TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
KeSEMaT UNDIP - My Blog
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Pembagian zonasi mangrove berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangan air pasang

Beberapa penikmat KeSEMaTBLOG, seringkali menanyakan kepada kami tentang pembagian ekosistem mangrove. Selain dilihat dari komponen vegetasinya (mangrove mayor, minor dan asosiasi), apakah mangrove juga bisa dibagi menurut karakteristiknya yang lain? Kami jawab, bisa. Memang, selain dilihat dari komponen penyusunnya, mangrove bisa juga dibagi berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangannya. Menurut Brown (2006), penelitian yang dilakukan oleh Watson (1982), menyebutkan bahwa berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangannya, mangrove dibagi menjadi lima kelas.

Kelima kelas itu adalah (1) Kelas 1, adalah mangrove yang digenangi oleh seluruh level air dengan ketinggian 2,44 m dan frekuensi genangan 56-62 kali per bulan; (2) Kelas 2, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian sedang dengan ketinggian 3,35 m dan frekuensi genangan 45-59 kali per bulan; (3) Kelas 3, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian normal dengan ketinggian 3,96 m dan frekuensi genangan 20 - 45 kali per bulan; (4) Kelas 4, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian besar dengan ketinggian 4,57 m dan frekuensi genangan 2-20 kali per bulan; dan (5) Kelas 5, adalah mangrove yang digenangi oleh air saat terjadi pasang besar /abnormal (equinoctial tide) dengan ketinggian 15 m dan frekuensi genangan 2 kali per bulan. Berikut ini adalah contoh aplikasinya, pada hutan mangrove di Indonesia.

Kelas 1. Mangrove dalam kelas ini tergenang oleh semua ketinggian air. Spesies dominan yang tumbuh di sini adalah Rhizophora mucronata, R. stylosa dan R. apiculata. Untuk R. mucronata lebih banyak tumbuh pada areal yang lebih banyak pasokan air tawar. Di Indonesia Timur, Avicennia spp dan Sonneratia spp mendominasi zona ini.

Kelas 2. Mangrove pada kelas ini digenangi oleh tingkat air dengan ketinggian sedang. Spesies utama yang tumbuh adalah Avicennia alba, A. marina, Sonneratia alba, dan R. mucronata.

Kelas 3. Digenangi oleh ketinggian air normal. Kebanyakan spesies bisa tumbuh dalam ketinggian ini. Sebagian besar spesies mangrove tumbuh di sini sehingga tingkat keragaman hayati tinggi. Spesies yang paling umum adalah Rhizophora spp (seringkali dominan), Ceriops tagal, Xylocarpus granatum, Lumnitzera littorea, dan Excoecaria agallocha.

Kelas 4. Genangan hanya terjadi pada saat air tinggi. Spesies yang umumnya dapat tumbuh di sini adalah Bruguiera spp, Xylocarpus spp, Lumnitzera littorea, dan Excoecaria agallocha. Untuk Rhizophora spp, jarang ditemui di areal ini karena lahannya terlalu kering untuk tumbuh.

Kelas 5. Genangan hanya terjadi pada saat air pasang besar. Spesies utama adalah Bruguiera gymnorrhiza (dominan), Instia bijuga, Nypa fruticans, Herritera littoralis, Excoecaria agallocha dan Aegiceras spp.

Dari pembagian zonasi mangrove ini, bisa dilihat bahwa di habitat aslinya, mangrove tak bisa hidup secara sembarangan. Dengan kata lain, mangrove hidup di ketinggian dan genangan air pasang yang berbeda. Kesalahan survey dalam pekerjaan pra rehabilitasi mangrove dan cara penanaman yang tidak sesuai dengan pembagian kelas mangrove seperti di atas, bisa mengakibatkan kegagalan program rehabilitasi mangrove secara keseluruhan.

KeSEMaT menyarankan, sebelum melakukan pekerjaan konservasi mangrove, dilakukan terlebih dahulu survei ketinggian dan frekuensi genangan air pasang secara benar. Setelah didapatkan data yang akurat, barulah dilakukan penanaman mangrove yang titik-titik penanamannya disesuaikan dengan kelas-kelas mangrove (lihat foto di atas, pada saat para peserta Mangrove REpLaNT 2007 KeSEMaT melakukan penanaman mangrove di Teluk Awur Jepara).

Sebagai tambahan, masing-masing spesies mangrove tumbuh pada ketinggian substrat yang berbeda dan pada bagian tertentu tergantung pada besarnya paparan mangrove terhadap genangan air pasang. Untuk itu, kita perlu mempelajari tabel air pasang di daerah masing-masing dan mulai melakukan pengukuran di areal mangrove yang masih bagus dalam kaitan anatar ketinggian substrat dengan berbagai spesies mangrove yang tumbuh pada setiap kedalaman. Salah satu kunci penting yang harus dilakukan ketika melakukan rehabilitasi mangrove adalah mencontoh tingkat kemiringan dan topografi substrat dari mangrove terdekat yang ,masih bagus kondisinya. (Brown, 2006).

Selamat mempraktekkan penanaman mangrove yang sesuai dengan ketinggian dan frekuensi genangan air pasang di mangrove. Mari selamatkan ekosistem mangrove kita. SEKARANG!

April 30, 2008 | 10:04 AM Comments  0 comments

You must be logged in to add tags.


KeSEMaT's Profile

KeSEMaT's Friends


Latest Posts
Mari Bersama...
MANGROVER, Ayo Terus...
Press Release,...
KeSEMaTER Gathering di...
KeSEMaT Hadiri Ulang...

Monthly Archive
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
November 2011
December 2011
January 2012
February 2012

Change Language


Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove

Filter By Type
Travel
Topics

Friends
Abdullah Ali Hbahbeh
Adam MacIsaac
Anita
Bhattarai Ganga
Bhuwan
Christopher Walter
Damian Profeta
Dave Matthews
Diogo Andre
GSimon
harya
Michael Furdyk
Mohamed Elkashash
saevul amri
Shakti

Links
KeSEMaTPORTAL


169417 views
Important Disclaimer