TIGblogs TIG | TIGblogs GROUP TIGBLOGS LOGIN SIGNUP
KeSEMaT UNDIP - My Blog
KeSEMaT UNDIP - My Blog
Lumpurku, lumpurmu, lumpur kita semua

Sewaktu di lapangan, beberapa mitranya KeSEMaT, seringkali berkelakar, “Kalau KeSEMaT sedang mengerjakan program-program mangrove-nya, pastilah badan pesertanya akan belepotan lumpur dan kotor sekali.” Tersenyum simpul, kami menganggukkan kepala, tanda setuju. Mempercayai pendapat bahwa kotor itu baik dan kalau tidak kotor maka kita tidak bisa belajar, kami melanjutkan kelakar tadi dengan menjelaskan di balik kekotoran baju kami, terkandung sebuah pesan moral yang mendalam, yaitu untuk lebih menyatu dengan setiap detik, nafasnya mangrove. Bagaimana mungkin, kami bisa merasakan penderitaannya mangrove, apabila kami tidak menerjunkan diri kami ke tempat hidupnya secara langsung, yaitu lumpur-lumpurnya yang dalam (?).

Sebenarnya, bisa saja kami tak berkotor-kotor ria seperti itu, dengan cara hanya mencelupkan kedua kaki-kecil kami di pinggir-pinggir pesisir. Tapi, kalau kami bertindak demikian, kasihan sekali bayi-bayi mangrove kami. Mereka tak akan bisa mendapatkan tempat yang layak bagi pertumbuhan mereka. Artinya, kalau kami tak masuk ke lokasi mangrove yang dalam, maka bibit-bibit mangrove tidak akan bisa tertanam dengan baik dan benar.

Sebagai infrormasi, sudah berapa banyak calon pohon mangrove yang mati, karena tak tertanam dengan sempurna. Penanaman dilakukan asal-asalan dengan cara tak diikatkan ke ajir dengan tali rafia dan juga tak ditanam di lumpur yang dalam, melainkan hanya diletakkan di atasnya, saja! Apakah ini yang kita inginkan. Tentu tidak, bukan?

Lihatlah foto di atas ini. Foto ini diambil oleh KeSEMaT, sesaat setelah para KeSEMaTERS dan KeMANGTEER (KeSEMaT’s Mangrove Volunteer) selesai melakukan penanaman mangrove di Genuk Semarang, pada saat Mangrove Restoration (MANGRES) 2008. Lihatlah, seluruh badan mereka memang penuh dengan lumpur!

Setiap saat, setiap waktu, kami memang selalu berbelepotan dengan lumpur saat bekerja di lapangan. Jujur, itu semua tak kami sengaja, namun berjalan dengan sendirinya. Kami hanya mencoba tak mau bermain-main dengan kelulushidupan mangrove. Begitu selesai menanam, kami menanggung beban moral yang sangat amat berat karena bertanggung jawab akan hidup matinya bayi-bayi mangrove kami.

Kalau saja, ada orang yang beranggapan bahwa menanam mangrove bisa dilakukan tanpa berkotor-kotor ria, maka kami malah meragukan kualitas program penanaman mereka. Jangan-jangan, akar-akar dari bibit-bibit mangrove itu tak dimasukkan ke dalam tanah melainkan hanya diletakkan begitu saja pinggir-pinggir pesisir. Semoga tidak, ya. Salam MANGROVER!

September 9, 2008 | 10:09 AM Comments  0 comments

You must be logged in to add tags.


KeSEMaT's Profile

KeSEMaT's Friends


Latest Posts
Mari Bersama...
MANGROVER, Ayo Terus...
Press Release,...
KeSEMaTER Gathering di...
KeSEMaT Hadiri Ulang...

Monthly Archive
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
June 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
November 2011
December 2011
January 2012
February 2012

Change Language


Tags Archive
belajarmangrove beritaterbarukesemat ceritamangrovekesemat cerpenmangrove jualanmangrove kesematinformationcenter mangrovearticle tanyajawabmangrove

Filter By Type
Travel
Topics

Friends
Abdullah Ali Hbahbeh
Adam MacIsaac
Anita
Bhattarai Ganga
Bhuwan
Christopher Walter
Damian Profeta
Dave Matthews
Diogo Andre
GSimon
harya
Michael Furdyk
Mohamed Elkashash
saevul amri
Shakti

Links
KeSEMaTPORTAL


169409 views
Important Disclaimer