal yang sama, sewaktu mengerjakan proyek KeSEMaT Goes To Community (KGTC) - Mangrove Conservation: Mari Selamatkan Ekosistem Mangrove di Pesisir Pantai Kita. Sekarang!, di bantaran Sungai Kali Babon, Demak - Semarang. Begitu melihat bibit-bibit mangrove-nya layu, mereka segera melakukan penyulaman dengan cara mengganti bibit – bibit mangrove yang layu tersebut, dengan yang baru.

Jadi, tuduhan KKN atas “kegagalan” penanaman mangrove temannya di atas, saya kira tidak tepat dan tidak mendasar sama sekali. Kalau saja, dalam satu kali masa penanaman saja, KKN sudah menghakimi hasil penanaman itu “gagal”, ini menunjukkan bahwa pengetahuan KKN akan konsep konservasi secara menyeluruh masih sangat sempit.

Selanjutnya, di akhir dialog singkat saya dengan dia, saya memberikan penjelasan kepada dia, bahwa keberhasilan dan kegagalan sebuah proyek/program penanaman mangrove, tidak boleh diukur pada satu waktu saja, melainkan baru bisa di-justifikasi, setidaknya setelah tiga puluh tahun ke depan di saat bibit-bibit mangrove telah menjelma menjadi tumbuhan mangrove raksasa yang mampu membentuk hutan mangrove alami dan siap melindungi pantai dari gelombang tinggi penyebab abrasi.

November 8, 2007 | 9:11 AM Comments  0 comments



« previous 5


KeSEMaT's Profile

KeSEMaT's Friends


Latest Posts
Mari Bersama...
MANGROVER, Ayo Terus...
Press Release,...
KeSEMaTER Gathering di...
KeSEMaT Hadiri Ulang...

Monthly Archive
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
November 2011
December 2011
January 2012
February 2012

Change Language


Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove

Filter By Type
Travel
Topics

Friends
Abdullah Ali Hbahbeh
Adam MacIsaac
Anita
Bhattarai Ganga
Bhuwan
Christopher Walter
Damian Profeta
Dave Matthews
Diogo Andre
GSimon
harya
Michael Furdyk
Mohamed Elkashash
saevul amri
Shakti

Links
KeSEMaTPORTAL


169537 views
Important Disclaimer