TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
KeSEMaT UNDIP - My Blog
KeSEMaT UNDIP - My Blog
« previous 5


“Selamat Natal, Rhizophora”

Cemara dan Rhizophora adalah dua pohon yang sekilas sama, namun dengan nasib yang berbeda. Apabila Cemara menjalani hidupnya dengan penuh kesenangan dan kemewahan, tidak demikian dengan Rhizophora. Hidup Rhizophora selalu merana dan menderita sepanjang masa. Alkisah, Cemara dan Rhizophora saling bersahabat. Keduanya tinggal berdekatan di pesisir pantai Semarang, sebuah kota kecil di Jawa Tengah.

Cemara tinggal di sebuah rumah-pantai mewah milik keluarga Pak Alex Sastromihardjo, seorang pengusaha makanan terkenal di Semarang. Sementara itu, Rhizophora hidup susah bersama sisa-sisa keluarga besarnya, di pesisir pantai gundul, yang mengelilingi restoran dan rumah mewah tersebut.

Pak Alex, yang seorang Kristiani adalah seorang pengusaha yang sukses. Dia sudah memulai usahanya di tahun 60-an. Bersama dengan keluarga besarnya, bapak empat anak ini mengawali usaha restorannya, dengan membuka warung makan kecil-kecilan di sebuah gang sempit di kawasan Simpang Lima Semarang, yang padat. Dengan ketekunan dan ketelatenannya, akhirnya bapak berkumis tebal ini bisa mengembangkan warung makannya menjadi sebuah restoran jawa yang sukses. Restorannya yang memang khusus menghidangkan masakan tradisional jawa ini, mampu bertahan sampai dengan sekarang dengan tiga buah cabang di Ungaran, Demak dan Yogyakarta.

Namun sayang, akhir-akhir ini sifatnya yang pemurah, baik hati dan ramah mendadak berubah menjadi sombong, tamak dan mudah marah. Perubahan sifatnya ini dipicu kesuksessannya dalam mengelola restoran jawanya. Dia beranggapan, kesuksesan yang diraihnya sekarang adalah berkat hasil usahanya (sendiri) tanpa bantuan orang lain. Selain itu, kabarnya dia juga mulai iri sehingga suka uring-uringan melihat kesuksesan restoran Pak Kayam, saingan beratnya, yang kini maju pesat.

Sifat tamak dan sombongnya ini, diperlihatkannya sewaktu meresmikan cabang keempat restorannya di Kendal, beberapa hari yang lalu. Dalam pidato peresmiannya, dia mengatakan, “Apabila Anda ingin sukses seperti saya, satu tips yang bisa saya berikan, yakinlah pada diri Anda sendiri. Apabila ada saran dan kritikan dari orang lain, tampunglah segala krritikan itu tapi tak usah dilakukan. Saya yakin, Anda itu punya kekuasaan dan konsep pribadi yang benar. Percayalah pada kemampuan diri Anda sendiri! Satu contoh, sewaktu ada orang dari LSM meminta saya untuk tak menebang pohon bakau di sekeliling kolam pemancingan restoran saya di Demak, saya tak menggubrisnya. Saya tetap menebangnya dan menjadikan lahan bakau sebagai kolam pemancingan ikan yang luas. Hasilnya, tiga restoran saya tiap hari selalu ramai dengan omzet jutaan rupiah. Lihatlah, sebentar lagi, restoran yang akan saya resmikan ini, kolam-kolam pancingnya akan saya perluas lagi. Akan saya bangun lagi hingga beratu-ratus buah. Semuanya demi memuaskan Anda semuanya!”

Malam harinya, di rumah pantai yang mewah, ditengah hujan deras dan gemuruh gelombang pasang. Bu Alex dan kedua putranya Ardi dan Adam, memperbincangkan pidato ayah mereka siang tadi. Ketiganya mulai mencemaskan perilaku Pak Alex yang takabur dan sombong. Bahkan Adam yang sangat peduli dengan lingkungan, memprotes keras rencana ayahnya yang berniat menebang semua mangrove yang mengelilingi kolam pemancingan restoran mereka di Semarang.

“Kalau minggu ini, Bapak benar-benar akan menebang habis pohon mangrove yang ada di sisi kanan kolam pancing kita, maka kita tidak akan punya benteng lagi untuk membendung gelombang laut yang sewaktu-waktu bisa menghantam kolam pemancingan kita, Bu. Penebangan di dua hari menjelang Natal, juga tak baik dan terkesan tak menghormati Tuhan, Bu.”

“Ibu juga tahu, Dam. Tapi Ibu juga tak mau usaha bapakmu kalah saingan. Kamu tahu sendiri, usaha restoran Pak Kayam, saingan berat Bapak, kini maju pesat. Kalau sampai restoran Pak Kayam lebih maju dari kita, Bapak masih belum siap menerima kekalahan itu. Bapak harus bertindak cepat.”

“Ya, tapi caranya bukan dengan menebang mangrove, Bu. Pembenahan manajemen dan peningkatan cita rasa makanan dan pelayanan jauh lebih penting. Penebangan mangrove akan membahayakan hidup kita, Bu.Terlebih, sekarang ini musim barat. Air pasang, sewaktu-waktu bisa menenggelamkan restoran kita.”

“Ibu tahu, Dam. Tapi Bapak juga benar. Kalau kolam pemancingan tak diperluas lagi, tamu-tamu yang banyak berkunjung ke restoran kita, tak akan bisa tertampung lagi. Akibatnya, mereka akan lari ke restoran Pak Kayam di sebelah restoran kita itu.”

Pembicaraan Bu Alex dengan Adam dan Ardi masih berlangsung hingga larut malam. Tanpa sepengetahuan ketiganya, diam-diam Cemara yang sekarang ini tinggal di pojok rumah dengan berbagai perhiasan lampu dan pernak-pernik natalnya, sempat menguping dan mendengar semua pembicaraan Bu Alex dengan kedua putranya itu. Cemara sedih, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia mengkhawatirkan nasib Rhizophora sahabatnya.

Kalau benar, Pak Alex akan memperluas kolam pemancingannya, berarti dua hari lagi, Rhizophora akan menemui ajalnya. “Ya, Tuhan, mohon bukakanlah pintu hati Pak Alex. Jangan kau biarkan dia membunuh sahabatku, Rhizophora. Bertahun-tahun, dia telah hidup menderita di pesisir pantai itu. Keluarga Rhizophora telah banyak dibunuh demi memuaskan ambisi Pak Alex membangun restoran dan kolam pemancingannya. Jangan sampai ada yang terbunuh lagi, Tuhan. Tuhan, ijinkanlah dia berbahagia di hari Natal tahun ini. Tuhan, aku ingin sekali mengucapkan selamat Natal untuk dia. Jangan biarkan dia mati, aku ingin melihat dia bahagia di hari Natal ini,” begitu doa Cemara kepada Tuhannya.

Pagi harinya, Cemara sempat mengirimkan kabar kepada Rhizophora tentang apa yang didengarnya tadi malam. Rhizophora yang nampak lusuh dan terluka setelah menyelamatkan pesisir pantai dari abrasi akibat gelombang pasang semalam, nampak tersenyum mendengar kabar itu. Dia berkata,”Kamu tak usah cemas dan bersedih. Semua kejadian baik dan buruk yang terjadi dalam hidupku, selalu kupasrahkan pada Tuhan. Aku tak akan menolak, apabila Minggu ini, ajalku akan terenggut oleh pembantu-pembantu Pak Alex. Aku sudah sangat biasa melihat dengan mata kepalaku sendiri, pembunuhan dan pembantaian sadis yang dilakukan bapak kejam itu, kepada keluarga besarku. Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, dan keseratus lebih saudaraku, semua telah tewas di tangannya.”

Mendengar jawaban Rhizophora, Cemara tak kuasa menahan tangisnya. Dia terisak keras, sembari memikirkan nasib Rhizophora yang tak kunjung merasakan kesenangan. Semenjak dilahirkan di bumi ini, dia tak pernah merasakan bepergian ke luar kota atau keluar negeri layaknya dirinya yang sering diajak bepergian di musim liburan dan Natal. Rhizophora juga tak pernah dihias sewaktu Natal, dan tak pernah diselimuti dengan selimut tebal sebagai penghangat tubuhnya dari dinginnya malam. Jangankan diberi makan dan minum dengan gizi dan vitamin yang lengkap, untuk tetap bertahan hidup dari amukan gelombang saja sudah sulit. Sahabatnya itu, tak pernah pusing dengan kandungan gizi dalam makanan dan minumannya.

Memikirkan ini, Cemara kadang ingin berlari kemudian memeluk Rhizophora. Dia berharap, Tuhan bisa merubahnya menjadi seorang manusia yang baik, yang bisa melindungi dan merubah nasib tragis Rhizophra ke arah yang lebih baik.

Minggu pagi, di bawah rintikan hujan, Pak Alex bersama dengan pembantu-pembantunya bersiap-siap menuju ke rumah Rhizophora untuk mengeksekusi mati dia dan sedikit kerabatnya yang masih tersisa. Dengan membawa gergaji mesin dan beberapa buah peralatan tajam lainnya, dia segera menginstruksikan kepada anak buahnya untuk menebagi semua keluarga Rhizophora yang tanpa dosa itu. Satu persatu, keluarga pohon pesisir itu ditebangi, mulai dari akar, batang dan daunnya.

Cemara yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menatap nanar dari balik jendela kaca di dalam rumah mewahnya. Sudah kering air matanya dalam meratapi nasib sahabatnya. Tak kuasa melihat proses pembunuhan dan pembantaian Rhizophora dan keluarganya, dia menundukkan kepalanya sambil berdoa semoga Rhizophora sekarang tenang dan damai di surga dan berkata lirih, “Selamat Natal, Rhizophora. Aku yakin, sekarang kamu dan keluargamu sudah tenang di surga dibalut kasih Natal nan damai. Oh, Tuhan, selalu berkati dia. Amin. Rhizophora. Selamat Natal, ya. Tunggu aku di sana.”

December 27, 2007 | 8:12 AM Comments  0 comments



Too late and too little to protect mangroves

During the decade of the 1990s the Cambodian government, supported by the World Bank, tried to promote large-scale industrial shrimp farming in the coastline of the country. In 1993, The Mangrove Action project (MAP) helped to avoid that the Thai agri-business giant Charoen Pokphans opens up Cambodia’s mangrove coast to a black tiger prawn culture project. Nevertheless the idea was not abandoned, and new investors from Thailand subsequently financed intensive black tiger shrimp auaculture operations in Cambodia, importing equipment, expertise and even feed to that purpose. Koh Kong province, which shares an extensive border with Thailand, was invaded by shrimp farming ponds and the industry promised a future of prosperity for the region.

But in 1994, shrimp fever had reached Cambodia. Once again, like in Thailand and taiwan before, this desease became the biggest enemy of the intensive shrimp aquaculture industry. It was expected that further developments – which would mean further mangrove destruction – would be stopped.

The government itself admitted that the mangrove area in Cambodia had decreased from more than 63,000 hectares in 1992 to less than 16,000 in 1995, and the Ministry of The Environment blamed industrial shrimp farming for its depredatory activities, placing a temporary ban on new licences. However, shrimps farming licences were still being given by the Fisheries Department after 1995, and only recently as the situation was getting worse, new permits were prohibited.

Nowadays industrial shrimp pond – that were supposed to bring prosperity to Koh Kong province – have been abandoned where mangroves once flourished. Thai capitals have also left the country...probably to establish their industry somewhere else, where mangroves are still standing.

Fifty per cent of mangrove areas worldwide have already dissapeared and shrimp farming in one of the main causes for this enviromental disaster. How long do we have wait until further developments of this industry are halted for good? (WRM Bulletin N° 33, April 2000 - http://www.wrm.org.uy).

December 26, 2007 | 9:12 AM Comments  0 comments



Bisa sebesar apa mangrove itu?

Puluhan email yang masuk ke email KeSEMaT menanyakan satu pertanyaan yang sama, yaitu ”Bisa sebesar apa mangrove itu?” Untuk menjawabnya, kami mencoba memperlihatkan sebuah foto salah satu jenis mangrove bernama Sonneratia sp (oleh masyarakat di Jawa disebut dengan nama Pidada) yang diambil oleh KeSEMaTERS (baca: Sapto Pamungkas), ketika melakukan pengukuran diameter pohon di hutan mangrove Balikpapan, Kalimantan Timur pada bulan November 2007, lalu.

Lihatlah foto di samping ini. Salah seorang KeSEMaTERS lainnya yang berperan sebagai model pembanding (baca: Muhamad Iksan S. H.) nampak sedang melingkarkan kedua tangannya ke batang pohon Sonneratia tersebut. Walaupun sudah memaksimalkan panjang tangannya, namun terlihat jelas bahwa kedua tangan Ikhsan tak cukup panjang untuk bisa merangkul keseluruhan keliling batangnya.

Faktanya, dari hasil pengukuran yang dilakukan oleh kedua KeSEMaTERS tersebut terhadap pohon ini, diameternya mencapai 60 cm dengan ketinggian pohon mencapai 20 m. Wow! Dari hasil pengukuran ini, Anda bisa membayangkan sendiri, betapa besar dan tingginya pohon mangrove bernama Sonneratia ini.

Sebaliknya, selama ini, terutama di Pulau Jawa, apabila Anda sedang berwisata mengunjungi hutan mangrove, kemungkinan Anda hanya bisa menemukan jenis ini pada ketinggian yang tak lebih dari 3 m dengan diameter dan keliling yang kecil pula. Sebagai catatan, KeSEMaT mencatat ketinggian Sonneratia spp di Rembang, yang notabene diklaim sebagai salah satu hutan mangrove (buatan) terlebat di Pulau Jawa, rata-rata diameternya hanya mencapai tak kurang dari 20 cm dengan ketinggian 8 m. Coba Anda bandingkan diameter dan tinggi pohon di Rembang (Jawa) ini dengan di Balikpapan (luar Jawa). Sangat jauh berbeda, bukan?

Kita di Jawa ini, umumnya hanya melihat pohon mangrove yang pendek-pendek dengan rata-rata ketinggian tak lebih dari 10 m. Ulah oknum manusia, kondisi substrat yang telah berubah akibat pencemaran di sana-sini, reklamasi pantai, penebangan liar dan faktor-faktor destruktif lainnya, adalah penyebab utama mengapa mangrove-mangrove di Jawa tidak bisa hidup dengan leluasa.

Dari dua kenyataan di atas, bisa dibuat suatu kesimpulan sederhana bahwa mangrove apabila sesuai benar dengan kondisi alam sekitarnya, dia sangat mampu untuk tumbuh dengan baik dan maksimal, sehingga bisa tumbuh raksasa layaknya Sonneratia di luar Jawa. Namun demikian, apabila lingkungan sekitarnya tak mendukung, dia hanya akan hidup kerdil dan kecil-kecil seperti di Jawa.

Jadi, apabila Anda ingin mencari tahu jawaban yang tepat atas pertanyaan Anda, ”Bisa sebesar apa mangrove itu?” Kami anjurkan supaya Anda bisa pergi ke luar Jawa seperti ke Kalimantan, Sulawesi dan atau Papua, untuk bisa melihat pertumbuhan pohon-pohon mangrove yang luar biasa tinggi dan besarnya, yang (semoga) di beberapa tempat masih sedikit dicampuri oleh ulah kotor oknum tangan-tangan manusia. Selamat berkunjung ke sana.

December 25, 2007 | 9:12 AM Comments  0 comments



Bukan pemecah gelombang dengan rasa yang mahal tapi pemecah gelombang dengan rasa kearifan lokal

Beberapa email yang masuk ke KeSEMaT, menanyakan kepada kami mengenai pemecah gelombang (break water), yang seringkali dipakai di daerah-daerah pesisir, namun tak juga efektif dalam menahan laju gelombang. Ketidakmampuan Pemecah Gelombang (PG) dalam meredam gelombang-gelombang besar, mereka klaim sebagai suatu usaha pemerintah yang sangat sia-sia dan membuang-buang uang (baca: memboroskan uang rakyat). Umur PG yang tak bisa berumur panjang alias tak tahan lama, adalah alasan utama mengapa anggapan ketidakefektifan PG ini, mengemuka.

Selanjutnya, mereka minta kepada pemerintah untuk bisa membuat PG yang lebih tepat dan bisa tahan lama sehingga tak mudah rusak demi menjaga pantai dari abrasi berbahaya. Dari pengalaman KeSEMaT di lapangan, kami melihat, sebenarnya pemerintah sudah dalam koridor yang benar, dalam pembuatan PG. PG yang dibuat oleh pemerintah yang kemudian bekerjasama dengan masyarakat setempat, sudah sesuai benar dengan asas pembangunan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Contoh kasus di Morodadi Demak. Pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh salah satu departemennya bernama Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), telah bekerjasama dengan LSM lokal, internasional (baca: OISCA, sebuah LSM dari Jepang) dan beberapa kelompok masyarakat setempat untuk bisa menerapkan prinsip kearifan lokal.

DKP berhasil mengajak semua elemen masyarakat untuk bekerja bersama-sama dalam mengatasi permasalahan rob yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan desa mereka. Berbagai kegiatan pembangunan fisik telah dilakukan seperti pembuatan PG, pembangunan sarana pendidikan, penanaman mangrove, pembuatan WC umum, dan pembangunan fisik lainnya.

Khusus untuk PG, beberapa buah PG telah dibangun di sepanjang pesisir pantai Morodadi untuk menahan gelombang air laut (lihat foto di atas). PG dibuat dengan cara menyesuaikan kondisi dan keadaan masyarakat setempat. Dalam arti, PG adalah hasil cipta dan karya masyarakat sendiri sehingga tak lantas dibuat dari beton (sehingga bisa menghasilkan PG gelombang hebat bernama sea-wall) seperti layaknya di Belanda.

PG di Morodadi Demak (dan kebanyakan di Indonesia) dibuat dari bambu dan ban-ban bekas yang banyak ditemui di Morodadi. Struktur kerangka dan modelnya juga sangat sederhana, yaitu beberapa buah bambu ditancapkan ke dalam tanah kemudian digabungkan menjadi satu dengan menggunakan ban-ban bekas. Penggunaan bambu dan ban-ban bekas yang dibeli dari masyarakat setempat memang disengaja, agar masyarakat ikut terlibat dan merasa memiliki PG-PG tersebut sehingga mereka akan selalu menjaga dan menggantinya, apabila sewaktu-waktu ditemukan kerusakan.

Jadi, apabila kualitas PG tak terlalu baik, dan (memang) tak begitu efektif dalam menangkal gelombang pasang, mungkin kita perlu juga maklum. Selain menyesuaikan dengan anggaran dana (yang menurut pemerintah selalu saja mepet), bentuk PG-PG yang ada di Indonesia umumnya juga tak ada standar bakunya, alias berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Maklumlah, ini disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.

Secara kualitas, memang PG di Demak ini tak begitu bagus (tapi tak jelek juga), karena hanya tahan dalam beberapa waktu saja. Sebagai informasi, dalam beberapa bulan mendatang, PG-PG inipun akan segera diganti dengan yang baru, karena kondisinya yang memang sudah tidak mampu lagi dalam meredam gelombang pasang yang semakin hari semakin ganas.

Namun demikian, satu hal yang harus kita ingat bahwa proses terciptanya PG-PG tersebut tak hanya memikirkan tentang kualitas PG belaka, namun juga disesuaikan dengan konsep kearifan lokal yang tentu saja, sangat jauh lebih penting. Jadi, PG-PG yang ada di Indonesia tentu saja tak sama dengan PG-PG di negara-negara maju yang mungkin pembangunan PG-PG-nya sudah sangat modern dengan menggunakan beton-beton sehingga sangat aktif sekali dalam menangkal gelombang air laut dan mencegah pantai dari abrasi.

Selanjutnya, PG-PG di Indonesia dibangun dengan pemikiran begini: “Apabila PG-PG dibangun tanpa adanya kearifan lokal, maka masyarakat sekitar tapak tak akan ada yang merasa memiliki dan merawatnya sehingga penggunaannya juga akan sia-sia belaka.” Memang tak ada salahnya, apabila kita menuntut pemerintah untuk memperbaiki PG-PG yang telah ada. Namun, ada baiknya juga apabila kita mencoba mengusulkan kepada pemerintah tentang bentuk standar fisik PG yang baik dan efektif dalam segi kualitas (tapi biaya pembangunannya mohon jangan terlalu mahal juga, karena katanya pemerintah tak punya cukup uang) yang tetap merujuk kepada kearifan lokal.

Kesimpulannya, walaupun masih dalam taraf pro dan kontra, sekarang ini, Indonesia lebih memerlukan PG dengan rasa kearifan lokal dan bukanlah PG dengan rasa yang mahal. Sebagai Rakyat Indonesia, semoga kita semua diberi kekuatan dan kesabaran untuk (selalu) bisa bijaksana dalam menerimanya dan (juga selalu) tetap memakluminya. Amin.

December 24, 2007 | 8:12 AM Comments  0 comments



Mangroves are our friends
Related to country: Indonesia

Translations available in: English (original) | French | Spanish | Italian | German | Portuguese | Swedish | Russian | Dutch | Arabic

Let's save our mangrove. Now!

December 23, 2007 | 1:02 PM Comments  0 comments

Tags:


« previous 5


KeSEMaT's Profile

KeSEMaT's Friends


Latest Posts
Mari Bersama...
MANGROVER, Ayo Terus...
Press Release,...
KeSEMaTER Gathering di...
KeSEMaT Hadiri Ulang...

Monthly Archive
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
November 2011
December 2011
January 2012
February 2012

Change Language


Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove

Filter By Type
Travel
Topics

Friends
Abdullah Ali Hbahbeh
Adam MacIsaac
Anita
Bhattarai Ganga
Bhuwan
Christopher Walter
Damian Profeta
Dave Matthews
Diogo Andre
GSimon
harya
Michael Furdyk
Mohamed Elkashash
saevul amri
Shakti

Links
KeSEMaTPORTAL


169577 views
Important Disclaimer