 |
KeSEMaT UNDIP - My Blog
| November 28, 2009 | 1:11 AM |
|
|
 |
Macaca, Monyet yang Doyan Kepiting Mangrove!
|


 Semarang - KeSEMaTBLOG. Masih membahas mengenai berbagai fauna mangrove, kali ini, kami mencoba untuk memenuhi permintaan dari Rekan-rekan kami di KeSEMaTFACEBOOK, yang menanyakan mengenai apakah selain kambing, monyet dan kelelawar, masih ada jenis mamalia lainnya, yang seringkali ditemukan dan berasosiasi dengan mangrove? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kami (masih) mencuplik beberapa pernyataan dari Peter J. Hogarth, dalam bukunya yang berjudul “The Biology of Mangroves,” yang mengatakan bahwa ternyata (memang) ada banyak mamalia yang hidup dan berasosiasi dengan mangrove. Beberapa mamalia yang ditemukan di hutan mangrove, di berbagai wilayah di dunia, antara lain adalah (1) Lumba-lumba, di India, (2) Berang-berang, di Asia Tenggara, (3) Kucing mangrove di Asia, (4) Racoon di Amerika Tengah, (5) Unta di Arab dan Pakistan dan (6) Badak, Antelop, Kerbau, Babi Hutan, dan berbagai jenis hewan pengerat di bagian bumi lainnya. Hewan-hewan ini, pada umumnya memfungsikan mangrove sebagai tempat mencari makan.
Sebagai contoh, berang-berang sering ditemukan sedang memangsa ikan-ikan di perairan mangrove. Selanjutnya, Unta di Arab, senang memakan dedaunan mangrove. Tak hanya itu, Monyet di Senegal jenis Cercopithecus menjadikan kepiting laga (Uca tangeri) dan bunga, buah dan daun muda Rhizophora sebagai makanannya. Lalu, monyet jenis Macaca (lihat fotonya di atas, foto dicuplik dari Fim “Dunia Mangrove” produksi Mangrove Information Center - MIC - Bali) yang berhabitat di Asia Tenggara, juga doyan makan kepiting dan kerang mangrove. Di semenanjung Malaysia, kelelawar-buah jenis Macroglossus minimus, juga memangsa madu dan tepung sari Sonneratia.
Namun demikian, masih menurut Hogarth (1999), bahwa berbagai fauna di atas, tidak lantas hidup menetap di hutan mangrove, melainkan hanyalah bersifat sebagai pendatang, saja. Jenis hewan yang benar-benar hidup dan menetap di mangrove serta berasosiasi dengannya, secara sepenuhnya, adalah sejenis hewan pengerat dari Australia, yang bernama ilmiah Xeromys myoides. Hewan ini memangsa kepiting pada saat surut diantara vegetasi Avicennia dan Rhizophora.
Xeromys membangun sarangnya di atas garis pasang tertinggi, pada akar-akar Bruguiera. Sarangnya, berasal dari dedaunan dan lumpur-lumpur mangrove. Walaupun, tubuhnya ditengarai tahan air, namun hewan pengerat ini tidak pernah ditemukan sedang berenang di perairan mangrove. Untuk itulah, diduga untuk beradaptasi di mangrove, dia seringkali memanjat pohon-pohon mangrove, pada saat air pasang datang.
Demikian, informasi mengenai beberapa mamalia yang hidup dan berasosiasi dengan mangrove. Dari artikel ini, bisa disimpulkan bahwa ternyata tidak hanya jenis-jenis kepiting dan ikan saja yang hidup di mangrove. Bahkan, mamalia yang notabene adalah golongan hewan “tingkat tinggi,” juga bergantung hidupnya dengan keberadaan ekosistem tumbuhan pesisir, ini.
Untuk itu, tidak bisa ditawar lagi, kita harus terus bersemangat untuk melestarikan ekosistem mangrove kita, demi menjaga keseimbangan dan keanekaragaman hayati, tak hanya flora mangrove saja, tetapi juga beragam “fauna mangrove,” di atas.
Dengan semangat dan usaha untuk terus melakukan berbagai usaha pelestarian mangrove ini, maka Anda juga akan turut membantu kami dalam menyelamatkan habitat monyet ekor panjang, jenis Macaca fascicularis di atas, yang termasuk ke dalam salah satu satwa yang dilindungi oleh CITES 1995. Monyet ini, serta merta terancam punah, akibat dari penebangan mangrove, yang terjadi secara membabi-buta, di mana-mana, terutama di Indonesia. Salam MANGROVER!
 
|
|
| November 27, 2009 | 6:11 AM |
|
|
 |
Di Mangrove, Laba-laba Memangsa Kepiting!
|


 Semarang - KeSEMaTBLOG. Apakah Anda tahu laba-laba dan seringkali menemukannya di sekitar rumah Anda? Pasti, ya. Tapi tahukah Anda, bahwa ternyata, laba-laba tak hanya bisa ditemukan di sekitar rumah kita saja, melainkan juga bisa ditemukan di mangrove (?). Benar, laba-laba juga menghuni mangrove dan bahkan sangat bergantung hidupnya dengan ekosistem pesisir, itu. Tidak percaya? Baiklah. Untuk membuktikannya, kami persilahkan Anda untuk menyimak penjelasan tentang hal ini, secara lebih lengkap, di bawah ini. Lihatlah foto di atas ini. Ini adalah laba-laba (mohon maaf, kami belum mengetahui apakah jenisnya. Mungkin ada komunitas pecinta laba-laba di Indonesia, yang mau membantu kami untuk bisa mengidentifikasinya (?), layaknya komunitas pecinta burung HALIASTER Universitas Diponegoro, yang telah membantu kami dalam mengidentifikasi jenis burung di MECoK kami, di Teluk Awur, Jepara) yang kami jumpai di MECoK - Jepara, saat kami sedang melakukan program pemeliharaan mangrove, di sana.
Laba-laba ini, kami temukan tak hanya satu tapi berjumlah puluhan (bahkan kami yakin, bisa sampai berjumlah ratusan atau ribuan, kalau kami lebih detail lagi menghitungnya), yang sarangnya berada di sela-sela daun, batang dan akar-akar mangrove. Untuk lebih mengetahui lagi mengenai komunitas laba-laba yang mendiami mangrove ini, maka kemudian kami mulai mencari beberapa literatur mengenai seberapa erat kaitan antara mangrove terhadap kehidupan binatang kecil, yang terkadang membuat sebagian dari kita ketakutan karena takut, jijik dan geli untuk menyentuhnya.
Adalah Peter J. Hogarth, seorang peneliti dan penulis dari Inggris, yang dalam bukunya yang berjudul “The Biology of Mangroves,” telah menuliskan beberapa hal yang menarik, mengenai kehidupan laba-laba di mangrove. Penasaran? Silahkan menyimak artikelnya, yang kami cuplik pada halaman 62, berikut ini.
One of the most spectacular of web-building spider is the golden silk spider (Nephila clavipes) of the New World. Female Nephila build an orb web some 2 m in diameter. The female, which occupies the web, may have a body length of about 6 cm. She may also share her web with a number of kleptoparasitic spiders (Argyrodes) wich build no web of their own, but steal trapped insects from the Nephila.
Another striking group of web-building spiders belong to the family Gasteracanthidae. These have brightly-coloured bodies with projecting spikes which may protect them against predators, and occur in mangrove from the Caribbean to Malaysia and Australia.
As well as the web-building spiders, mangroves often contain numerous wolf and jumping spiders which descend from the trees at low tide and forage over the mud. Their main prey is presumably insect such as ants, but the Lycosid pardosa of Malaysia has been seen to catch juvenile fiddler crabs (Uca). Pardosa is one of the few spiders that seems to be adapted to a semiaquatic life. Its hairy coat is water repellent, and the species seems to shelter (and breed) in air-filled burrows in the mud, including abandoned fiddler crab holes (Stafford-Deitsch, 1996). Yang menarik dari artikel Hogarth ini, tentu saja adalah laba-laba jenis Pardosa, yang ternyata adalah pemangsa anakan kepiting infra ordo Brachyura, kelas Ocypodidae, yaitu Uca, sang Kepiting Laga. Bahkan, tak hanya itu, Pardosa memiliki bagian tubuh penuh bulu, yang berguna sebagai alat adaptasi terhadap kondisi mangrove yang lembab dan berair. Pardosa juga diduga hidup dan memijah di lubang-lubang Uca yang telah ditinggalkan oleh kepiting itu!
Kesimpulannya, memang benar, bahwa laba-laba juga menghuni mangrove dan bahkan sangat bergantung hidupnya dengan ekosistem pesisir, ini. Jadi, apabila kita merusak mangrove, berarti kita tak hanya menghilangkan habitat mangrove saja, tetapi juga akan melenyapkan sarang-sarang Pardosa, yang menggantungkan mangrove untuk meletakkan telur-telurnya, demi meneruskan generasi spesiesnya di bumi, ini. Semoga kita cepat sadar, dan segera merubah sikap kita untuk mulai mau menyayangi dan mencintai mangrove kita, ini. Amin. Salam MANGROVER!
 
|
|
| November 25, 2009 | 7:11 AM |
|
|
 |
The Environmental Classes of Mangrove Forest
|


 Semarang - KeSEMaTBLOG. Melalui salah satu Jaringan KeSEMaTONLINE, yaitu KeSEMaTFACEBOOK, seringkali terjadi perbincangan mengenai habitat mangrove, terutama pertanyaan tentang bisa hidup di lingkungan yang bagaimana sajakah mangrove, itu. Jawaban dari pertanyaan ini, sebenarnya sudah ada di Jaringan KeSEMaTONLINE. Namun demikian, untuk lebih melengkapi jawaban yang telah ada, maka berikut ini kami cuplik sebuah artikel dari buku berjudul “Flora and Fauna of Indonesian Mangrove Ecosystem in The Shouth China Sea,” terbitan LPP Mangrove, mengenai empat kelas lingkungan, dimana mangrove hidup dan bisa ditemukan. According to Thom (1995 cited by Ongkosongo et al. 1986, Mulia 1999) based on the environmental setting, the type of mangrove forest can be grouped into 4, viz. (a). Delta type: Formed in the estuaries of big river, and their sediment load in the river flow are deposited vastly formed as delta and generally their morphology are as tributary. Such as delta system can be found in Sumatera (e.g., Musi river delta, Tembilahan delta, Siak river delta). (b). Mudflat. Mudflats are found in the sea shores, generally typified by vast river flow, high tidal current and distributed sediment which become terrestrial lands. Widest sedimentation along with the tidal current and river erosion will threat the mangrove forests. (c). Terrestrial islands. The small islands and their substrates consist of terretrial sediment and marine carbonate sediment, and usually occupied by water during high tides. At low tides, the islands represent of unique habitat of mangrove, e.g., Seribu islands. (d). Terrestrial shores. The habitat formed as a narrow strip in the shores, and mostly consists of sand, coral single and sandy mud. Here, the mangrove growth as a fringing mangrove community, e.g., in east shore of Lampung and South Sumatera and northern coast of West Java (LPP Mangrove, 2004).
Demikian, semoga bisa memberikan informasi yang lebih lengkap lagi, untuk menambah pengetahuan kita bersama tentang ekosistem mangrove yang wajib kita jaga kelestariannya, ini. Salam MANGROVER!
 
|
|
| November 25, 2009 | 7:11 AM |
|
|
 |
Tips Jitu Membedakan Avicennia dan Rhizophora!
|


 Semarang - KeSEMaTBLOG. Melalui Jaringan KeSEMaTONLINE, beberapa Rekan kami, (masih saja) menanyakan mengenai perbedaan Avicennia dan Rhizophora. Walaupun secara tersirat, di dalam Jaringan KeSEMaTONLINE, sudah seringkali ditampilkan foto-foto kedua spesies ini, namun nampaknya masih ada yang belum mengerti mengenai perbedaan Avicennia dan Rhizophora, terutama apabila dilihat dari segi fisiknya dari kejauhan. Baiklah, untuk lebih memperjelas perbedaan antara Avicennia dan Rhizophora, kami persilahkan Anda untuk melihat foto di atas. Dua buah tumbuhan di sebelah kiri, yang warna hijaunya lebih cerah, itu adalah Rhizophora. Demikian juga dengan pepohonan yang berada paling belakang yang berwarna sama, itu adalah (juga) Rhizophora (di masyarakat kita, lebih dikenal dengan istilah bakau). Sementara itu, tumbuhan yang berada di sebelah kanan, yang berbentuk membundar dan berukuran lebih besar dengan warna hijau agak gelap, itu adalah Avicennia.
Bagi orang awam, atau masyarakat yang memang tidak mendalami mangrove secara detail, memang terkadang agak sulit untuk membedakan yang mana Avicennia dan Rhizophora, terutama apabila dilihat dari kejauhan. Bentukan mangrove yang bergerombol dan berjajar di sepanjang pantai, (memang) akan nampak sama saja, kalau kita tidak cermat dalam mengamatinya. Namun demikian, jangan khawatir, kami memiliki tips jitu untuk membedakan Avicennia dan Rhizophora.
Tips jitu untuk membedakan Avicennia dan Rhizophora adalah dengan cara melihat akarnya! Akar Rhizhopora nampak jelas seperti lengan gurita atau cakar ayam yang menghujam ke tanah, sedangkan akar Avicennia, hanya terlihat samar bahkan terkadang tidak terlihat karena bentuknya yang mencuat dari akar tanah, bagaikan “pensil-pensil kecil.”
Silahkan Anda cermati kembali foto kami di atas. Foto vegetasi mangrove Tanggul Tlare - Jepara, yang memang sengaja kami ambil dari jarak jauh ini, memperlihatkan bahwa tumbuhan yang terletak di sebelah kiri, yang memiliki daun hijau cerah, memiliki tipe akar lengan gurita atau cakar ayam. Maka, dengan mudahnya, kami bisa mengenalinya sebagai Rhizophora. Lalu, tumbuhan yang berada di sebelah kanannya, yang di sekelilingnya dipenuhi dengan “akar-akar pensil” yang nampak keluar dari permukaan air, tentu saja, itu adalah Avicennia. Nah, mudah bukan?
Walaupun masih ada banyak lagi perbedaan, yang bisa diidentifikasi dari kedua jenis ini, namun perbedaan fisik akar inilah yang paling mudah dan gampang bagi KeSEMaTERS, terutama di saat menjawab pertanyaan pengunjung MECoK, yang datang ke pusat pendidikan mangrove kami, di Teluk Awur, Jepara. Demikian, semoga tips sederhana ini, bisa membantu Anda dalam mengenali dengan mudah dan cepat, yang mana Avicennia dan Rhizophora. Silahkan Anda mempraktekkannya dan selamat menjadi taksonom-mangrove, ya. Salam MANGROVER!
 
|
|
| November 24, 2009 | 3:11 AM |
|
Latest Posts
Monthly Archive
Change Language
Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove
Filter By Type
Friends
Links
169540 views
|
 |